=Hamimeha

Bekal Cinta di Kotak Makan Bersama KRAFT Quick Melt

18 komentar
Konten [Tampil]
Bekal cinta bersama KRAFT Quick Melt
Hai Sobat Hamim, semoga dalam kondisi sehat ya!

Tulisan "Bekal Cinta di Kotak Makan Bersama KRAFT Quick Melt" kali ini terinspirasi dari sebuah permasalahan sesama wali murid yang curhat di sesi parenting pekan lalu.

Jadi begini ceritanya,

"Mau tanya Bun, anak saya usianya menjelang lima tahun. Tapi masih tantrum. Apakah itu wajar?"

Yupi, kira-kira apa jawabannya dari sang pemateri yang juga psikolog dan concern di psikologi perkembangan dan pendidikan itu?

Yuks kita belajar bareng ya, serta apa hubungannya nih sama KRAFT Quick Melt? Baca terus ya, semoga ada pelajaran dan kita aplikasikan bersama!

Belajar dari Anak Tantrum, Salah Siapa?


Sebuah pertanyaan dari salah satu wali murid di sekolah kakak saat parenting cukup menggelitik. Antara penasaran dan juga ikut prihatin. Sebab, umumnya tantrum terjadi pada anak usia 2-3 tahun untuk mengekspresikan emosi mereka.

Tapi memang tak bisa dipungkiri, pertanyaan dari wali murid tersebut tampaknya dihadapi oleh beberapa orang tua lainnya. Anaknya masih tantrum bahkan ketika anaknya sudah di jenjang TK B.

Lebih menarik lagi, tanggapan dari psikolog selaku pemateri siang itu. "Boleh tahukah, apakah tantrumnya sering terjadi?"

Sang ibu menjawab, "Beberapa kali Bun, ini tadi pagi waktu sesampai di sekolah entah kenapa dia tiba-tiba ngambek dan akhirnya tantrum nangis-nangis."

Jujur, sebagai orang tua yang sesama memiliki putri seumuran ikut deg-degan mendengar jawaban dari sang psikolog kala itu. "Jadi Bu, biasanya tantrum pada anak terjadi karena pola asuh yang tidak konsisten."

Deg!

Aku pribadi ikut tertohok. Apalagi saat dituturkan lebih jelas oleh Bu Mayang pemateri parenting ketika itu, "Mengingat ibu yang juga bekerja dan ananda yang diasuh oleh Budhe-nya. Mungkin ada sesuatu yang dirasakan oleh si anak."

Dari panjang lebar penjelasan yang disampaikan pemateri dan permasalahan yang diutarakan oleh wali murid itu. Aku mencoba mengambil sebuah kesimpulan sederhana bahwa sesibuk apapun kita pastikan anak merasa jadi prioritas.

Buatlah kenangan dan kesan yang membuat anak merasa dirinya memang berharga. Yups, quality time! Adalah jawaban yang ditawarkan oleh Bu Mayang dalam mengatasi tantrum si ananda.

Ah, aku merefleksi diriku yang akhir-akhir ini memang jadi semakin sibuk sejak ambil study lanjut. Bagaimana kabar perasaan si kakak selama ini?

Suatu hari kakak-putri sulungku-menyampaikan, "Bunda, aku gak mau beli jajan dan susu buat bekal?"

Ohho, aku kaget donk. Kenapa si kakak menyampaikan demikian? Padahal kalau beli dia bisa beli bekal sesuai kesukaannya. Beli susu kemasan favoritnya.

Ternyata usut punya usut, kakak melihat teman-teman membawa bekal nasi. Padahal sebenarnya, alasan teman-temannya bawa nasi karena kata orang tua mereka yang sempat aku tanyai adalah anak-anaknya tidak mau sarapan di rumah.

Berbeda dengan kakak, dia selalu aku siapin sarapan meski seadanya olahan di dapur kami. Namun rupanya, bekal yang mungkin terlihat istimewa berupa olahan tangan masing-masing ibu mereka menjadi kelihatan "wah" di mata putri sulungku.

Tidak heran sih, sebab di awal dia masuk sekolah aku sering membuat sesuatu untuknya sebagai bekal. Namun, saat jadwal perkuliahan di mulai selama ini waktunya terasa kurang dan energiku habis untuk berkreasi.

Mungkin ini pula pemicu kakak di beberapa waktu terakhir terlihat lebih merajuk dari biasanya. Aku yang sudah "spaneng" dengan beberapa tugas kuliah dan kerjaan freelance kadang tersulut juga amarahnya.

Ah, di titik ini aku seringkali mencoba merenungi. Ketika anakku melakukan sesuatu baik sikap, perbuatan, atau bahkan kata-kata yang kurang menyenangkan dihadapanku, aku mencoba merefleksi diri "Ada apa dengan anakku?"

Pun ketika ada seorang kawan menyampaikan jika anaknya sedang tantrum, "Kenapa anak tantrum?" Sebenarnya saat anak tantrum bahkan ketika usianya yang bukan batita, "Salah siapa?"

Oke, daripada kita mencoba mencari kambing hitam. Alangkah baiknya jika kita coba belajar bersama apa itu tantrum dan bagaimana mengatasinya?

Yuks Sobat Hamim kita belajar bersama!

Sekilas Tentang Tantrum

Yups, bicara tentang tantrum sejatinya tidak hanya ditemui pada anak-anak lho! Bahkan orang dewasa bisa mengalami tantrum dan dilansir dari laman psikologi.uma.ac.id disebutkan bahwa tantrum pada orang dewasa bukan hanya masalah emosi biasa, akan tetapi mampu menjadi indikasi adanya gangguan mental tertentu.

Wah, wah!

Bisa nih kapan-kapan kita bahas ya Sobat Hamim. Namun kali ini kita akan fokus pada tantrum yang umum terjadi pada anak-anak. Yuks simak ulasannya!

Apa itu Tantrum?

Oke, dipandang dari kacamata psikologi. Dalam buku pegangan para psikolog yakni Santrock (1995) menyebutkan bahwa Rudolph Dreukurs seorang pakar pengasuhan anak menekankan bahwa alasan utama yang menyebabkan anak-anak berperilaku buruk ialah keputusasaan.

Ia–Rudolph Dreukurs–mengatakan bahwa anak-anak yang putus asa seringkali menuntut perhatian yang tidak semestinya, dan orang tua biasanya menanggapinya dengan mencoba memaksakan kehendak mereka terhadap anak-anak, yang menyebabkan orang tua terjebak didalam siklus ini, dan benar-benar menghukum anak atas perilaku mereka yang buruk.

Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa tantrum adalah salah satu bentuk ekspresi emosional dalam bentuk kemarahan yang meledak-ledak pada anak dikenal dengan perilaku tantrum. Dan jawaban ini memang selaras dengan penjelasan Bu Mayang pemateri parenting yang aku ikuti.

Ditilik lebih jauh, tantrum memang memiliki banyak pemicu sih. Yuks kita cermati ulasan di bawah ini!

Definisi tantrum
Alasan Anak Tantrum

Sebagaimana aku sebutkan di awal, bahwa pemicu tantrum bisa disebabkan oleh ketidakkonsistenan orangtua dalam menerapkan aturan, atau pola asuh yang tidak konsisten, serta reaksi orang tua menghadapi tantrum anak di kejadian sebelumnya.

Dalam kondisi seperti ini pernah juga aku rasakan. Ketika kakak berusia dua tahun, kami berencana pergi berkunjung ke suatu tempat. Namun tampaknya dia merasa tidak nyaman jika kami harus berjalan kaki menuju ke tempat yang dituju.

Mungkin dalam pikirannya, kenapa tidak pakai mobil seperti biasa? Yups, kami memang sering menggunakan taxi online ketika berpergian. Namun, kondisi saat itu kami harus pergi keluar gang tempat taxi online yang kami pesan.

Akan tetapi, bocah dua tahunku sudah merasa apa yang aku lakukan tidak sesuai kehendaknya. Akibatnya, sepanjang perjalanan menuju tempat taxi online tersebut parkir si kakak "gondok" bahkan sempat mogok jalan dan berguling di tengah jalan gang kami.

Bagaimana reaksiku?

"B" aja sih alias biasa saja. Sebab aku mulai memahami jika kakak mogok jalan itu artinya ada yang kurang sesuai keinginananya.

Nah, berbeda dengan reaksi ibuku yang saat itu memang bersama kami. Beliau panik dan otomatis merengkuh si kakak. Dengan alasan kasihan dan malu dilihat orang.

Dan, yups!

Sejak itu aku mulailah mengamati bahwa kakak melakukan trik yang sama untuk meminta sesuatu. Ehm, mungkin Sobat Hamim pernah mengalami kejadian yang serupa.

