Jumat, 01 Mei 2020

Pilihan menjadi Ibu Bekerja ( Working Mom)


Bertahan Atas Sebuah Pilihan



Mencintaimu bahkan sebelum perjumpaan kita. Itulah ketulusan cinta yang akan aku persembahkan untukmu, Nak. Buah hati yang kami nanti. Dalam hitungan hari dan putaran bulan. Dan semua begitu indah dan berwarna, saat pecah tangismu hadir di dunia. Rasa-rasanya baru kemarin. Tiap pagi bermalas-malasan, jarang sekali tidur di atas jam sembilan bahkan agenda weekend berdua menjadi sesi romantis yang tak ketinggalan mengisi ruang waktu kami. Tapi tahukah kau,Nak? Seolah semua berbalik. Keteraturan yang kami ciptakan berantakan begitu saja. Mata panda dan kerempongan pagi menjadi pengisi diary hari-hari kami.  Menjadi working moms adalah pilihanku. Ayahmu paham betul itu. Perempuan enerjik yang tidak bisa dibatasi tembok yang bernama rumah. "Aku butuh ruang untuk mengeksplore kemampuanku," prinsipku kala itu. Dan ayahmu mengangguk diiringi senyum tanda setuju.


Kau hadir membawa cerita lain, Nak! Berada dalam kesibukanku saat ini membuatku harus pandai manajemen waktu. Belum lagi pemberian ASI ekslusif adalah impianku. Bukan hal mudah, karena aku harus siap ASIP sebelum masa cutiku habis. Padahal stok menipis di usiamu menjelang 6 bulan. Drama MPASI pun menjadi warna perjuangan kita. Delapan jam bergelut di balik meja. Sambil menerawang sedang apakah kau di sana? Tentu bukan hal mudah, merelakanmu berlama-lama di tempat kau habiskan waktu bersama para gurumu. Padahal aku ingin menjadi saksi pertama akan tumbuh kembangmu. Pertemuan penuh kita hanya hari Minggu. Dua puluh jam bukanlah waktu yang lama untuk menanamkan banyaknya nilai-nilai dalam kharaktermu. Dan mungkin inilah jalan-jalan juang kita. Drama demi drama kita lalui bersama. Terima kasih Sholih, kau anak hebat. Begitu pula Ayah, laki-laki sederhana itu ringan tangan membantu. Sesi pagi adalah waktu paling krusial bagi kami. Petualangan demi petualangan menjadi cerita esok hari.

           Ya! Adalah sebuah keniscayaan jika dalam hidup berumah tangga akan merubah banyak hal dalam hidup kita. Siap menikah maka siap jadi orang tua! Adalah konsekuensi logis bahwa setiap pilihan selalu mengandung resiko. Sekecil apapun, itulah yang disebut pilihan yang bertanggung jawab. Sebagaimana yang aku hadapi saat ini. Memilih membesarkanmu dengan cara kami. Dan petualangan menjadi orang tuapun dimulai. Awalnya cukup kesulitan, jauh dari kedua orang tua dan sanak saudara. Namun tak hilang akal, teknologi dan kawan seperjuangan menjadi tempat bertukar pikiran dan menimba ilmu. Entah berapa puluh artikel, diksusi dan grup-grup yang aku ikuti untuk menyiapkan diri menjadi ibu sejati. Dan salah satunya adalah pemberian ASI untuk buah hati. Sejujurnya, aku tak kontra dengan sufor tapi selama aku bisa memberikan yang terbaik dari Tuhan. Tentu itulah jadi prioritas yang aku lakukan. Dan selalu ada jalan di setiap azam yang melekat. Beruntungnya, tempat kerja memberikan kemudahkan dengan membolehkanku menjengukmu di sela jam istirahatku. Meski harus bolak balik dari tempat kerja ke tempat kau bermain, namun semua terbayar saat kau teguk tetesan ASI itu dengan wajah sumringah.

           Nak, tahukah kau? Sejak kehadiranmu tak ada lagi kata bermalas-malasan dalam kamus pagiku. Saat adzan Subuh berkumandang, alat tempur di arena dapur harus sudah mulai bekerja. Karena aku hanya punya waktu dua jam untuk menyiapkan bekal, nyuci piring atau bahkan nyuci baju. Awalnya kesulitan, karena tak terbiasa. Ini bab tanggung jawab sayang, atas sebuah pilihan yang kita buat. Semoga kelak kau mengerti arti dari sebuah pilihan. Kau harus pandai menyiasati hal rumit agar terlihat lebih sederhana. Sebagaimana yang kulakukan sekarang Nak! Mempersingkat jarak tempuh antara tempat kita tinggal, tempatmu bermain dan tentunya tempatku berkarya contohnya. Bisa dibayangkan betapa sibuknya aktifitas pagi kita. Jika sudah dikejar waktu kita tak perlu bergelut dengan kemacetan jalan bukan?  Hikmahnya, agenda pagi jadi lebih efektif. Pun terbangun kerjasama yang kompak antara kita bertiga. Kau, Bunda dan Ayah. Seseruan di pagi hari menjadi kenikmatan tersendiri kini.

           Sholihah, maafkan aku jika belum bisa membersamaimu sepanjang waktu. Namun percayalah, rasa sayang tak pernah berkurang. Setiap kebersamaan denganmu selalu berisi cerita seru. Inilah yang membuatku tak ingin melewatkan itu. Namun ada sedikit rasa egois dalam diri. Karena satu dan lain hal, aku harus bekerja Nak. Maafkan aku jika belum bisa membersamaimu di tiap waktu. Namun yakinlah, aku akan selalu menjadi manusia pertama yang akan menyaksikan perkembanganmu. Saat kata pertamamu, saat langkah pertamamu dan setiap hal pertama dalam hidupmu. Karena aku sangat menyayangimu. Perlu kau ketahui Nak. Bahwa hidup kadang membawa kita pada pilihan yang sedikit kurang menyenangkan. Namun kita bisa merubahnya menjadi suatu hal positif yang membawa keberkahan. Aku sadar bukanlah seorang ibu yang sempurna, tapi aku akan berusaha menjadi manusia yang bisa kau andalkan. Menjadi pendukungmu di setiap perjuanganmu. Itulah janjiku. Sesibuk apapun aku di luar sana, kau adalah prioritas utama. Aku berharap kau menjadi pribadi yang membanggakan karena kharakter yang melekat dalam dirimu Nak. Kharakter  baik tentunya.

Oleh Hamimeha

.: salah satu tulisan dalam buku Antologi Wonderfull Moms..:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maturnuwun sudah berkomentar dengan baik. Kata-katamu cerminan kepribadianmu :)