Cari Blog Ini

Jumat, 26 Maret 2021

Brigertone: Duke and I

 

Diangkat dari sebuah novel penulis ternama di Inggris, yaitu Julia Quinn. Dengan judul yang sama dengan novelnya yakni Brigertone, Duke and I.  Serial romansa ini memang cukup menyedot beberapa peminat buku novel romantis. Sebab termasuk novel terlaris Julia Quinn. 

Sejujurnya aku tak terlalu suka dengan romantis-romantisan. Apalagi banyak sekali adegan vulgar dalam film ini. Jadi cukup menyita energi buat skip-skip jika ada tanda adegan-adegan berbahaya (taulah ya). Jadi aku sarankan film ini ditonton oleh kamu yang sudah menikah saja. Oke paham dari sini ya!

Lanjut, apa yang membuat aku tertarik dengan film ini?

1. Latar histori.
Aku suka jika ada film yang menceritakan tentang masa lalu berlatar sejarah. Ada budaya yang mungkin bisa jadi kita belajar saat menontonnya. Disebutkan setting latarnya adalah Inggris tahum 1813. Di awal kita disuguhi pemandangan suasana era abad 18. Bahkan sepanjang cerita kita akan mendapat gambaran bagaimana seorang perempuan diperlakukan. Tentu anak perempuan bangsawan ya, tentang kebiasaannya, perjodohannya dan skandal-skandal yang menyertainya. Begitulah!

2. Sosok Duke of Hasting yang memikat. Inilah kekuatan film 8 series ini. Bahkan sempat kuintip dalam novelnya sosok Duke yang diperankan oleh Rege Jean Page harusnya bisa mendominasi. Berlatar belakang sebagai ahli waris dari sebuah kadipaten. Namun karena trauma masa kecil membuatnya menjadi sosok yang misterius. Tak hanya itu, sebagai tokoh sentral dia mampu menyihir para penonton dengan perannya yang kuat sebagai Simon Basset, Duke of Hasting. Mewakili sosok pangeran berkulit hitam.

3. Sisi parenting yang selalu menarik buatku. Aku amati betul bagaimana 3 keluarga besar yang disorot dalam cerita ini melahirkan anak-anak yang seperti apa nantinya.

Jelas keluarga Hasting, dimana seorang suami penuh tuntutan karena menganggap dirinya adalah penguasa maka memiliki ahli waris adalah caranya mempertahankan kekuasaan. Bisa dibayangkan bagaimana dulu perbedaan warna kulit cukup membuat ricuh ya.

Karena mendapat perlakuan tuntutan yang tinggi, tidak diakui, diremehkan membuat Simon menganggap ayahnya adalah sosok monster yang menyeramkan dan menjadikannya musuh. Inilah yang membuat Simon tak ingin menikah apalagi memiliki anak. Dia bersumpah bahwa keturunan Hasting akan mati bersamanya.

Sebegitu dalamnya luka innerchild ini terbawa hingga dewasa. Beruntungnya, ada sosok Lady Danbury sahabat ibu Simon yang memberikan dukungan positif dan membuatnya bertumbuh menjadi sosok yang nyaris sempurna sebagai Duke ketika dewasa.

Keluarga Brigerton, sebuah keluarga bangsawan yang diliputi dengan rasa sayang, cinta dan penuh kehangatan yang berlimpah. Uniknya kedelapan anaknya memiliki inisial huruf yang merupakan urutan kelahiran mereka. Bisa ditebak kan? Daphne anak ke berapa? Hihihi.

Tumbuh di lingkungan keluarga yang bahagia membuat anak-anak dari Brigertone ini tampil percaya diri, tanggung jawab, cerdas dan berani. Bahkan ada dua tokoh yakni Carolin dan Frensisca yang belajar bahkan berkeliling ke luar kota atau negeri.

Sebab keluarganya inilah, khususnya jalinan cinta kasih kedua orang tuanyalah yang mendukung Daphne bercita-cita menemukan cinta sejatinya saat menikah nanti. Orang tua jadi role modelnya, wow keren ya!

