Tips Menulis Bagi Pemula


Sharing Is Caring


Hari ini aku diberi kesempatan untuk berbagi di temu alumni. Alumni Matematika ITS angakatan 2007. Awalnya ragu sih, bisa gak ya?
Tapi kemudian aku berpikir, "Kenapa gak nyoba dulu aja?". Berbagi tips menulis bagi pemula ala aku. Toh, aku sedang melakoninya yakni menjadi penulis pemula. 


Sejujurnya aku khawatir bakal membahas yang basi sama mereka. Mengingat banyak kawan-kawan yang berkarier lebih kece-lah dibandingkan aku yang masih suka bahas receh di blog maupun feed IG, hahahhaa.

Akan tetapi, ada kebahagiaan tersendiri saat lemparan pertanyaan, giliran menjawab untuk berbagi inspirasi, tawa, canda dan mengingat kekonyolan kami semasa di bangku kuliah dulu.

Eits, tak hanya sekedar obrolan biasa ya. Aku melihat ajang seperti ini meski santai bisa menjadi sarana buat kami tahu kondisi terkini teman-teman lama. Berbagi insiprasi tentang perjalanan hidup mereka, menjadi media memberi apresiasi. Tapi bukan dalam rangka saling menonjolkan diri, aku yang ter- .... ya?! Apalagi sampai merasa paling diantara yang lain.

Stop doing that!

Alhamdulillah, suasana sharingnya lebih friendly dan asyik banget deh. Suasana khas anak muda yang lagi asyik ngobrolin masa depan hahaha. Fullfaedah deh!

Pertemuan perdana dimulai dengan membahas kisah perjalanan seorang teman yang study overseas, dimulai bagaimana di mendapat beasiswa, pengalaman tiga bulan pertama di sana, dan masih banyak lagi.

Nah, pekan ini giliran kami. Iya kami!
Jadi ada 3 narsum (ceileh narsum hwakakka). Ada si  Fitri yang telah terjun duluan di dunia kepenulisan dan scraft lalu menggandeng Vina yang jago masak nih. Vina juga sedang merintis bisnis kuliner dengan brand OmahKlopo. Fitri, si gadis pendiam ini ternyata bakat nulisnya sudah lama lho. Bahkan sudah nerbitin buku solo. Serta sedang mengikuti sebuah parade novel melalui  audisi sebelumnya. Wah selamat berjuang ya!

Eh, tak kalah keren lagi si mimin merangkap momod. Evita namanya. Dosen muda ini emang terkenal humble. Sehingga mudah mencairkan suasana meski sebenarnya ada rahasia di balik itu semua. Hwkakaka aura ... aura seorang dosen muda berbakat.

Sedang aku, yang masih seuprit pengalaman di dunia kepenulisan. Alhamdulillah bisa berbagi sekalian menghabiskan jatah 20ribu kataku hari ini hahahaa. Semoga kalian gak geleng-geleng ya liat aku yang masih sama aja! Talk aktive 😄.

Apa aja sih yang bisa diambil dari sesi sharing kali ini. Berawal dari persoalan yang klasik. Hal-hal yang selalu menjadi pertanyaan populer penulis pemula. 

1. Gimana caranya ngembaliin mood nulis?

2. Bagaimana menemukan ide?

3. Bagaimana cara manajemen waktu nulis sedang kondisi kita masih disibukan dengan seabrek aktivitas?

4. Cara nerbitin buku?

Ini sih yang aku inget hehehe. Nah, inilah tips menulis bag pemula yang aku rangkum dari sesi sharing kali ini.


Pertama
, ngembaliian mood nulis. Bagi kamu yang sebelumnya udah nulis maka coba deh kamu inget-inget alasan kamu nulis apa? Temukan strong why-nya. Kamu nulis alasanmu apa? Harus kuat alasannya agar itu bisa menjadi pelecut saat mood jelek atau malesnya muncul. 

