=Hamimeha

Wujudkan Indonesia Bebas Kusta, Ambil Peran Yuks!

6 komentar
Wujudkan Indonesia bebas kusta

Hai Sobat Hamim!

Bagaimana kabar hari ini? Semoga dalam kondisi sehat ya, di era pandemi dengan PPKM yang mulai turun level harus tetap jaga iman, imun, dan aman. Ingat, virus corona ini masih ada.

Bicara tentang kesehatan nih, sudah pada tahukah jika bulan November diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN) tepatnya pada tanggal 12 November. Nah, dalam rangka memperingati HKN tahun ini aku berkesempatan hadir di acara edukatif.

Acara edukatif ini diselenggarakan oleh KBR dan NLR dalam program bincang Ruang Publik dengan mengangkat tema " Bahu Membahu untuk Indonesia Sehat dan Bebas Kusta".  Acara ini disiarkan langsung di channel yutub berita KBR. Wah temanya menarik sekali ya?

Pasalnya, stigma negatif masyarakat terhadap penyakit kusta masih tinggi. Sehingga hal ini tentu membuat harapan mewujudkan Indonesia bebas kusta tidak mudah bukan? Padahal kusta jika ditangani dengan baik dan benar sejak dini sangat mungkin untuk disembuhkan.

Nah, inilah alasanku hadir di acara keren yang aku peroleh infonya dari komunitas 1minggu1cerita yang aku ikuti. Aku ingin ikut mengambil peran menyampaikan kabar baik ini secara luas.

Ehm, penasaran sama alasannya? Cuss simak di bawah ini yuks!

Sekilas Tentang Kusta


Yup! Sebelum kita menyimak langkah apa yang bisa kita ambil dalam bahu membahu untuk Indonesia sehat dan bebas kusta maka ada baiknya kita tahu seputar tentang kusta.

Apakah Penyakit Kusta Bisa Sembuh?

"Apakah penyakit kusta bisa sembuh?"

Pertanyaan ini sering kali beredar di masyarakat dan sayangnya minimnya informasi tentang kusta membuat pandangan bagi penyitas kusta makin buruk.
Tentang kusta
Faktanya, kusta bisa sembuh. Dengan catatan adanya gejala kusta ini dideteksi sedini mungkin dan pengidapnya kooperatif selama menjalani perawatan. Kuncinya adalah berobat tuntas maka penyakit kusta bisa sembuh tanpa cacat. Nah, tuhkan!

Artinya, kesuksesan mewujudkan Indonesia bebas kusta ini sangat dipengaruhi oleh faktor peran dari banyak pihak tak terkecuali si penyintas itu sendiri.

Bagaimana penyintas kusta bisa sembuh?

Poin pertama jelas dibutuhkan kerjasama dari pihak yang sakit untuk teratur melakukan pengobatan. Untuk pengobatannya tergantung pada jenis kusta yang dimiliki.

Ada dua jenis kusta di Indonesia yaitu:

1. Pausi basiler (PB) disebut juga kusta kering. Penyakit lepra jenis ini ditandai dengan kemunculan sekitar 1-5 bercak putih di kulit. Bercak putih yang muncul tampak mirip sekali dengan panu.

2. Multi basiler (MB) atau kista basah.
 Gejala yang paling terlihat dari kondisi ini adalah munculnya bercak kemerahan dan disertai penebalan pada kulit yang mirip dengan kadas. Bercak kemerahan ini bisa muncul dan menyebar lebih dari lima buah.

Karena kusta ini disebabkan oleh bakteri maka pengobatannya menggunakan antibiotik untuk mencegah infeksi. Seseorang yang mengidap kusta disarankan untuk menjalani pengobatan jangka panjang dengan menggunakan dua atau lebih antibiotik. Waktu pengobatan membutuhkan waktu enam bulan hingga satu tahun.