Ketiga adalah keluarga Featherington, sebuah keluarga yang selalu suka nyinyir dengan keluarga Brigertone. Penuh tuntutan dan memaksakan diri.  Akibatnya ketiga anaknya tumbuh sebagai anak yang tak percaya diri tapi angkuh.

Suka bersembunyi di balik punggung ibunya. Dari 3 putrinya ada sosok 1 putri yang sering jadi bullyan saudarinya. Secara fisik memang bisa dibilang jauh dari ideal perempuan kebanyakan, cirinya doyan makan. Bisa dibayangkan? Tapi berbanding terbalik dengan daya nalar otaknya. Ia suka sekali baca buku. Meski demikian, akibat didikan penuh tuntutan membuatnya jadi minderan juga.

4. Ada sisi jurnalis yang dimainkan oleh Lady Whistledown berupa sebuah selebaran yang bisa menggocangkan jagat tradisi para wanita kala itu. Bahkan ada adegan yang nyaris membuat si tokoh utama perempuan yakni Daphne yang diperankan oleh Phoebe Dynevor menikah dengan anak saudagar. Gagal nikah, hanya karena terkalahkan oleh rumor yang ditulis oleh selebaran tersebut. Hanya berbekal sumber gosip yang beredar. Hwkakaka. Kekuatan media massa dan kata-kata ya, Lady Whistlefoen adalah sosok perempuan yang tahu segala hal. Khususnya tentang keluarga Ton. 

Mulut itu ya...lebih panjang dari rel kereta api.
Jadi teringat sebuah adegan drakor  di Mr. Queen. Ratu yang diperankan oleh  Shin Hye Sun membuat rumor melalui media massa mulut ke mulut. Dengan cara gosip yang disebar oleh para pelayan. Hahaha.. ya iya.

Gosip, rumor, beredah hanya dari mulut ke mulut. Istilahnya "Getok Majic ya". Jadi begitu ya traridisinya. Kekuatan media dalam membentuk opini publik. Jadi hati-hati gak semua yang kamu denger itu bener.

5. Innerchild. Ini aku sadari setelah aku mencoba mengikuti jalan cerita film ini dari awal hingga akhir. Simon, yang merupakan Duke Of Hasting memilih tidak menikah dan bersumpah tak ingin memiliki anak adalah karena balas dendam terhadap ayahnya.

Apakah sumpah itu dibuat secara sengaja? Iya. Karena bentuk trauma atas perlakukan sang Ayah yang sangat menginginkan ahli waris dan ambisi bahwa harus memiliki anak yang bisa dibanggakan membuat Simon menjadi benci sebagai Duke selanjutnya. Ini adalah trauma yang tak disembuhkan. Hingga akhirnya ia belajar  sembuh dari traumanya tersebut melalui dukungan positif orang di sekitarnya seprti lady Daudry dan Daphne, istrinya.

Di sini aku belajar pula dari Dahpne yang tampil sebagai orang yang mau belajar dari kesalahan orang lain, kejadian-kejadian di sekitarnya dan memahami suaminya. Pemikiran Daphne yang bijak inilah akhirnya mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka. 


Pesan moral dari film ini aku lihat dari karakter tokoh yang digambarkan begitu soft oleh penulis;

1. Anthony, putra sulung di keluarga brigertone. Meski di awla agak dikejutkan dengan tampilannya yang brutal tapi ternyata dia adalah sosok penuh tanggung jawab. Sebagai pengganti kepala kluarga tentu memikul tanggungjawab menjalankan perusahan dan melindungi keluarrga adalah hal utama baginya. Bahkan ia merelakan kekasih yang ia cintai. 

Sedikit ku intip karya Julia Quiin yang berjudul Viscount who loved me. Buku yang membahas tentang kisah anak pertama ini memang teramat jelas terlihat bagaimana sosok Ayah, Edmund. Memiliki peran besar atas terbentuknya kepribadian Anthony. Meski secara tradisi kala itu sosok ayah bagi kebanyakan orang adalah tak terlalu dekat dengan anak-anaknya. Maka Edmund melakukan hal sebaliknya.

Kehangatan dan peran seorang Ayah menjadi sempurna dan hebat bagi Anthony. Sebegitu menganggumkannya tokoh ayah ini bagi Anthony. Lagi-lagi pengasuhan ya hehehe.

