Cari Blog Ini

Senin, 24 Agustus 2020

Viral di Era Digital

 Memburu Viral di Era Digital

Oleh Hamimeha

Akhir-akhir ini kata viral menjadi familiar didengar. Bahkan dekat dengan keseharian kita. Beberapa waktu lalu, kita dihebohkan dengan tulisan layangan putus yang menyebar di dunia maya. Prank keluarga artis menjadi trending nomor satu di youtube. Serta masih banyak lagi tulisan, gambar dan video yang akan viral jika mendapat like, komen dan share berulang kali dari netizen. Tak hanya kalangan publik figure, setiap orang bisa menjadi viral dengan berbagai kemudahan media sosial di era sekarang. Asal kontennya menarik perhatian warganet.



Sayangnya, kecanggihan teknologi kurang diiiringi dengan nilai edukasi. Tak jarang konten dari yang viral ini lebih bersifat bercandaan atau hal yang mengandung unsur negatif dalam keseharian. Pelakor, bullyan, horor dan tema lain yang serupa mendominasi media sosial kita. Meski tak menafikan masih ada beberapa yang mengunggah hal positif, namun tak banyak dan seringnya tak begitu viral.

Fenomena ingin terkenal ini memang menggiurkan. Kemudahan bagi siapa saja mengakses internet dan membuat akun media sosial. Menjadikan viral adalah hal yang normal. Selain bisa dikenal banyak orang, hal tersebut bisa mendulang rupiah bagi pemilik akun. Akibatnya, banyak orang memburu konten yang bisa meledakkan viewers mereka. Sedihnya, demi konten yang bisa mencuri perhatian ini. Mereka seakan menghalalkan segala cara. Demi viral, seseorang bisa rela mengulik kehidupan pribadinya atau orang lain, membuka aibnya bahkan tak segan melakulan adegan berbahaya.

Ironisnya, negeri yang terkenal dengan adab budaya ketimuran yang baik. Kini luntur sebab memburu viral di era digital. Demi mendapatkan konten yang menarik, seseorang bisa menabrak batas norma yang berlaku. Seperti kasus pemuda yang menyeret hewan kurbannya dengan motor di momen Idul Adha bulan lalu. Tindakannya ini menyebabkan dirinya berurusan dengan pihak kepolisian. Dan masih banyak tindakan di luar nalar lainnya, hanya karena ingin viral. Buktinya, beberapa stasiun swasta membuat program yang berisi kumpulan cuplikan video viral warga +62 atau belahan dunia lainnya. Hal semacam ini tentu makin membuat keinginan viral senantiasa diburu masyarakat. Tak hanya generasi milenial, berbagai kalanganpun berlomba-lomba untuk viral.

Sejatiya, kemajuan teknologi menguntungkan bagi manusia. Kemudahan yang disuguhkan di era digital seharusnya memberikan peluang untuk bisa menyebarkan kebaikan. Upaya ini bisa dilakukan dengan aturan yang tegas dan bijaksana. Kontrol pemilik kekuasaan dan edukasi dalam bermedia sosial dilakukan sejak dini. Tanpa membatasi ruang mengekpresikan diri. Kerjasaman semua lini sangat diperlukan. Mulai dari lembaga pemerintahan, swasta dan pihak-pihak yang berkaitan.

Adalah tanggung jawab setiap dari kita untuk menjaga budaya luhur para leluhur. Agar tidak tergerus arus zaman. Sebaliknya, kita bisa melestarikannya melalui media yang ada. Mempertahankan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan turun menurun. Menyebarluaskannya, menviralkannya. Semoga semakin berjamur konten-konten kebaikan yang dibagi dan menginspirasi. Sehingga memburu viral di era digital ini membawa azas kebermanfaatan bagi banyak orang. 

Surabaya, 20 Agustus 2020

(artikel yang dikirim dalam challenge di acara webinar " Pena Baru di Buku Tua" )




Tidak ada komentar:

Posting Komentar