Rabu, 09 September 2020

LANGKAH MUDAH MEMBUAT RESOLUSI HIDUPMU

 Resolusi di Tengah Pandemi


Cita-citanya melampaui ukuran usianya. Terwujud oleh generasi yang hidup jauh di saat beliau meneriakannya, di kala palunya memukul batu ketika menggali parit. Perang Khandaq, menjadi bukti sejarah bagi kita. Bahwa kekuatan sebuah cita-cita bisa menembus masa. Siapakah dia? Rasulullah S A W.

Ia-lah insan yang bahkan di bawah tekanan telah memiliki cita-cita besar. Siapa yang tak membaca sejarah hidupnya yang penuh perjuangan. Keadaan sulit seakan menjadi kawan. Hinaan, celaan bahkan penyiksaan orang-orang dan lingkungan tak pernah henti. Namun semua itu tak sedikitpun menggoyahkan cita-cita mulianya. Menegakkan kalimat Allah di penjuru bumi. Mengajak seluruh umat manusia menyembah Tuhan yang satu, Allah.

 Bagaimana dengan kita?


Setengah tahun pandemi telah memporak-porandakan berbagai lini. Tak hanya satu, dua orang terdampak. Mulai dari bisnis besar, kelas menengah bahkan buruh harian paling terpukul karena pandemi ini. Situasinya begitu sulit. Seakan tak mudah menemukan peluang. Celahnya terlalu kecil. Mungkin salah satu dari sekian itu adalah kamu. Bisa jadi! Namun hidup harus terus berjalan bukan? Kita tak pernah tahu kapan virus ini sirna. Kapan vaksin ditemukan dengan segera? Akan tetapi roda kehidupan harus terus berputar. Masa depan masih panjang. Akankah kita terpenjara oleh kondisi seperti ini?


Banyak hal berubah sejak wabah ini mendunia. Tatanan kehidupan menjadi lebih cepat berevolusi. Banyak hal tak bisa kita kendalikan. Teringat akan kebijakan di bidang pendidikan. Keluhan akan Ujian Nasional akhirnya terloloskan untuk ditiadakan. Tetapi wabah ini membuatnya menjadi lebih cepat diterapkan. Siapa yang menduga?


Begitulah, tak ada yang bisa meraba takdir. Tak ada yang bisa menerawang masa depan. Namun bukan berarti kita menyerah dan pasrah tanpa ikhtiar. Sekali lagi, belajar dari Perang Khandaq. Kala itu, kondisi umat muslimpun sedang mengalami paceklik. Sedangkan perlengkapan, persiapan dan jumlah pasukan yang ada tak sebanding dengan lawan. Suatu tantangan yang tak terduga. Kemenangan seakan jauh dari bayangan karena keadaan. Heroiknya, tantangan inilah yang membuat Salman tampil dengan segala potensinya. Menggali parit menghadapi siasat musuh. Menang tanpa peperangan. Biidznillah! Apa hikmahnya? Kadang keadaan sulit dan terjepit seperti inilah yang membuat kita mengeluarkan semua potensi terdalam yang kita punya. 


Serupa dengan kondisi saat ini, pandemi tak boleh menjadi penghalang kita untuk menggapai impian. Ikhtiar harus terus dijalankan. Tugas kita adalah memaksimalkan kemampuan yang Allah berikan pada diri kita. Merubah tantangan menjadi peluang. Apalagi jika kamu adalah generasi milenial! Mengambil peran di era digital. Merdekankan dirimu, merdekakan mimpimu! Ragamu bisa saja terpenjara di rumah saja. Tapi pikiranmu jangan! Kecanggihan teknologi adalah sumbangan terbesar dari perkembangan ilmu pengetahuan. Manfaatkan!


Seharusnya kita belajar dari mereka yang berkarya di balik jeruji melawan keterbatasan. Fisiknya mungkin terasingkan namun ide dan pemikiran mereka tidak. Karyanya lahir dari rahim penjara. Sebut saja Ibnu Taimiyah, Sayyid Qutb, Buya Hamka dan sederetan nama yang lainnya. Keadaan tak mengurung cita-cita besar mereka. 


Kini, giliran kalian! Perubahan akan selalu ada, tantangn zaman akan terus menggoda. Inilah keniscayaan bahwa inilah ujian dari sebuah perwujudan cita-cita. Percayalah bahwa pandemi ini akan segera kita lewati. Bukankah itu ada dalam firman-Nya, bahwa DIA tak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.. 


Musuh terbesar dalam perwujudan sebuah cita-cita adalah rasa malas, kebiasan buruk dan putus asa dalam diri kita. Waktunya memutus belenggu yang membuat kita tak bergerak maju. Baik itu masa lalu, cibiran orang, keadaan yang berubah tak terduga. 


Kitalah yang menentukan jalan hidup diri kita. Keadaan akan terus berjalan menggilas mereka yang tak pandai berdampingan dengan keadaan. Jangan menyerah! Kita memang tak bisa memutar arah angin namun kita mampu membelokkan arah layar kita. Ke arah manakah perahu kita melaju. Karena setiap orang berhak merdeka menjadi apa yang dia inginkan.. Asal tetap berada di jalur syariat dan taat. Inilah momentumnya, luruskan niat. Tulislah resolusi hidupmu yang akan menjadi sejarah sepanjang peradaban. Resolusi di tengah pandemi.



Langkah -langkah merumuskan resolusi di tengah pandemi : 


Niat yang lurus. 

Niat itu ibarat ruh atas tergeraknya amal. Begitulah hadist Rasul menyebutkan. Maka, jadikan niat sebagai hamba terbaik-Nya. Inilah yang akan menjaga agar kita senantiasa mengharap keridloan Allah.


Temukan " strong why"  dari cita-citamu

"Strong why?". Alasan, latar belakang, motivasi yang harus kamu temukan. Ini yang akan membangkitkan semangatmu. Menjagamu agar terus bergerak saat putus asa , lelah dan menyerah menghampiri.


Rumuskan visi besar 

Visi akan menspesifikkan niatmu. Agar lebih terarah. Inilah cita-cita. Target yang akan kau capai dan wujudkan. Buatlah visi yang memang sejalur dengan potensimu. Jangan biarkan gengsi, ego atau omongan orang di sekitar kita mempengaruhi tiap langkah yang kita ambil. Inilah sebuah kemerdekaan sejak dalam pikiran. Namun tetap realistis. Sebaiknya, kita punya alasan kuat agar setiap keputusan yang kita buat mendapat dukungan dari keluarga dan lingkungan. 


Fokus

Totalitas. Kita tidak bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu. Ibarat hitungan matematika, hasil dari setengah dikali bilangan positif berapapun tak akan lebih besar dari angka satu dikali bilangan positif lainnya. Fokuslah untuk meraih cita-citamu. Akan ada banyak godaan disepanjang perjalanan mewujudkan cita-cita. Inilah saatnya menjadi jiwa yang merdeka. Jangan terpengaruh, fokus!


Eksekusi

Impian akan sekedar menjadi khayalan jika tak ada tindakan. Berencana bukan sekedar bermimpi, Maka, eksekusi adalah sebuah perwujudan nyata kata-kata. Tulis cita-citamu dan wujudkan. Buatlah list, terjadwal dan terukur.

 

Evaluasi 

Buatlah penghargaan atas sekecil apapun keberhasilan yang kita buat. Tegaslah pada kelalaian akibat dari kebiasaan atau karakter buruk yang belum berubah. Namun tetap beri ruang penerimaan yang baik dari setiap target yang belum tercapai. Itulah fungsi evaluasi. Mengoptimalkan fungsi hasil. Mempertahakan  dan meniingkatan yang baik serta memperbaiki yang masih buruk atau belum tercapai.


Berdoa

Belajar dari sepanjang sejarah orang-orang sholeh terdahulu. Kedekatan kepada Sang Khaliq adalah kunci terbesar mereka. Pada hakikatnya kita tidak akan benar-benar menjadi manusia yang merdeka. Karena kita sejatinya terikat pada penghambaan. Hamba dari Allah yang Maha Esa.

 

Bahagia itu diciptakan. Bukan karena banyaknya uang, tingginya kekuasaan atau luasnya tempat tinggal. Tapi kebahagiaan itu ada pada hati, jiwa dan pikiran yang merdeka. Merdeka dalam mewujudkan cita-cita, memilih dan menentukan setiap sikap dan perbuatan. Merdeka dari hambatan yang mengkerdilkan impian, melemahkan keyakinan dan menurunkan potensi diri. Merdeka dari perasaan menyerah sebelum melangkah, putus asa tanpa mecoba. Namun merdeka adalah suasana semangat hidup yang penuh optimis, penuh harapan dan penghambaan atas dasar iman. 

Ditulis ketika mengikuti  sisfest2020

Tema : Merdeka Meraih Cita


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maturnuwun sudah berkomentar dengan baik. Kata-katamu cerminan kepribadianmu :)