Cinta Anak Pertama

 


"Emang Bunda gak sayang Kakak?" teriaknya sambil menahan isak tangis.

Deg!

Kalimat apa yang kudengar barusan? Awal mendengar dia mengeluarkan pernyataan itu membuat aku terhentak dari ruang sadarku.

"Bunda gak sayang Kakak emangnya?" Lain waktu kalimat itu seakan sering muncul. Pertanyaan serupa akhir-akhir ini kerap keluar dari mulut kecilnya. 


Saat Bunda berdendang lagu "tak tuang" dengan gubahan.
"Bunda sayang adik, sayang adik, sayang adik."
Maka kakak meski dari jauh, dia akan menyahut "Kakak?"
Seakan menegaskan bahwa Bunda sayang adik saja? Kakak?

Sejak itu, aku mulai hati-hati. Tiap kali memuji adik atau menyanyikan ungkapan sayang semisal di atas. Maka harus paket komplit. Sayang adik juga sayang kakak. Bentuk cemburu anak pertamaku. Begitulah hari-hari penuh drama membersamai duo balitaku. Khususnya kakak.

Kakak adalah panggilan buat putri sulungku. Namanya Asma, namun kami memanggilnya kakak sejak usianya satu tahun. Lho? Kan adiknya baru lahir setelah dia genap tiga tahun. Jadi ceritanya, saat bunda masih bekerja. Kakak sempat di titipin di daycare selama jam kerja. Namanya daycare, hampir tiap bulan ada saja anggota baru. Daycare ekslusive  milik yayasan tempatku bekerja. Agak berbeda dalam hal penerimaan anggota baru. Dan sejak itu, kakak yang mendapat pengasuh dari Aceh. Beliau mengkondisikan anak-anak sebelummya yang lebih lama atau lebih tua usianya untuk menerima anggota baru. Tak terkecuali si kakak, meski sebenarnya dia paham atau tidak hehehe. Di usianya saat itu tentu dia belum mengerti. Tapi karena sudah biasa dipanggil kakak jadi keterusan. Tak jarang beberapa orang akan bertanya penasaran, "Asma mau punya adik?" Karena panggilan kakak yang tersemat padanya. Hehehe...

"Bunda sayaaaaaang Kakak Asma," kataku suatu hari sembari memeluk dia. Tentu reaksi kakak adalah malu-malu. Dilain kesempatan, aku cium dia lalu aku bilang "Bunda sayang Kakak." Sedang sebenarnya dia masih menutup mata. Tidur.

Begitulah caraku menunjukkan cinta bahwa meski telah hadir adik di rumah. Rasa sayang bunda maupun ayah tak berkurang untuknya. Masih sama, 100% untuk dia dan 100% untuk adik. Tak perlu dibagi-bagi. Sayangnya, aku kadang tak bisa menutupi lelah.  Mudah tersulut amarah. Dan kakak? Sedihnya, ia beberapa kali jadi sasaran kemarahan itu. Hiks!

"Emang Bunda gak sayang aku?" Dia menangis tergugu. Aku yang sedari tadi pusing, menggendong adik yang rewel. Rasanya ingin menghilang. Tapi nyatanya, aku diam di sampingnya. Melihat ke arahnya tanpa melakukan apapun. Kakak masih terus menangis. Sebenarnya sepele, karena dia tak kunjung selesai makannya. Membuatku yang tak tidur semalaman jadi uring-uringan. Ah, kenapa aku tak cukup sabar. Beberapa kali, dia menangis hingga tertidur. Di saat seperti itu, kupandangi wajah kecilnya. Ku peluk tubuh mungilnya, ku usap kepalanya. "Bunda sayang Kakak Asma." Tak terasa bulir hangat menjalari pelipisku.


Bagaimana mungkin Bunda tak sayang kamu, Nduk? Kamu adalah buah dari  15 bulan penantian dalam perjuangan. Kamulah alasan Bunda melepas karir di saat puncak-puncaknya. Kamulah kekuatan Bunda bisa bertahan hingga detik ini dengan segala ego yang coba Bunda hempaskan. Mana mungkin Bunda tak sayang.


