=Hamimeha

Memburu Viral di Era Milenial

Posting Komentar


Akhir-akhir ini kita cukup dihebohkan dengan berita nasi anjing, lalu berlanjut crazy rich yang berbagi dengan cara mengadopsi kreatifitas aktor kenamaan dari India Amir Khan. Berbagi dengan sembako namun ternyata berisi uang dengan nominal cukup besar. Berita yang demikian cukup menaikkan rating media jika menjadikannya tulisan atau dijadikan konten youtube meski sekedar hanya ulasan singkat semata.

Siapa yang tak kenal Atta Halilintar, Ria Ricis, Kekeyi, Bowo yang sempat kontroversial karena tik toknya. Belakangan ini, akun Bapau (Baim Paula) mendulang jutaan rupiah dari konten yang dia buat selama bulan Ramadan ini. Followersnya meningkat berlipat-lipat. Dan sederetan artis ternama yang terjun ke dunia selebgram atau youtuber. Tahukah apa yang membuat mereka begitu "wah"? Konten yang membuatnya viral. Karena keviralan inilah yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Menggiurkan bukan?
Apakah ada yang salah dengan semua aktivitas mereka? Tentu tidak ada yang salah karena itu wujud dari kebebasan berekpresi. Selama tidak mengandung SARA. Apalagi jika konten yang mereka bawakan bermanfaat. Tentu menjadi nilai tersendiri bukan?
Namun disayangkan, masyarakat +62 terkadang "keblinger". Karena mengejar viral, mereka tak tanggung-tanggung membuat konten yang bahkan bisa memalukan dan membahayakan diri mereka dan orang lain. Masih ingat dengan kasus salah satu youtuber yang berbagi sampah kepada waria? Miris bukan? Pernah juga dua perempuan asal Mojokerto yang membuat konten keramas di jalan dengan mengendarai motor, hingga berakibat membawa mereka berurusan dengan polisi. Cerita di atas baru mewakili sedikit kasus-kasus yang muncul karena memburu viral.
Sejatinya, berkembangnya teknologi dan munculnya kebiasaan yang baru di era digital ini perlu dimaklumi. Manusia akan melakukan penyesuaian dengan perkembangan zaman yang ada. Bahkan tak sedikit anak-anak sekolah dasar atau menengah jika ditanya apakah cita-cita mereka di saat besar nanti? Jawabannya bukan lagi dokter, pilot, guru dan sejenisnya. Namun jawaban tegas mereka adalah ingin menjadi gamers, youtuber atau selebgram. Luarbiasa bukan?
Apakah cita-cita mereka salah? Tidak ada yang salah. Kenyataannya youtuber, selebgram atau gamers memang mampu mendulang rupiah bahkan dolar yang tak sedikit. Wajar jika mereka menginginkan hal tersebut. Terlebih lagi, dunia semacam itu waktunya lebih fleksibel dan sangat dekat dengan kehidupan mereka yang merupakan native teknologi. Sesuai dengan kharakter generasi mereka.
Akan tetapi pertanyaannya adalah benarkah cita-cita itu akan menjadi nilai kembermafaatan bagi mereka? Tak hanya di dunia namun di hari perhitungan kelak? Hal ini perlu kita renungkan. Hanya demi menghimpun uang dari like, komen dan subcribe kita lupa akan hakikat manusia dicipta. Bagaimana nanti kita dikenang, kebaikan atau keburukan kita?
Perkembangan zaman tak bisa kita hindari namun wajib kita kaji. Kita memang perlu adaptasi. Tak hanya menyasar kalangan anak muda generasi mileninal, teruntuk kalian yang masih bernafas di era ini. Mari kita menganalisa lebih dalam agar tidak terjebak arus yang membawa kita pada sebuah kelalaian. Bukankah jelas bahwa apa yang kita lakukan akan ada pertanggungjawabannya. Jadi ayo tinggalkan jejak kebaikan! Bukan sekedar viral!
.:3ha:.
Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar