5 Alasan Bertahan Ngeblog



Setengah tahun yang lalu, aku akhirnya memulai untuk nulis melalui platform bernama blog. Sebuah laman yang sebenarnya tidak asing. Aku tahu blog sejak 2012 hanya saja sebagai bentuk pelampiasan membuang sampah hahaha. Menyedihkan ya?!

Kemudian aku coba buka lagi tulisan-tulisan lamaku. Ah, sereceh itu ya. Meski gak selalu berisi kegalauanku ya, tapi adalah karya berupa tulisan fiksi seperti cerbung. Yangmana jika dibaca lagi "aku bisa ya nulis fiksi hahaha."

Selebihnya tulisan curcol gak jelas. Ada tips-tips juga sih tapi gak begitu penting dan hasil copas. Statistiknya? Mana peduli. Kan hanya sebagai tempat sampah. Membuang kekesalan melalui tulisan alih-alih menyalurkan hobi. Sangat memalukan!

Akhirnya?
Aku tutup alamatnya. Berawal dari dorongan investor utamaku (partner hidup). Dia kekeh buat membelikanku domain. Dari mulai bayarin hingga jadi. Dan aku tinggal memamerkan. Hei dunia, aku punya blog lho. Namanya "www.hamimeha.com".

Bangga?
Oh no! Aku bahkan merasa ini sebuah tanggung jawab. Suamiku memberi tanggung jawab agar aku merawat blog itu, semangat untuk produktif nulis dan tentunya progres-progres lain. Apakah doi menuntut sebanyak itu? Tidak sama sekali. Itu hanya bentuk tanggung jawabku. Dia mah santai aja, ia hanya ingin aku berkembang dan terfasilitasi. Sebaik itu hehehehe.. terima kasih dari hatiku terdalam.


Selanjutnya?
Apakah aku sudah produktif? Blogku tenar dan berisi hal-hal yang bisa mendongkrak data statistiknya. Jelas belumlah. Apalagi moody banget kan si akunya ini. Beruntung aku masih bisa membuat komitmen buat nulis artikel min. 2 lah setiap bulannya. Dan alhamdulillah berhasil.

Lalu aku mau cerita apa sih?
Hahaha, maafkan ya pembaca. Ada hal-hal yang akhirnya aku bertahan menulis dan mengisi blogku dengan banyak catatan. Apakah itu?


1. Pertanggungjawaban

Ini sudah aku sampaikan di awal ya. Sejujurnya aku tipe orang yang agak canggung atas bantuan orang lain. Pun dia suamiku sendiri. Terbiasa hidup mandiri membuatku menata semua sendiri dengan usaha dan pencapaian yang aku buat sendiri.

Namun karena domain ini dibayarin. Akhirnya aku merasa bersalah jika tidak memberikan progres yang baik bukan? Meski doi tak meminta itu. Tapi ada perasaan lega saat aku bisa melaporkan, "Lihat blogku, ini tulisan terbaruku". Meski di jawab hanya dengan senyum atau kokentar singkat khas dia. Hahahaha.

Dunianku ribet amat ya, tapi begitulah!

2. Branding diri

Hahahahha, gak jelas banget ya. Apa pula yang aku punya hingga orang mau mengenalku.

Setelah aku pikir-pikir, sejatinya orang akan mengenal kita kalau kita juga show off dihadapan mereka dalam bentuk apapun yang kita bisa. Saat ini menulis adalah caraku menunjukkan ke dunia. Ada aku, yang hanya perempuan biasa yang ingin berbagi sedikit yang dia punga. Ilmu.

Ya, mungkin kusebut itu alasan terkeren yang bisa aku banggakan. Aku ingin berbagi lewat tulisan. Di era digital seperti ini, tentu memanfaatkan kemajuan teknologi adalah cara kita bertahan untuk berada di tengah masayarkat milenial.

3. Mengasah skill melalui kompetisi

Berjiwa kompetitif membuat aku harus berada di medan pertempuran. Karena inilah salah satu caraku agar tetap bergerak. Dominasi karakter sanguinis membuatku agak "bar-bar dan semau gue".

Maka membuat komitmen pada diri sendiri menulis blog hasil dibayarin inilah yang membuatku melangkah hingga sejauh ini.

Apalagi ternyata lomba blog itu hadiahnya lumayan lho hehehe. Karena kompetisi memaksa kita untuk memberikan persembahan terbaim dari tulisan kita. Maka ini memaksaku untuk membaca banyak referensi, menulis seapik mungkin, menjelaskan serunut dan mengeja apa yang diinginkan oleh penyelenggara di kompetisi ini.

Wah, wah menegangkan sekaligus menyenangkan. Tantangan ini memang hanya bisa dilakukan oleh tipe korelis pada umumnya. Salah satunya aku.

