TIPS MEMBANGUN PENGALAMAN PRA MEMBACA YANG MENYENANGKAN

 Mengawali sharing kali ini, coba saya buka dengan sebuah ungkapan sederhana dari Bunda Elly Risman.

" Mengasuh itu membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan."


Jelb!
Itulah yang aku rasakan saat pertama membaca quote tersebut. Apa sebab? Karena beramanah menjadi ortu itu tidak mudah, begitu pikirku saat itu. Namun seiring berjalan waktu, agar apa yang kita lakukan tak menjadi beban. Maka lets do it!

Ya!
Apapun yang kita lakukan dengan menyenangkan akan terasa lebih ringan dikerjakan. Betul bukan?
๐Ÿ˜

Nah, begitu pula yang terjadi pada anak-anak kita. Pengalaman membaca yang menyenangkan akan membekas dan itu memudahkan kita saat ia dewasa kelak.

Banyak ku temui, beberapa keluhan sebagian besar ortu baik langsung maupun di dunia maya.

" Anakku dulu itu cerdas lho! Bahkan di usia 3 tahun sudah hafal huruf, bisa membaca semua buku yang dia lihat"

Atau kalimat-kalimat serupa.
Namun, kemudian ada lanjutkan kalimatnya.

" Aduh,! Kenapa kok susah sekali di ajak belajar sih."

" Kan tinggal baca aja!"
" Sulit sekali diajak belajar, nunggu bundanya ngomel-ngomel dulu!"

Nah nah, keluhan-keluhan semacam ini familiar lho bun kita dengar. Atau pernah ngalamin? Ehhehe..

Gakpapa gak ada yang terlambat. Kita perbaiki diki-dikit. Tapi jika saat ini ananda masih usia bayi atau balita alangkah baiknya jika kita merubah atau memperbaiki cara kita mengajari dia untuk proses membaca ini.

Kata Ustdz Faudzil Adzim dalam bukunya "Membuat Anak Gila Membaca". Beliau menuliskan: 
Ehm, jelas ya!
๐Ÿ˜€ nah inilah yang membuat saya semangat memberikan pengalaman pra membaca pada kakak.
Adanya banyak metode kata beliau. Tapi apapun metodenya, jika tidak ada keterlibatan orang tua maka hasilnya tidak maksimal.

Salah satu metode yang coba saya terapkan ke anak pertama saya adalah metode WPB.

Apaan tuh?  
Wordless Picture Books

Buku yang dirancang lebih banyak ilustrasi dan minim kata. Paduan warna dalam gambarpun lebih berwarna dan meriah. Khas buku anak-anak yang menarik perhatian. Jadi metode WPB ( Wordless Picture Books ) yaitu metode dalam memberikan pengalaman pramembaca dengan menggunakan buku bergambar namun sedikit kata. 


๐Ÿ”—Ada tiga cara efektif membuat aktivitas belajar rasa bermain lho!
( versi pengalaman saya y Bun๐Ÿ˜€)

Pertama, menggunakan media gambar.
Alhamdulillah, SDI menghadirkan BBM di tengah-tengah kita. Dibuat sesuai dengan kebutuhan anak usia dini. Caption yang gak begitu panjang, menggunakan kalimat berima serta ilustrasi yang penuh warna. Ditambah lagi, bahan buku yang aman untuk balita. Jadi membuat kita tidak kuatir saat anak memegangnya.

Plus!
Ada kartu akhlaknya, nah ini bisa jadi media kita. 


Pasalnya, ilustrasi atau gambar itu membangun imajinasi anak.

Imajinasi adalah piranti kesiapan anak untuk trampil bersosialisasi dan berkomunikasi, mampu berpikir kreatipf dan menganalisa, lebih percaya diri, mandiri, mampu bersaing, serta memunculkan bakat anak ( BunA,2019)

Wow, Dahsyatnya imajinasi!
Perlu kita pahami, dunia anak itu bermain dan fantasi๐Ÿ˜Š. Insya Alloh, anak bakal ketagihan๐Ÿ˜
Karena belajarnya rasa bermain. 