Kalau kata Fitri, "Tulis dulu saja dari yang kamu suka, dari hal-hal di sekitarmu." Kalau aku seperti jawaban di awal. Temukan alasan kuat kamu nulis buat apa.

Kenali tipe kepribadianmu, kalau kamu tipe korelis macam aku. Yang suka "cling" kalau sudah deadline. Maka paksa agar kamu berada di posisi selalu di deadline.

Gimana caranya? Ikut challenge, kompetisi, atau minimal kamu menantang dirimu sendiri. Terus kasih reward dan punishment versi kamu. Hal ini bisa melecut mood nulismu agar terus on fire.

Kalau kamu belum pernah nulis sama sekali. Artinya nulis buku ya, bukan status curhatan di wa atau igs hehehe. Maka beranilah memulai

"Mulai aja dulu," kata Vina seakan menyemangati diri sendiri sekaligus sebagai closing statement-nya.


Kedua, bagaimana menemukan ide?

Ide itu bertebaran. Mulailah dari hal-hal yang kamu sukai, sekitarmu, tentang kamu atau yang lagi hits. Kalau kamu akademisi ya tulis aja yang seputar apa yang kamu kuasai. Mulai dari keresahan bahan ajar selama mengajar. Modul ajar ringan yang membantu para mahasiswa memahami materimu. Simple kan! Meski tak sesimple itu ya, cari referensi, menemukan diksi yang tepat, dan lain-lain.

Its oke!
Emang akan ada perasaan, "Kayaknya tulisanku masih ada yang kurang deh!". Kurang ini, kurang itu!.

Eits!
Idealis boleh tapi jangan keterlaluan!
Kamu sedang menulis bukan untuk kamu melainkan pembacamu. Penikmat bukumu. 

Kalau kamu hanya ibu rumah tangga, maka tuliskan seputar tentang hal-hal yang berkaitan sehari-hari misal, pengasuhan, manajemen waktu agar tetap waras menemani duo balita aktif-aktifnya, dan lain sebagainya. 



Intinya, ide itu banyak sumbernya. Bisa dari apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Nah jika kamu sudah ada ide tapi kok belum pede  atau malas melanjutkan ide nulis lagi. Ini masuk dalam kategori writer block!

Maka cobalah tips ini;

a. Mulai nulis dulu sesuai dengan draft atau outline yang kamu susun dan referensi yang menurutmu sudah ada. Tolong jangan terlalu sempurna ya. Namanya juga awal.

b. Buatlah modul-modul atau lembaran. Misal satu bab  dulu. Periksa kembali, selfediting.

c. Jangan malu menyodorkan rancangan naskahmu untuk dibaca oleh orang lain. Kenapa? Komentar mereka adalah feedback berharga untuk perkembangan tulisan kita selanjutnya. Yang tentunya berisi kritik motivasi ya. Bukan nyinyiran. Hempaskan aja yang semacam itu.

d. Jangan berhenti karena alasan malas. Lawan!
Mau jadi buku dan menghasilkan tidak? Hwkakakaka. Ingat strong why kamu nulis!


Ketiga, bagaimana manajemen waktu buat nulis. 

Sebenarnya nulis itu mudah asal kita sudah ada ide mau nulis apa. Lha kalau ide aja gak ada gimana bikin isinya? Iya gak!

Buat aku yang suka dengan challenge, aku menantang diri ikut challenge nulis setiap hari satu tulisan. Maka aku bikin tulisan yang ada di sekitarku aja. Tulisannya gak harus yang "wah" lah.

Yang jelas memperhatikan 3 poin penting:

1. Kamu tahu ide tulisan ini akan menjadi inspirasi bagi yang lain. Meski hanya sekedar cerita tentang "Masak Tempe" misalnya. Inspirasinya dari kamu yang sedang masak tempe tapi ngirisnya terlalu tebal Nah, sudah jadi deh ide tulisan "Dari Tempe Aku Belajar". Simpel kan?!