Iya, kadang tak semudah teori dalam aplikasi. Seharusnya aku bisa lebih sabar menghadapi kedua balitaku. Akan tetapi, emosi innerchild-ku kadang muncul. Di titik ini aku merasa sangat bersalah. Kecewa bahkan menyesal. Sedang dulu aku berjanji akan memutus rantai itu. Memiliki anak dengan jarak usia berdekatan bukanlah sebuah kesalahan. Hanya aku yang belum bijak menyikapinya. Lelah, payah, emosi, dan energi negatif lainnya. Kerap kali datang jika dalam kondisi khilaf. Ah, aku hanya manusia biasa.

"Aduh," kepalaku ke hantam tangan kakak yang sedang bermain. "Hehehe maaf maaf," ucap kakak mendengar suaraku. Dia ulurkan tangan lalu kusambut dengan cengiran. Sakit. "Sini Bunda," dia condongkan mulutnya lalu memegang kepalaku sambil meniup-niupnya. "Bismillah". Lalu dia tersenyum ke arahku. Ah Nak, tingkahnya semakin bikin baper. Begitulah caraku meredakan rasa sakit atau lukanya karena bermain. Entah karena jatuh atau mungkin ke jedot tembok. Dan dia menirunya. Kamu memang fotocopy-anku.

Lain kesempatan, "Adik  jangan begitu," teriak bocah 3,5 tahun itu. Melihat adik sedang menarik rambut bunda secara acak alih-alih buat pegangan karena adik lagi senang-senangnya berdiri. "Nanti Bunda sakit lho," ucapnya lagi. Sambil bergerak ke arah adik menolong bunda. "Nanti kalau Bunda sakit gak bisa main lho," katanya lagi. Hahhaha, aku tak menyangka jika dia akan berpikir seperti itu.

"Bundaaaaaa," panggil kakak di tengah asyik bermainnya. Dia menunjukkan senyum khas miliknya ke arahku. Hihihi  ya satu lagi. Aku pernah menyampaikan ke dia, "Bunda senang kalau kakak senyum." Dan sejak itu dia akan menunjukkan senyumnya. Bahkan tanpa alasan, hahaha. Hanya untuk membuat aku senang. Lain waktu, kamar bersih, seprei tertata rapi. Bantal ditumpuk, selimut dilipat. Mainan berserakan sudah masuk ke dalam plastik. "Bundaaaa.....", aku yang masih sibuk dengan urusan dapur terpaksa lari ke kamar. "Lihat... rapikan?" Ucapnya bangga sambil merentangkan kedua tangan. Aku tersenyum ke arahnya, "Siapa yang merapikan?" Tanyaku padanya meski sebenarnya aku tahu. Pasti kakak yang membereskan. Siapa lagi? Ayah kerja. Adik? Jelas tidak mungkin. "Kakak," jawabnya malu-malu. "Bunda suka?" katanya sejurus kemudian. "Kan Allah suka keindahan ya Bunda?" katanya lagi. Aku mengangguk mengiyakan.

Ternyata bocah itu merekam dengan baik setiap kali aku menjelaskan ke dia. Tentang Allah suka kebersihan. Kalau kondisi rumah rapi akan terlihat lebih nyaman. Dan... aku pernah menyampaikan diantara omelan yang panjang. "Kaaaaaak, Bunda itu capek beres-beres terus. Kakak kok gak bantuin Bunda sih". Sambil ngomel dan beres-beres. Pasti saat itu wajahku terlihat bersungut-sungut dan entahlah bagaimana perasaan kakak menyaksikan itu.


Apakah adegannya selalu so sweet begitu? Oh tentu tidak. Suatu kali, pecah tangis adik dari kamar mandi. Aku yang sedang mengambil handuk segera berlari ke arah kamar mandi. "Kenapa Kak?" auto pernyataan itu yang keluar dari mulutku, menunjukkan bahwa dia menjadi yang tertuduh. Dia terdiam, wajahnya tertunduk. "Kakak, adik kenapa?" kuturunkan nada suaraku. "Aku mandiin adik," sambil menujuk gayung di tangannya. Ya Allah, kataku dalam hati. Ternyata adiknya di siram sama dia. Katanya mau mandiin adik.