Aku pribadi masih dalam tahap belajar menjadi orang tua dan menata reaksiku dengan sikap kakak yang meledak-ledak. Orang bilang usia dua tahun adalah fase terrible two.

Apa itu terrible two?

Apa itu terribel two
Alhamdulillah, seiring berjalan waktu. Aku dan putri sulungku belajar banyak hal. Tak hanya si gadis kecilku yang mulai berkurang tantrumnya. Akupun mulai bisa mengendalikan emosi dan belajar untuk bijak dalam bereaksi.

Ah, jadi orang tua memang belajarnya tiap hari ya Sobat Hamim!

Oke, apakah hanya segelintir itu saja pemicu dari tantrum pada anak?

Berdasarkan berbagai referensi yang aku baca. Ada beberapa tokoh yang mengklasifikasikan faktor pemicu tantrum dari anak dan orang tua.

Namun agar lebih mudah dipahami dan dekat dengan keseharian kita.

Aku mencoba menguraikan ada lima alasan anak tantrum :

Pertama, terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu

Yups, ini jamak kita temui. Misal anak pergi ke supermarket lalu minta es krim. Namun tidak perbolehkan. Maka tantrum bisa jadi senjata bagi anak-anak.

Dan rupanya, hal ini bisa jadi jurus anak-anak yang dirasa efektif jika ada kejadian sebelumnya. Yakni orang tua ternyata akhirnya mengalah menuruti anak karena tantrumnya tersebut.

Nah, pengingat bagi orang tua untuk hati-hati dengan reaksi kita ya.

Kedua, ketidak mampuan anak mengungkapkan diri

Terbatasnya kemampuan komunikasi membuat anak memilih cara lain untuk mengekspresikan. Dan hal ini seringkali disalah artikan oleh orang dewasa.

Maka inilah penting membangun bounding dengan sering mengajak anak berkomunikasi. Agar kita tahu isyarat dari anak-anak meski tanpa ungkapan verbal

Ketiga, tidak terpenuhinya kebutuhan

Di poin ketiga ini bisa berupa kebutuhan biologis seperti lapar, ngantuk, lelah ingin istirahat dan bisa jadi kebutuhan akan perhatian.

Yups, perlu Sobat Hamim ketahui meksipun tantrum jarang dilakukan hanya untuk memanipulasi orangtua. Ada sebagian anak menjadikan tantrum sebagai bentuk mencari perhatian penuh orang dewasa.

Dan hal ini terjadi ketika aku menjadi ibu dari dua balita. Di saat si adik lahir, konsentrasiku memang sedikit terpecah. Dan rupanya, hal ini membuat kecemburuan pada si kakak.

Ketika itu, putri sulungku yang memasuki usia tiga tahun itu menunjukkan tantrumnya untuk menarik perhatian kami. Meski sempat tersulut namun akhirnya kami menyadari akan kebutuhannya terhadap perhatian kami.

Termasuk apa yang dilakukan di beberapa waktu terakhir. Karena cemburu pada temannya yang membawa bekal ke sekolah. Ia pun tiap pagi menunjukkan sikap "tidak menyenangkan" kepada kami. Seolah mencari cara agar kami tersulut emosi. 

Keempat, pola asuh orang tua

Tidak bisa kita pungkiri bahwa perilaku anak adalah hasil dari bagaimana orang tua mengasuh anaknya, tak terkecuali munculnya perilaku tantrum.

Misal, anak yang terlalu dimanja dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan bisa tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak.

Bagi anak yang terlalu didominasi oleh orang tuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku tantrum. Orang tua mengasuh anak secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak tantrum.

Yups, contoh kedua bisa kita sebut juga sebagai bentuk anak ingin menunjukkan sikap menentang otoritas.

Kelima, frustasi dengan kemampuan yang terbatas

Anak ingin menunjukkan kemampuannya melakukan beberapa hal sendiri, seperti berpakaian,atau menemukan potongan puzzle, tetapi tidak berhasil menyelesaikannya.

Sobat Hamim pernahkah mengalami anak tiba-tiba mengamuk hanya karena tidak bisa mengancingkan baju. Sedangkan di sisi lain kita tidak boleh membantunya.

Pasalnya, hal ini juga dipicu oleh keinginan anak untuk menunjukkan dirinya bahwa mereka bisa mandiri namun kemampuannya terbatas. Yups, akhirnya merasa marah dengan dirinya.

Yupi, begitulah ulasan dari rangkuman serta pengalaman pribadiku mengamati apa saja faktor penyebab tantrum pada anak.

Harapannya, dengan kita mengetahui faktor penyebab ini kita jadi tahu bagaimana bersikap, bereaksi, dan jika memungkinkan melakukan pencegahan.

Mungkin bisa simak juga bentuk-bentuk tantrum di bawah ini!

Bentuk-bentuk tantrum

Tapi sebenarnya apakah tantrum itu suatu hal yang buruk bagi anak? Dipandang dari sudut pandang orang awam sih mungkin terlihat negatif ya Sobat Hamim.

Namun ternyata, tantrum adalah fase yang memang menjadi bagian perkembangan anak lho! Yuks deh simak penjelasannya di bawah ini!

Apakah Tantrum Bermanfaat?

Dari berbagai studi penelitian maupun ditinjau dari fase perkembangan anak. Dengan kata lain, perilaku tantrum adalah perilaku yang bersifat universal dan normal terjadi pada anak.

Namun catatannya adalah pada respon orang tua menghadapi anak ketika tantrum. Sikap yang tidak tepat ketika merespon anak yang tantrum akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan berikutnya.

Sejatinya, ketika anak tantrum seharusnya menjadi peluang bagi orang tua untuk mengenalkan emosi marah dan bagaimana cara mengatasinya.

Anak akan belajar tentang emosi, bagaimana mengekpresikan dan mengendalikannya. Jika tepat maka ini akan memberi dampak yang baik pada kecerdasan emosi dan kesiapan belajar anak.

Jika sebaliknyan bukannya menjadi disiplin dan belajar memecahkan masalah yang dihadapi secara solutif tetapi menjadi semakin
destruktif dan agresif.

Nah, jadi apakah tantrum itu bermanfaat? Di fase usia anak 0-48 bulan dianggap wajar. Namun jika di usia 5 tahun ke atas anak masih sering mengalami tantrum sebaiknya berkonsultasi ke profesional sih Sobat Hamim.

Aku berharap sejak ditulisnya artikel ini kita belum terlambat untuk melakukan pencegahan ataupun tindakan yang bisa kita lakukan mengatasi tantrum pada anak.

Yuks aku kasih tipsnya!

Jurus Mengatasi Tantrum Pada Anak Usia Dini

Aku coba kutip hasil penelitian yang menjadi referensiku ya Sobat Hamim, dari sebuah jurnal menunjukkan ;
"Berdasarkan penelitian Gina dan Jessica (2007) ditemukan bahwa orangtua sering sekali merespon anak yang tantrum dengan cara yang
tidak tepat, yakni 59 % mencoba menenangkan anak, 37 % mengacuhkan dan sebanyak 31 % menyuruh anak diam."
Tindakan yang tidak tepat ini rupanya membuat tantrum pada anak berlarut-larut. Bahkan bisa terbawa hingga mereka dewasa.

Nah lho, masih ingat kisah yang aku tulisakan di awal bukan. Seorang anak yang tantrum sesaat sesampai di sekolah padahal di rumah terlihat baik-baik saja.

Dari kisah ini aku jadi menyoroti, tantrum yang tidak terselesaikan membuat anak jadi bingung dengan emosi yang sedang dia alami. Aku tidak menyalahkan kondisi kedua orang tuanya yang mungkin harus bekerja dan menitipkan anak tersebut kepada Budhenya.

Namun aku mencoba merefleksikan diri pada putri sulungku yang setiap pagi juga mulai merajuk. Banyak tingkahnya yang membuat kami geram. Mulai dari alasan air dingin, takut terlambat padahal dia masih mengantuk, males karena pulangnya siang jadi panas (oh ya sekolah kakak dan rumah kami cukup jauh dan butuh waktu satu jam), dan lain sebagainya.

Setelah aku coba telusuri berbekal nasihat dari Bunda Mayang selaku pemateri parenting kala itu. Aku coba memahami kondisi kakak dengan mengajaknya berkomunikasi.

Tips Mengatasi Tantrum Ala Bunda Hamim


Tips mengatasi tantrum ala aku saat si kakak tantrum:

Pertama, aku mencoba mengindetifikasi kondisi sebelum atau saat terjadi tantrum. Aku mencoba mengenali apa yang membuatnya sampai melakukan "pemberontakan".

Sobat Hamim bisa membaca lagi faktor pemicu tantrum ya, agar tahu alasan mengapa aku melakukan hal ini.

Kedua, menjaga emosi untuk tetap stabil

Sejatinya, tantrum adalah cara anak agar tahu bagaimana respon kita terhadap apa yang telah mereka lakukan.

Ya, bisa kita pahami bagaimana jika anak cari perhatian kita. Dia akan membuat suatu ulah yang membuat perhatian kita terpusat padanya. Dan itulah yang terjadi pada putri sulungku.

Kuncinya, jangan panik jangan reaktif. Kendalikan diri, emosi, dan keadaaan. Selama ketika anak tantrum tidak membahayakan dirinya dan lingkungan sekitar maka kita cukup mengamati dengan tidak meninggalkannya ya Sobat Hamim.

Kalau tips dari aku, kita berdiri saja di sebelah si anak. Lalu kita amati, kita awasi, dan kita tetap memberikan perhatian kepadanya. Poin yang tak kalah penting, jangan memojokkan si anak ya. Hindari perkataannya yang mengkritik atau bahkan menjelakkan apalagi mengancam. 

Aku mencoba memahami sih, apa yang membuatnya cari perhatian. Apakah karena kesibukkan kami di satu bulan terakhir ini?

Ataukah rasa cemburunya pada adik? Atau pada teman-teman sekelasnya? Dan ternyata, aku menemukan fakta bahwa si kakak merasa dirinya menjadi nomor dua.

Ah, aku cukup melting saat si kakak bercerita tadi ada teman yang makan di sekolah. Dan dia ingin seperti mereka.

Kata kakak saat kami berdua sedang ngobrol, "Kata Bunda, kalau kakak sekolah mau bikin bekal buat Kakak."

Jleb banget gak sih!

Yups, memang mengiris sekali rasanya ketika itu. Oh ya, perbincangan ini terjadi setelah ada momen kami duduk bersama di suatu tempat hanya aku dan kakak saat dijemput pulang.

Nah, ini dia poin ketiga. Jurus jitu untuk atasi tantrum ala aku.

Ketiga, ciptakan qualty time bersama anak

Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Bunda Mayang. Di tengah kesibukan yang luarbiasa, para orang tua pekerja atau mungkin kuliah seperti aku ini.

Memanfaatkan waktu dan menyediakan dengan seoptimal mungkin untuk membangun kesan, pengalaman, kebersamaan, dan kenangan yang menyenangkan dengan anak adalah salah satu tindakan yang tepat untuk mencegah munculnya tantrum.

Apalagi jika si anak di usia pra sekolah seperti kakak. Kemampuannya berkomunikasi seharusnya lebih dari cukup untuk bisa diajak ngobrol dari hati ke hati.

Meskipun demikian, seorang anak tetaplah anak. Mereka membutuhkan perhatian kita. Menjadi prioritas adalah momen berkesan bagi anak. Maka ciptakan waktu yang berkualitas dengan anak sebisa mungkin.

Bukan tentang banyak atau lamanya waktu kita bersama anak, tapi seberapa kualitas waktu kita bersama anak. Tanpa distrak apapun. Hadir secara utuh bersama mereka!

Bisa?

Ini adalah momen tersadarkannya aku dari kekhilafanku selama ini. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan momen kebersamaan bersama duo sholihahku.

Apa itu?

Bekal Cinta di Kotak Makan untuk Kakak


Yuhuiii, sesuai permintaan si kakak. Bahwa dia ingin seperti temannya yang juga membawa bekal. Serta menepati janjiku di masa dia sebelum sekolah.

Aku berusaha untuk menyiapkan bekal untuk si kakak. Bukan sekadar sebagai bentuk rasa bersalah. Namun, aku ingin menunjukkan bahwa si kakak berharga bagi kami.

Saat dia di sekolah, cinta kami kepadanya juga sama. Selama ini dia merasa bahwa adik punya waktu lebih lama dengan ayah dan bunda. Sedangkan dia harus ke sekolah.

Ya begitulah!

Akhirnya aku membuat keseruan di akhir pekan bersama kakak dengan mencoba menu bekalnya untuk sekolah.

Saat ku tanya, "Kenapa sih harus bawa bekal dari rumah, kan enakan beli?"

Jawabnya sangat jelas, "Lebih enak dan sehat!"

Hahahaha aku cukup tergelak saat dia memberi jawabnya yang di luar dugaanku. Oke sayang, kita eksekusi!

Caraku Membuat Anak Merasa Berharga

Di akhir pekan ini, aku membuat momen berkesan serta pengalaman yang menyenangkan bersama kakak.