2. Isinya bebas aja. Bebaskan pikiranmu mengekplorasi ide itu. Jangan dihantui perasaan khawatir dan takut. Takut kalau tulisannya isinya curhat. Hanya mengandung hal-hal receh tanpa hikmah.

Jika memang perasaan itu ada maka sebaiknya kamu sisipilah tips, atau insight agar pembaca dapat sesuatu dari tulisanmu. Kalau gak adapun kamu nulis bebas sajalah.

Kapan nulisnya? Kalau aku sih biasanya pas anak tidur, lagi santai atau pagi dan malam hari. Kayak stok tulisan gitu. Intinya, ambil waktu jeda kita, bagaimanapun nulis itu butuh mikir dan bikin lapar. Hahaaha. 

Nulis jangan dibuat beban, santai saja agar tulisan kitapun mengalir dan kita juga menikmatinya. Jika memang ada yang perlu dikerjakan dulu sebaiknya segera di selesaikan. 

Jika ingin konsisten maka sediakan waktu khusus. Yang kamu "on" tanpa gangguan mungkin. Sehingga membuatmu lebih fokus. 

3. Jangan nyampah sembarangan. Kalau tulisanmu niatnya dibagi ke medsos. Ya pastikan tulisan itu gak berisi yang membuka aib dirimu atau orang lain.

Jika memang niatnya adalah sebuah bentuk mengungkapkan kekesalan, marah, dan emosi negatif lainnya. Ya tulis saja dikertas setelah itu sobek-sobek sampai kecil dan buanglah sampah pada tempatnya.

Terakhir nih, cara nerbitin buku.

Aku dulu juga bingung sih. Apaan sih kok ada penerbit mayor, indi dan selfpublishing.

Sebelumnya terima kasih kepada Fitri yang jelas padat memaparkan perbedaan ketiganya.

Penerbit mayor adalah penerbit yang sudah gede dan punya modal sendiri. Kebanyakan penerbit-penerbit ini mencetak buku-buku yang nyetok di toko buku besar. Seperti gramedia atau toko buku besar lainnya di kotamu.

Penerbit indi, ini biasanya penerbit yang tidak terlalu besar tapi memiliki jaringan reseller yang tak sedikit. Kadang kita penulis diminta untuk membeli buku dengan minimal jumlah tertentu. Namun tetap dapat keuntungan saat penjualan. Contoh penerbit ind; ihsanmedia, indiva, maskana dan lain-lain.

Kalau selfpublising ini biasanya lebih ke kita penulis yang mengatur semuanya, seperti isi buku, cover, layout, dan editing. Penerbit hanya melayani ISBN dan cetaknya. Namanya saja self ya hahhaa jadi melayani diri sendiri.

Nah pesan yang gak kalah penting adalah hati-hati saat mengirimkan naskahmu. Artinya saat kamu mengirim naskah pastikan ke penerbit yang memang sudah tervalidasi ada. Minimal rekomendasi dari orang yang sudah pernah nerbitin di sana.

Biasanya saat kita mengajukan naskah setidaknya akan ada waktu tiga bulan sampai  maksimal setahunlah naskah kita akan dikabari jika memang ditolak. Semisal tak ada kabar kita berhak membuat surat penarikan naskah. Karena hal semacam ini rawan naskah kita disalahgunakan. Semoga kita terhindar dari hal semacam itu ya.

Taraaaa...
jadi begitulah sesi sharing santai kami malam ini. Dilanjut dengan obrolan ringan para peserta yang terus berdatangan hahaha. Semoga forum-forum seperti ini terus diadakan dan menambah semangat teman-teman alumni yang lain untuk join.

See you!

Komentar

Posting Komentar

Maturnuwun sudah berkomentar dengan baik. Kata-katamu cerminan kepribadianmu :)

Postingan populer dari blog ini

Tummy Time, Penting Gak Sih?