Kedua, menyanyi!
Hihihi, menjadi seorang ibu siap-siap jadi biduan dadakan ya. Tiba-tiba mahir menggubah syair. Duh, kebayang tidak bakal merubah lagu balonku jadi lagu rukun islam, tepuk pramuka jadi tepuk islam dan lain sebagianya. 

Anak-anak itu dasarnya suka yang "meriah", coba kita tengok sekolah-sekolah paud. Bawaannya ceria, rame dan tentu nyanyi. 

Karena menyanyi adalah sarana mudah bagi anak menghafal sesuatu. 
Nah, asyikkan.๐Ÿ˜„

Alhamdulillah aktifitas nyanyi-nyanyi ini cukup ampuh dan masih saya lakukan untuk kakak. Seperti mengenal huruf abjad, angka maupun huruf hijaiyah juga sambil menyanyi.

Insya Alloh, apapun aktivitas kita asal anak merasa dibersamai itu adalah "sesuatu yang berharga" bagi anak kita kok Bun. Dan itu akan membekas. 

Dan sependek pengalaman mengajar dulu, menyanyi adalah salah satu jurus bagi saya mengajar dengan anak-anak hehehe. Alhamdulillah ternyata murid2 terlihat senang saat belajar sambil menyanyi. ๐Ÿ˜„. Ini ceritanya, anak sekolah dasar ya, kelas paling atas ๐Ÿ˜€

Terakhir, diskusi dan telling story
Jadi, biasanya saya akan meminta kakak mengulang apa yang sudah kami baca bersama. Tidak harus di waktu yang sama ya, habis baca buku langsung dia kita minta untuk mengulang cerita.

Jangan y bu๐Ÿคญ, ntar malah trauma lagi heheheh..
Lets it flow aja, ngalir kayak air.

Kegiatan ini akan mengembangkan kemampuan Analitis. Kita awali dengan diskusi mengenai topik cerita yang dibaca. Diskusi merupakan alat hebat untuk membentuk anak jenius.
Apa yang kita diskusikan?
1. kesannya atas cerita
2. kesannya atas tokoh dalam cerita
3. bercerita kembali dg bahasanya.

Jangan lupa dengan poin bahwa, yang sedang kita tanamkan bukan cepat bisa membaca huruf tapi bagaimana anak memahami apa yang dia baca.

Ternyata diskusi diatas mampu membangun ketrampilan berpikir atau *problem solving* pada anak .

Apresiasi!

Penting untuk tidak membuat anak merasa kurang dalam hal apapun, tanpa terasa anak akan terasah kemampuan analisanya.


Alhamdulillah, tiga tips receh di atas adalah yang saya coba lakukan. Apakah berhasil?

Sejauh ini, hingga kakak usia tiga tahun lebih. Membaca buku, kecintaannya terhadap buku ternyata masih menjadi daya tarik besar.

Apakah dia tidak kenal gadget?
Kenal!
Tertarik dengan youtube.

Namun jauh lebih mudah untuk diarahkan.
Saya bisa menyampaikan ini karena bebrapa kali melihat anak seusianya yang "maaf" banyak berinteraksi dengan gadget dan minim diajak membaca. Alhasil, terlihat anak sulit di arahkan. Bahkan anak yang lainnya, belajar adalah suatu hal yang "membosankan dan tidak menyenangkan".

Akibatnya, tiap belajar nangis.

Sedih!

Semoga kita bisa belajar dari hal tersebut.
Pamungkas, menukil dari buku Ust Faudzil Adzim

Tak penting berapa banyak kata yang telah mampu ia baca, dan berapa banyak huruf yang ia kenal dengan baik. Yang paling penting adalah membuatnya mengerti bagaimana huruf-huruf itu bisa menghasilkan bunyi kata, dan bagaimana rangkaian kata bisa membentuk satu pengertian yang bermakna. Dengan demikian, ketika kelak anak lancar membaca, tidak hanya membunyikan huruf dan kata-kata, tetapi memang benar-benar memahami maksud kalimat.

(Ustaz Fauzil Adhim - Membuat Anak Gila Membaca, hal. 252)


 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tummy Time, Penting Gak Sih?