Lain waktu, "Bunda mau nyuci baju Kak," kataku sambil memilih baju kotor mana yang dicuci terlebih dahulu. "Aku ikut, mau bantu Bunda" sahutnya. "Ehm..oke. Ayo segera keburu adik bangun." Ya, kami sering kejar-kejaran menyelesaikan pekerjaan rumah selama adik tidur. Karena bocah 7 bulan itu lagi aktif-aktifnya merangkak. "Bunda mau menjemur dulu ya Kak," sambil ku tenteng timba biru yang penuh pakaian kecil. "Coba Kakak membantu Bunda memindahkan baju yang itu," kutunjuk tumpukan baju yang aku pisah dan masih tergeletak di lantai.

Selesai menjemur aku segera kembali ke kamar mandi. Dan ternyata, dia sudah masuk ke bak yang seharusnya digunakan untuk mencuci baju yang sebelumnya. Sambil bermain air dan sabun yang sudah memenuhi bak. "Sabar, sabar, sabar," kataku dalam hati. Pun saat korah-korah --mencuci perlengkapan makan atau dapur lainnya--. "Kakak bisa bantu Bunda," serunya dengan semangat. Meski agak ragu akhirnya kami melakukan berdua. Sayangnya, belum selesai kerjaan dia sudah membuat seperangkat sabun dan alat-alat menjadi bahan masak-masakan dan mainannya di dalam air. Dan beragam adegan lainnya.

Meski agak-agak menggemaskan. Namun empati kakak tinggi. Sekali waktu hujan cukup deras. Padahal hari terlihat masih siang. "Bunda, hujannya deras." Katanya dengan wajah tampak khawatir. "Kenapa Kak?" tanyaku menelisik. "Kan Kakak sudah berdoa tadi." Aku mencoba mengingatkannya. Tiba-tiba wajah khawatirnya berubah sedih, "Nanti Ayah pulangnya bagaimana?". Sambil melihat keliar jendela, " Kan Ayah gak bawa jaket." Masya Allah Nduk. "Ayah bawa jas hujan ta Bunda?" katanya lagi. Segera kupeluk dia meredakan rasa khawatirnya. "Insya Allah, nanti sore hujannya reda. Kita berdoa yuks." Ajakku kepadanya dan dia menurut. Begitulah, sebentuk cinta kakak pada ayah. Meski saat bersama kakak kadang gengsi diminta ndusel sama ayah tanpa ada maunya. Ah, perempuan maunya diperhatikan. Hihihi...


Begitulah hari-hari kami yang penuh drama. Kadang gelak tawa memenuhi rumah, kadang omelan panjang. Tak jarang pula tangis pecah bersahutan. Namun satu hal yang tak terlewatkan, masing-masing dari kami punya bahasa cintanya sendiri-sendiri. Termasuk kakak, diapun memiliki caranya sendiri mengungkapkan cinta dan kasih sayang.  Kami sebagai orang tuanya, khususnya aku sebagai ibu harus belajar mengeja dan memaknai caranya menunjukkan cinta, cinta anak pertama.


Suka ndusel saat Bunda ingin me time, peluk, cium, mendarat spontan saat Bunda lagi anteng, tak jarang paling gercep (gerak cepat) kalau diminta bantuan. Padahal, bisa jadi carany membantu malah bikin kerjaan gak kelar-kelar.  Mudah cemburu hanya dengan kata, paling pinter membaca ekpresi Bunda. Paling heboh jika bunda sudah berkata, "Siapa yang mau membaca bersama Bunda?" Karena sedari kecil dia memang sudah kental interaksi dengan buku. Paling sebel kalau tidak dilibatkan melakukan sesuatu.  "Bunda, aku sudah menyiapkan popok dan minyak telon buat adik," serunya girang.

Ah, kadang kita sebagai orang tua terlalu sempit memaknai kata cinta. Sedang sejatinya, cinta banyak bentuknya. Bisa kata, perbuatan, sikap atau sekedar perhatian diam-diam. Dan masih banyak sekali kejutan cinta dari kakak yang tak terduga. Ah Nak, terima kasih banyak telah menerimaku dan mencintai Bundamu yang masih banyak kekurangan.

Love you coz Allah, Nduk!