Apakah aku sudah menang dari semua kompetisi yang aku ikuti? Hahahah, jelaslah belum. Baru juga mulai. Aku akhirnya menchallenge diriku ikut lomba blog di awal tahun 2021. Dan kalah pula😆.

Sedih? Iyalah. Tapi setidaknya aku sudah berani melawan rasa takut pada diriku. Artinya aku menang atas perasaan negatif dalam diriku. Selamat!

4. Adanya inspirasi

Ya, kita tahulah motivasi itu sangat kita butuhkan apalagi di saat kita berada di titik lemah kita bukan? Untuk dunia perblog-an ini sejujurnya aku bersyukur bertemu dengan blog mbak Maritaningtyas. Aku mengenal nama beliau karena menjadi salah satu juara blog Lets Read.

Kemudian tanganku tergerak menjelajah blog beliau hingga bertemulah dengan blogspedia. Di saat aku membutuhkan mentor di dunia perblogan. Maka blog inilah yang menjadi panduan buat aku belajar. Meski belum habis kubaca semua.

Eits, tapi aku ada sesi khusus tentang blogspedia ya. Jadi tak kubahas di sini.

Nah, selain blogspedia. Ada lagi blog yang membuat aku semakin bersemangat menulis.

Blog apa itu?

Jelas. Karena minatku tentang kepenulisan maka yang aku ikuti adalah blog-blog kepenulisan. Sayangnya, ternyata blog ini gado-gado hahaha. Apakah aku kecewa? Alhamdulillah tidak. Aku beruntung dan bersyukur. Lagi-lagi, aku punya coach hanya melalui tulisan. Ah tak terbayang pahala dari amal jariyah yang beliau lakukan melalui tulisan.

Melalui tulisan para blogger yang tak pelit ilmu. Membuat kami para pemula jadi seakan menemukan guru tanpa harus membayar mahal. Tanpa harus bertemu langsung dangan keterbatasan ruang dan waktu. Tapi asal ada jaringan internet dimanapun dan kapanpun kami bisa langsung berselancar di blognya. Menyerap semua ilmu yang mereka tulis.

Blog ini berisi tentang kepenulisan, agama, tips-tips keseharian dan tentunya karya-karya beliau. Bahasanya ringan tapi berbobot. Satu lagi, jujur! Entah ya, tampilan tulisan yang apa adanya itu membuat aku jatuh hati pada blog itu. Dan secara tak sadar membuat aku terbuai mengklik tulisan-tulisan lain. Selalu mendapatkan insight baru tiap membacanya. Khususnya bab kepenulisan.

Aku yang mengklaim diri gak bisa nulis fiksi. Karena tulisan beliaulah, membaca makalah menulis cerpen yang ia posting dan aku baca. Membuatku jadi berani menulis fiksi lagi. Ah, senangnya! Apakah beliau tahu? Entahlah. Mungkin aku hanya 1 dari sekian orang yang menelusuri tulisan-tuliaan beliau.

Tag line, "Berbagi, lalu memberi arti". Sepertinya pas dengan karakter tulisan yang beliau posting di blognya. Sederhana dan tidak menggurui meski sarat akan ilmu. Ah, apakah kelak aku bisa membuat blog sekeren itu ya?

Aamiin. Semoga😊

Eh aku belum menyebutkan alamatnya ya.

Di sini lho...yuks langsung meluncur.



5. Upaya pengembangan diri

Sejujurnya, ini adalah bentuk aktualisasi diri sih. Aku menemukan menulis adalah bagian dari duniaku. Bahkan bisa dibilang ini passion menghasilkan untukku.

Aku senang, menikmati dan lagi menghasilkan. Hahahah. Bukankah prinsip ini penting agar kita bisa menjalani hari-hari kita yang melelahkan tetap menggairahkan. Prinsip rockstar dari buku your career is not your job membuka pikiranku.

Bahwa passion itu bukan sekedar senang-senang lalu lupa bahwa kita juga harus berjuang membuat dapur tetap mengepul. Nah tahu maksudnya kan?

Aku menulis, aku menikmatinya, dan aku mendapat sesuatu yaitu materi. Terlepas kepuasan, kebanggaan dan rasa nyaman. Kita tak perlu munafik bahwa bagaimanapun hal-hal yang bisa membuahkan rupiah itu menyenangkan. Sekaan eksistensi diri kita diakui.

Bagaimana kita bisa dibayar jika kita tak melakukan sesuatu yang bisa dijual bukan? Nah, inilah alasan terakhirku.

Sebutlah strongth why yang kesekian agar aku bisa mengaktuliasi diriku.

Terima kasih kepada para blogger-blogger yang sudah lebih dulu maju ke medan laga. Melalui komunitas kalianlah aku jadi tertular semangat 😆.  Menghasilkan cuan melalui tulisan. Asyik!


Kalau kamu?
Punya blog favorite yang menginspirasi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tummy Time, Penting Gak Sih?