Menciptakan kenangan manis agar ia tahu bahwa dia adalah seorang anak yang berharga bagi kami. Yang selalu kami sayang dan cintai. Dan menjadi prioritas di tengah kesibukkan kami.

Apa yang kami lakukan?

Masak-masak, yeay! Bermain peran yang paling kakak sukai.  Dan tentu aku akan  masak dengan menu simple, praktis, sehat, dan anti gagal deh! Sobat Hamim bisa mencobanya di rumah nanti ya! Yuks simak pengalaman kami membuat bola cinta!

Bola Cinta Isi KRAFT Quick Melt

Yuhuii, aku bisa jamin ini adalah resep anti gagal dan siapapun bisa membuatnya. Murah, mudah, sehat, dan tentunya hemat waktu banget donk!

Apa saja bahan Resep Bola Cinta

Resep bola kentang KRAFT Quick Melt
Bahan-Bahan


Kentang satu buah besar (atau sesuai kebutuhan)

Bamer baput secukupnya menyesuiakan ukuran kentang

Kaldu bubuk (opsional)

Gula sesuai selera

Garam sesuai seler

Telur satu butir

Sosis dua buah

KRAFT Quick Melt

Tepung panir

Minyak

Daun seledri

Cara Membuat

1.Goreng kentang dan bamer baput setelah dikupas dan dibersihkan

2. Haluskan kentang, bamer, baput, dan tambahkan gula, garam, dan kaldu bubuk sesuai selera

3. Goreng sosis lalu potong kecil-kecil untuk isian

4. Potong dadu keju KRAFT Quick Melt

5. Bulatkan kentang yang telah dihaluskan tadi lalu isi dengan keju KRAFT Quick Melt dan sosis


6. Masukkan bulatan ke adonan telur yang sudah dikocok dan tepung panir untuk lapisan

7. Siapkan minyak dengan panas sedang lalu goreng deh!

8. Bola cinta sudah siap dihidangkan!

Jujurly, ini pertama kalinya aku membuat bola kentang isian keju KRAFT Quick Melt. Aku pikir bakal aneh dan berhasil gak ya?

Wow, ternyata sukses di pengalaman pertama lho! Enak pula! Si Kakak yang biasanya tidak suka perkedel buatanku jadi lahap dengan bola cinta kentang isi KRAFT Quick Melt ini.

Aku happy sekali! Si kakakpun terlihat ceria sepanjang melakukan aktivitas memasak bersama di akhir pekan ini.

Untuk sebagian orang mungkin melibatkan anak untuk proses memasak itu ribet. Namun untuk mengisi tangki cinta si anak dan menjadikannya merasa berharga. Mengajak anak masak bareng ternyata seru lho!

Banyak manfaat saat kita mengajak anak masak. Selain membangun kelekatan kita denganya, kita secara tidak langsung sedang mengasah kemampuan motorik dan sensorik anak. Ditambah lagi, memasak adalah keterampilan hidup yang sebaiknya kita ajarkan pada anak sejak dini.

Termasuk bentuk membangun kepercayaan diri dan tanggung jawab anak juga kan. Kita sadar bahwa anak kita akam tumbuh dewasa dan suatu saat dia harus hidup mandiri.

Maka, pengalaman memasak sebagai bentuk quality time ini akan menjadi bekal mereka. Apalagi pakai resep anti gagal bersama KRAFT Quick Melt kan ya!


Kenapa sih dengan KRAFT Quick Melt?


Ide beka anak
Yups, sebenarnya aku mau bikin bola nasi isi jamur, ayam, dan keju untuk kakak. Sayangnya, bahan yang ada di rumah ternyata kentang.

Jadi ya sudah deh eksekusi bola kentang isi keju. Sekaligus challenge buat kami memanfaatkan bahan yang ada. Beruntungnya kami selalu stok keju berbagai varian dari KRAFT. Nah, salah satunya adalah KRAFT Quick Melt.

Memang andalan sih keju KRAFT ini, selain dilihat dari kualitasnya yang merupakan komitmen dari KRAFT untuk selalu menghadirkan produk keju berkualitas.

Salah satunya adalah KRAFT Quick Melt yang bisa dijadikan andalan buat ibu sibuk dan mengedepankan kepraktisan namun tetap sehat ya!