Untuk kusta kering konsumsi obat bisa sampai 6 bulan sedangkan kusta basah bisa lebih lama yakni 12-18 bulan. Pengobatan kusta itu memang lama, jadi jangan menyerah! Karena penyakit kusta bisa disembuhkan!


Jika pengobatan dilakukan secara teratur maka peluang bagi penyintas kusta untuk sembuh semakin besar. Nah, apakah hanya penyitas saja yang berperan dalam mewujudkan Indonesia sehat dan bebas kusta ini? Ohhoo, yuk deh simak selanjutnya!

Langkah Wujudkan Indonesia Bebas Kusta

Sobat Hamim perlu tahu nih, kita bisa lho mengambil peran dalam mewujudkan indonesia bebas kusta. Bagaimana caranya?

Ada lima langkah yang bisa kita upayakan dan dilakukan oleh semua pihak yakni:

Pertama, menghilangkan stigma negatif tentang kusta melalui edukasi

Mengingat bahwa stigma negatif tentang penyakit kusta di masyarakat masih tinggi maka hal ini perlu kerjasama banyak pihak dalam memberikan edukasi.

NLR Indonesia selaku LSM yang concern dalam pemberantasan kusta terus berupaya untuk membuat program menanggulangi kusta dan konsekuensinya di seluruh dunia dengan menggunakan pendekatan tiga zero, yaitu zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas) dan zero exclusion (nihil eksklusi).
Dokter Febriana menyebutkan tingginya stigma negatif tentang kusta ini dikarenakan masih minimnya pemahaman masyarakat. Di kalangan umum kusta masih dianggap penyakit kutukan atau karma padahal ada penjelasan ilmiah terkait munculnya penyakit kusta, bagaimana penularan, serta penanganannya.
Stigma negatif inilah yang kemudian membuat orang terindikasi gejala kusta jadi menutup diri bahkan sembunyi dan tidak keluar rumah untuk berobat. Akibatnya, kebanyakan yang berobat untuk kusta selama ini adalah yang telah mengalami kecacatan atau disabilitas.

Nah, hal ini cukup disayangkan sebab penyakit kusta sebenarnya bisa disembuhkan jika diobati sejak dini. Bahkan tingkat penularannya sangat rendah sejak diberi obat dosis awal.

Kedua, meningkatkan awareness tentang kusta dan pengobatannya

Masih berkaitan dengan poin satu. Selama ini pihak NLR yang memang bertugas di area endemis seringkali menyediakan waktu untuk melakukan edukasi tentang kusta di berbagai acara dengan topik apapun. Termasuk ke petugas kesehatan.

Sebab ternyata, stigma negatif ini juga beredar dikalangan tenaga kesehatan. Maka upaya dari NLR untuk mengatasi hal ini ada program BCC.


Nah, Sobat Hamim juga bisa mengambil peran ini. Kita bisa share di media sosial, blog, atau media yang kita punya untuk mengedukasi sekitar kita tentang kusta ini.

Yuks bahu membahu untuk membuka wawasan tentang kusta ini ke kalangan yang lebih luas di masyarakat kita.

Ketiga, support dari keluarga dan lingkungan sekitar

Wah, jujur langkah ketiga ini sangatlah penting menurutku. Sebab support dari orang sekitar bisa membuat psikologis penyintas lebih kuat. Dampaknya, mereka akan lebih bersemangat untuk berobat dan sembuh.

Support orang sekitar bagi penyitas kusta

Perlu Sobat Hamim ketahui, bahwa tingkat penularan kusta ini sebenarnya rendah jika si penyintas telah melakukan perawatan. Proses penularannya pun tidak dengan bersentuhan saja, melainkan melalui droplet, air ludah, serta kontak erat yang dilakukan selama 20 jam secara intensif.

Jadi, sebenarnya penyintas kusta sangat bisa beraktivitas sebagaimana biasanya.