Komentar

  1. Masya Allah mbaa... Aku jadi terharu sekali membaca tulisan ini.. sehat-sehat selalu ya mbaak..

    BalasHapus
  2. Nangis saya. Anak saya pun begitu. Dia tidak bilang "cinta" atau "sayang" tapi benar-benar menunjukkan cintanya

    BalasHapus
  3. MasyaAllah si kakak bikin melting yaa. Mudah-mudahan kakak sehat selaluuuu yaa. Bunda dan keluarga juga. Aamkin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiny Allah. Doa yg sama juga buat jenengan sekeluarga

      Hapus
  4. kakak masya allah, perhatian sekali dengan adik, semoga sampai besar selalu saling menyayangi yaa, aamiin...

    BalasHapus
  5. Masya Allah Mba, aku terharu. Apalagi keinginan kakak untuk banyak membantu Bundanya. Semoga selalu jadi anak yang solehah yaaa. Aamiin.

    BalasHapus
  6. MasyaAllah.. semangat terus bunda... Pasti yang dilalui dengan penuh perjuangan ini akan mendapat hasil yang indah. Sehat2 selalu untuk kakak dan adek.

    BalasHapus
  7. MasyaAllah anak perempuan memang lebih perasa ya Bun. Alhamdulillah kakak sosweet bgt. Aku rekomendasiin baca buku anger management Bun sama membayar utang pengasuhan karangan Bu Diah sama pak Dandi. Kalau luang ikut terapi zoomnya jg bagus, mudah2an wasilah jadi kita ga marah2 sama anak. Semangat bun

    BalasHapus
  8. Huhuhu aku nangis mbak bacanyaaa. Trenyuh banget atiku. MasyaAllah kakak pinter banget sehat ya nak tumbub jadi anak yang bahagia. Aku langsung inget anak anakku mbak baca ini huhuhu

    BalasHapus
  9. Mataku berkaca-kaca bacanya :(
    Terharuuu...
    Sehat-sehat terus kakak yaa, semoga jadi anak yang membahagiakan ibu-bapak di masa depan :)

    BalasHapus
  10. Masya Allah..
    Terharu bun, jadi ingat lagi kalau sabarku masih kurang banyak buat anak.. Huhuuu

    BalasHapus
  11. Masyaallah kakakmya pintar sekali mbak, semoga jadi anak yang sholehah.

    BalasHapus
  12. masyalloh ngebayangin nnti punya anak pertama pasti luar biasa rasanya, moga aku jadi salah satu yang dipercaya Alloh buat punya anak nnti klo dah nikah

    terharu akuu bacanya

    BalasHapus
  13. Kakak pinter sekali, tetiba teringat anakku yang seumuran dan punya adik juga. Punya adik ternyata secara tidak langsung telah mengajarkan mereka kedewasaan. Dewasa versi balita, semoga sehat selalu ya,

    BalasHapus
  14. abak pertama memang seperti cinta pertama ya bun ... aku jadi ingat ketika cinta pertamaku yg pergi terlebuh dahulu... ternyata Allah lebih sayang pada cinta pertamaku ... semoga bunda sekeluarga selalu dalam lindungan Allah ... amiin

    BalasHapus
  15. Meski belum bisa tau rasanya punya anak tapi bisa ngerasain versi anak yang sayang sama orangtua. Aoalagi tinggal berjauhan. Mbaa jadi kangen ibuk aku.

    BalasHapus
  16. MashAllah kak selamat ya kak telah menjadi ibu hebat, Cerita kakak berasa di dongengun buku cerita aku

    BalasHapus
  17. Trerharu mbak pasa bacanya, jadi ngebayangin nih saya jika punya anak nanti. Menjadi ibu yang hebat dalam mengurusi keluarga dan anak

    BalasHapus
  18. Selamat ya kak atas kelahiran anak keduanya. Terharu bacanya. Kakaknya so sweet bangeet

    BalasHapus
  19. Masya Allah, anak pertama memang jadi pelajaran berharga kita yg pertama jadi Ibu ya :) luar biasa

    BalasHapus

Posting Komentar

Maturnuwun sudah berkomentar dengan baik. Kata-katamu cerminan kepribadianmu :)

Postingan populer dari blog ini

Tummy Time, Penting Gak Sih?