Menariknya lagi, Sobat Hamim bisa berkresasi berbagai menu baik baik digoreng, dipanggang, ataupun dikukus dengan KRAFT Quick Melt. Sebab KRAFT Quick Melt sangat mudah untuk diterapkan ke banyak menu makanan bahkan jika kita melakukannya hanya dengan menggunakan bahan yang ada di rumah seperti yang aku lakukan tadi. Bisa banget kok!

Aku suka karena dari KRAFT Quick Melt ini cepat leleh hanya dalam 3 menit dan bertekstur sempurna, serta memiliki rasa lezat dan gurih keju yang khas. Gak enek sih! Lelehan kejunya pas!

Terbukti tak hanya si kakak yang suka, seisi rumah juga suka dengan kreasi bola cinta isi KRAFT Quick Melt olahan kami.

Alasan pilih Kraft quick Melt
Seru dan menyenangkan! Waktu 30 menit tidak terasa lho! Masih ada stok untuk bekal kakak esok hari. Eits, kakak juga sudah request roti sandwich, pisang coklat,  risoles lumer, ayam katsu, dan lumpia isi keju telur.

Ohhoo, tampaknya aku bakat untuk buka jualan jajanan sehat nih Sobat Hamim hehhee. Atau ada yang mau ide kulineran di salah datu Sobat Hamim blogger asal Jember juga bisa nih.

Kotak Makan Bukan Sekadar Bekal Bagi Anak


Wah, gak kerasa nih curcolanku tentang bola cinnta di kotak makan bersama KRAFT Quick Melt panjang juga ya Sobat Hamim.

Sebenarnya kisahku maupun cerita orang tua dari teman anakku tadi semoga bisa jadi hikmah. Ku tuliskan ini karena aku menyadari bahwa ternyata kotak makan yang dibawa oleh anak-anak ke sekolah bukan sekadar bekal biasa.

Bagi mereka, bekal yang kita buat dari tangan Bundanya itu istimewa. Mereka merasa dihargai, disayang, dicinta, dan dijadikan prioritas. Kadang, kita tidak menyadari bahwa cinta itu perlu pembuktian bagi anak-anak ya hehehe.

Di awal sekolah aku teringat celoteh kakak, "Jadi besok aku bawa bekal apa ya Bunda?"

Namun aku bereaksi,"Kamu sekolah kok yang ditanya bekal sih kak!"

Jujur aku menyesali tanggapanku itu. Namun kini aku tak ingin mengulanginya. Dan aku akan mencoba membuat bekal dari tanganku untuk kakak semampuku selagi bisa.

Tipsnya, bebikinnya di akhir pekan ya! Jangan lupa stok KRAFT Quick Melt yang bisa dijadikan bahan andalan membuat cemilan maupun bekal!

Sudah punya ide menu bekal untuk anak besok pagi?


Sumber : 

1. Jurnal : MENGENAL PERILAKU TANTRUM DAN BAGAIMANA MENGATASINYA, oleh Syamsuddin, 2013

2. Skripai : PERILAKU TANTRUM PADA ANAK USIA TAMAN KANAK-KANAK DI KOTA PALANGKA RAYA, oleh UMI SALAMAH, 2019 

3.https://psikologi.uma.ac.id/kenali-tantrum-pada-orang-dewasa-dan-cara-menanganinya/
Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

18 komentar

  1. Berarti kalau si kecil udah tantrum keluarga di rumah harus cepat peka ya. Noted nih penanganannya kak

    BalasHapus
  2. Seru sekali mengajari anak masak ya Kak. Quality time yang membuat anak merasa dicintai

    Oh ya soal bekal, harus lengkap pemenuhan gizinya. Alhamdulillah Kraft bergizi lengkap. Kalo udah dibekali dengan olahan Kraft anak-anak bahagia sekali.

    BalasHapus
  3. yummy, coba juga deh bikin di rumah sama anak resepnya mudah dan yg pasti bakal disukai anak karena ada kejunya

    BalasHapus
  4. Samaaa mba Hamiimm. Aku juga udah gatel banget pen pesen catering aja buat bekel sekolah anak2, tapi ku tahan. Aku memilih bikin bekal sendiri meskipun ngga unyu2 kek bento2 di Ig. Biar ada kenangannya buat anak-anak, kalo emaknya juga bisa bikinin bekel. Yah tapi kadnag juga beli jadi sih wkwkwkwk. Mangats deh ah, olahan Kraft juga selalu jadi menu pilihanku kok.