Keempat, memaksimalkan momentum

"Di Hari Kesehatan Nasional 2021 ini , yang ingin dilakukan NLR adalah berharap lebih banyak partisipasi dari masyarakat selain implementasi program. Inginnya masyarakat juga menjadi bagian dari kita," ungkap dokter Febrina.

Sebenarnya, Hari Kesehatan Nasional adalah momen yang tepat untuk mengkampanyekan topik-topik tentang kesehatan kepada berbagai pihak. Dan sejalan dengan inilah NLR melakukan kampanye publik melalui beberapa program yakni:

1. Mengadakan lomba suara untuk Indonesia bebas kusta

Acara ini menargetkan orang-orang dengan kusta atau yang pernah mengalami kusta atau orang disabilitas untuk mengirimkan karya mereka misal artikel, foto dan, video pendek.

FYI, saat ini sedang berlangsung lomba ini lho. Info lomba bisa dicek di medsos KBR dan NLR. Deadlinenya 28 November 2021 nanti.

Adanya program ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan awareness masyarakat, agar semakin banyak orang yang mengerti dan mengetahui active case finding yang bisa dilakukan oleh banyak orang.

Lomba suara indonesia bebas kusta


2. Virtual run bekerjasama dengan pusat dan mengkampanyekan kesehatan dan kesadaran terhadap down syndrom. Terutama untuk penanganan yang lebih efektif jika ditemukan pasien kasus kusta yang juga down syndrom.

3. Workshop rutin mingguan selama bulan November untuk orang tua dan anak dengan kusta atau disabilitas tentang bagaimana pengasuhan dan perawatan anak sehingga kesehatan dna kebutuhan anak terjamin.

4. Mendukung pemerintah dalam pencegahan covid-19 NLR ikut menyediakan dan mendistribusikan berbagai media edukasi yang menyasar anak dan tenaga kesehatan serta masyarakat umumnya beberapa di kota dan kabupaten yang di support oleh NLR.

5. Kampanye meningkatkan kesadaran bagi tenaga kesehatan atau masyarakat secara umum. Salah satu caranya adalah program BCC, yakni kemampuan komunikasi dimana kita bisa memotivasi petugas kesehatan dibidang kesehatan lain misal kesehatan jiwa, umum, dll. Untuk bisa mengerti lebih jauh tentang kusta. Nah ini bisa meningkatkan partisipasi semua pihak agar bisa menandai atau aware terhadap gejala orang yang terindikasi kusta.


Kelima, program pendukung dari pihak manapun

Selain dari pihak pemerintah dan NLR rupanya isu kusta ini menarik perhatian salah satu instansi BUMN bidang strategis untuk ikut terlibat yakni PT Dahana. Dengan kata lain, semua pihak bisa ikut mengambil peran dalam mewujudkan indonesia sehat dan bebas kusta.

Salah satu instansi yang memberikan CSR nya untuk menangani kusta adalah PT Dahana persero. Program ini adalah program unggulan bidang kesehatan sudah berjalan sejak tahun 2017. Bentuk kegiatannya adalah pengobatan massal yang merupakan hasil tracing tahun sebelumnya untuk masyarakat di lingkungan sekitar perusahaan.


Eman Suherman, Ketua TJSL PT Dahana (persero), mengatakan bahwa PT Dahana juga bekerja sama dengan puskesmas dan kader kesehatan di level desa. Sehingga bisa melakukan tracing yang dg pihak puskesmas yang dikemas dalam bentuk pengobatan massal yang mana ini mengurangi stigma negatif di masyarakat tentang penyakit kusta.

Support PT Dahana persero untuk penyakit kusta

Wah keren ya programnya PT Dahana ini, smoot untuk bisa melibatkan masyarakat dalam proses tracing. Selain itu program lainnya program bantuan alat pelindung diri dan alat kebersihan.

Tak hanya itu, bahkan kedepannya akan ada pemberdayaan masyarakat untuk kusta maupun disabilitas agar bisa hidup dari sisi ekonominya. Ada pemberian dan bergulir san fasilitas usaha agar penyintas kusta lebih mandiri secara ekonomi. Wah keren ya,semoga sukses!

