Refleksi Kemerdekaan

 Jiwa yang Terjajah di Negeri Merdeka


Hati siapa tak tersakiti kepada mereka yang membunuh paman yang disayangi. 

Siapa tak menyimpan dendam kepada mereka yang telah kejam.

Membalas setiap perbuatan dzolim sangat mampu ia lakukan.



Karena,

di tangannya tergenggam kekuasaan. 

Bertahta di wilayah yang sudah tertaklukkan.

Sebuah kemenangan. Diraih tanpa peperangan. 

Bahkan banyak lawan berbalik arah menjadikannya panutan. 


Apa sebabnya?


Karena dialah ksatria yang merdeka jiwa dan raga. Dia tak ingin penyakit hati bersarang memenjara jiwa besarnya. Sebuah kemenangan atas negeri yang telah ditaklukan bukanlah ajang pembalasan. Hatinya memilih untuk memaafkan. Jiwanya merdeka tanpa tekanan akan masa lalu yang kelam.


Siapakah dia?


Rasululloh. 


Sudahkah kita menirunya?

Sudahkan jiwa kita merdeka?


Jangan-jangan kita adalah jiwa yang terjajah di negeri merdeka. Raga kita lepas namun jiwa kita tak bebas. Terpenjara oleh penyakit hati yang menyelimuti.


Lantas? 

Dimana arti merdeka dalam diri kita?

Mari mengilhami kembali hakikat diri.

Merenungi, siapakah yang kita teladani selama ini?


Refleksi 75 tahun Indonesia Merdeka

🇮🇩Dirgahayu negeriku🇮🇩


Sumber : Buku Balita Berakhlak Mulia 

Jilid 11 dengan judul " Pemaaf Seperti Rasululloh"


#merdekaataumati

#teladanRasulullahdanparasahabat

#Komunitas_Cinta_Anak


#pemenang Ke-3 challenge Refleksi Kemerdekaan oleh Tim Komunitas Cinta Anak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tummy Time, Penting Gak Sih?