    BalasHapus
  5. baca artikel ini aku berasa kuliah menjadi mama nih Mba Hamim, wkwkwk.
    Banyak banget hal-hal positif yang bisa saya jadikan contoh ketika nnti menikah dan punya anak.

    Anyway bekal yang dibuat penuh cinta dari mama membuat hari-hari sang anak lebih bahagia yaa

    BalasHapus
  6. Anak saya paling suka bikin kue. Jadi tiap saya bikin kue, dia selalu nimbrung.. pas bikin corndog kraft quick melt juga gitu.. seneng banget dia..

    BalasHapus
  7. wah kejunya kita sama nih mba hamim :) btw anak tantrum itu emang ujian sabar kita ya orang tuanya, bca tulisannya jadi mengenang anak pas lagi kecil terus tantrum di tempat umum

    BalasHapus
  8. Sharing ilmunya panjang dan kereen, jadi inget jaman anak2 masih balita usia jeda 2th kakak adik.
    Saya tidak pernah punya pembantu, duku anak2 meski blm bisa bicara saya sering ajak bicara tunjukin pekerjaan rumahdkk. Tantrum pernah pastinya tp saya peluk puk puk puk punggungnya Alhamdulillah reda, kalau keinginan sesuatu ga tercapai nangis cm bentar saya jg ga biasakan menuruti apa yg dia mau.

    BalasHapus
  9. Lucu banget si Kakak, pinterr dia ngiris2nya udah bagus lho mbaa hihi.. Aku juga bikin sendiri bekalnya Isya meskipun ngga bagus dan estetik wkkwkwwkwk. untungnya dia malah ga suka yg aneh2.. hahaah..

    BalasHapus
  10. gemes amat sih bekal cintanya, ak juga kadang kalo pas lagi gak hectic suka bikin bekal cinta buat anak kesayangan mba, quick melt memang andalan buibu deh bikin snack yang lezat rasanya

    BalasHapus
  11. Kotak makan jadi salah satu wujud kecintaan bunda kepada si kecil. Dgn memberikan makanan yg bergizi plus disukai anak, hubungannya akan makin lekat. Kraft bs merekatkan keluarga nih.

    BalasHapus
  12. Pola asuh yg enggak konsisten emang ngaruh bgt, aku juga ngerasain. Apalagi kalau ada kakek neneknya, wah anak akan manja bgt. Disaat ini lah sebagai ortu berasa diuji..

    BalasHapus
  13. duh siapa yang gak tergoda sama nikmatnya hidangan pakai kraft :) kaya udah selalu menemani dari generasi ke generasi ya hihi :)

    BalasHapus
  14. huwaaa, memang yaa banyak banget hal-hal edukasi parenting tuh, dari hal yang sederhana aja sampe ke sisi psikologisnya anak, bener-bener harus belajar jadi good parents yaaa... bentuk perhatian dan kasih sayang bisa berupa hal-hal sederhana seperti membuat bekal ya, small things matter

    BalasHapus
  15. Betul ya..
    Yang stres ketika gak nyaman dengan perasaannya, keadaannya, gak hanya orang dewasa. Tapi anak kecil pun bisa merasakan stres sehingga diungkapkan dengan cara tantrum ini. Dan kalau orang dewasa gak merespon dengan baik, maka tantrum ini semakin menjadi-jadi ketika dewasa.

    Dengan memasak menu kesukaan anak menggunakan bahan KRAFT Quick Melt, maka sembari ngobrol dan berkomunikasi dengan ananda, semoga tersalurkan aliran-aliran emosi ini di saluran yang tepat.

    BalasHapus
  16. Sebagai orang tua, kita kudu belajar esktra ya kak. Terutama belajar mengelola perasaan sendiri saat menghadapi anak yang tantrum. Aku juga udah mulai belajar juga nih. Karena anak ku baru mau masuk di fase tantrum sekarang.

    BalasHapus
  17. Resepnya simple tapi bermakna ya. Nggak hanya kenyang, enak, dan bergizi, tapi juga sekalian bonding dengan anak :)

    BalasHapus
  18. Sejatinya, ketika anak tantrum seharusnya menjadi peluang bagi orang tua untuk mengenalkan emosi marah dan bagaimana cara mengatasinya.

    Setuju sekali dengan kalimat di atas. Karena menurutku. Ketika anak tantrum tuh, kita jadi tahu bagaimana anak mengekspresikan emosinya. Sekalian bisa diarahkan ke yg lebih positif

    BalasHapus

Posting Komentar