Eits, tapi pandemi memberikan tantangan bagi terlaksananya program-program tersebut. Salah satu tantangannya adalah pengobatan yang dilakukan secara massal disiasati menjadi pengobatan yang bersifat mobile di titik yang ada penderita kusta dan terbatas jumlahnya disesuaikan dengan kebijakan selama pandemi ini.

Ehm, tantangan ini tak hanya dihadapi oleh PT Dahana persero saja nih, tapi tenaga kesehatan khususnya dokter. Sobat Hamim bisa membaca ulasannya di lika liku peran dokter di tengah pandemi dalam menangani kasus kusta. 

Bangun Sinergisitas, Ambil Peranmu!


Nah Sobat Hamim, dalam rangka mewujudkan Indonesia bebas kusta ini diperlukan sinergisitas semua pihak.

Dimana kita semua memainkan peran kita dalam mencegah penularan, mencegah progresifitas disabilitas, dan menghentikan stigma dan diskriminasi dan eksklusi yang timbul di masyarakat. Sesuai program NLR nih!

Poin pentingnya, kusta ini tidak akan tuntas jika masih banyak stigma negatif tentang kusta, stigma negatif masih tinggi jika pemahaman masyarakat tentang kusta masih minim. Ditambah jika tidak ada sinergisitas. Wah, kaoam terwujudnya Indonesia bebas kusta?

Inilah momentum yang pas di Hari Kesehatan Nasional ini kita mengingatkan kembali untuk bahu membahu untuk Indonesia sehat dan bebas kusta. Dimana peran yang kita ambil disesuaikan dengan porsi kita masing-masing.

Nah, Sobat Hamim bisa mengambil peran dalam rangka mewujudkan Indonesia bebas kusta ini! Sinergisitas ini bukan hanya dilakukan oleh pemerintah, LSM, perusahaan saja melainkan masyarakat juga. Termasuk kita.

Yuks kita bisa kok, memberikan peran kecil dengan memberikan edukasi orang-orang disekitar kita. Apakah Sobat Hamim sepakat?





Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

6 komentar

  1. Iya bener bgt mbak, buat mencapai Indonesia sehay bebas kusta memang butuh bahu membahu banyak pihak. Diharapkan stigma negatif yang ada juga terhapuskan, jd para penyandang bisa terdiktesi, berobat dan sembuh. Penyintas jg ttp bs produktif :)

    BalasHapus
  2. Kuncinya memang deteksi dini dan pengobatan tuntas. Sebenarnya gejala kusta ini bisa dideteksi sedini mungkin dan jika pengidapnya kooperatif selama menjalani perawatan maka kusta bisa sembuh. Kuncinya adalah berobat tuntas maka kusta bisa sembuh tanpa cacat. Semoga makin banyak yang teredukasi.

    BalasHapus
  3. salah satunya dengan menulis artikel tentang kkusta ini salah satu peran yang kita ambil ya mbak. semoga kasus kusta di indonesia semakin menurun drastis

    BalasHapus
  4. Ngomongin kusta memang menakutkan. Dulu sangat takut tertular, setelah tahu edukasi ini, jadi semangat buat ikut serta mensosialisasikan

    BalasHapus
  5. Lengkap sekali mbak catatannya. Jadi ingat waktu kuliah S1 dulu... Btw, lebih susah mengubah stigma negatif masyarakat (thd penyakit kusta) daripada menyembuhkan kusta itu sendiri lo.

    BalasHapus
  6. Aku setuju banget mba dengan memberikan dukungan mental terhadap penderita kusta. Karena mereka butuh support dari orang sekitar agar bisa menjalani pengobatannya dengan selesai sempurna.. Karena pengobatannya memang cukup lama ya mba :(

    BalasHapus

Posting Komentar