2. Simon, sejak awal hingga episode ke-5. Kehadiran Simon memerankan sosok Duke muda sangat mempesona. Sepertinya ia memang terlahir sebagai sosok itu. Angkuh tapi sebenarnya menyimpan rasa tidak percaya diri akibat masa lalunya.

Jenaka, cerdas tapi juga romantis. Hal ini terlihat dari bagaimana ia menyampaikan argument kepada Daphne maupun ratu. Elegan gitu kata-katanya. Sejak awal, disebutkan oleh pengasuh Simon bahwa ia memang anak laki-laki berbakat. Sudah pandai menulis surat di usianya ke-5. 

Tak hanya itu sebagai kawan lama Antony dan Will, ia adalah tipe setia kawan. Sangat banyak adegan yang menunjukkan ini. Serta kharakter dan gestur tubuh yang hanya dengan melihatnya para wanita terpesona. Begitu sih kalau dalam bukunya. Dan ia, daebaklah! Rege Jean Page berhasil memerankan tokoh Simon secara sempurna. 
Hanya dengan cara memandang saja seakan ia telah berbicara. Seelegan itu. 

3. Colin, sangat tidak terlihat. Namun Colin putra k-3 keluarga Brigertone ini adalah sosok yang terhormat. Jempollah buat karakter Colin. Apalagi saat dia mau dijebak oleh Nn. Thompson. Kalimatnya bikin mati gaya, "Kamu adalah wanita terhormat dan aku harus menjaga kehormatan kita. Meski kondisi ini sangat menggoda."

Wah two thumbs up lah pokoknya. Padahal kedua kakaknya bisa dibilang laki-laki bebas. Colin berbeda bagaimana ia memperlakukan perempuan. Lelaki sejati !

4. Eloise, aku suka sekali sosok cerdik di cerita apapun. Sok bagai detektif dan pemberontak. Ia berambisi mengungkap siapakah Lady Whistledown.

Baginya Lady Whisteldown adalah sosok perempuan yanh dia impikan. Cerdas, mandiri dan bebas. Baginya apakah perempuan itu tidak bisa berbuat lebih selain menjadi istri dan di rumah saja. Wah wah, ini macam emansipasi wanita.
Dia memang kritis. Sejak awal cerita dia merupakan sosok yang unik. Salah satu dialog Eloise yang pemberontak, "Memiliki wajah yang bagus dan rambut yang indah bukanlah sebuah pencapaian. Tahukah Anda apa itu prestasi? Masuk universitas! Jika saya seorang pria, saya bisa melakukan itu."

5. Terakhir, Penelophe. Gadis dengan tampilan kurang menarik namun sangat peduli dengan  sekitarnya. Suka membaca buku dan realistis meski kadang minder dengan intimidasi yang dilakukan oleh ibu dan suadara-saudara perempuannya. Dan tentu yang paling mengejutkan di episode terakhir sosok misterius penulis bernama pena Lady Whistledown sekilas adalah Penelope. Benarkah demikian?


Wah menarikkan? Aku suka lebih ke segi karakter tokoh yang menggugah hahhaa. Jalan cerita secara garis besar sebagaimana  kisah romantis pada umumnya. Bertemu awalnya tak saling suka cenderung bertengkar seperti tom n jerry lalu menyimpan rasa dan jatuh cinta.

Konflik yang muncul lebih pada sisi trauma Simon dan keinginannya untuk tidak ingin memiliki anak. Itu saja sih, lebihnya konflik orang di sekitar khususnya konflik Nn Thomson yang terlihat sangat menyedihkan.

Sosok tokoh utama kok tak aku sebutkan?
Aku pribadi merasa standart. Sosok gadis yang sempurna, kaya, cantik, pinter, baik hati, multitalenta, sedikit ambisius, supel dan lugu.

Nah, mungkin daya tariknya di lugunya. Entah karena dididik seperti itu oleh ibunya atau karena ketiga kakaknya adalah laki-laki dan dia anak perempuan pertama. Atau karena overprotektif dari pihak keluarga sehingga membuatnya jauh dari kata "brutal atau pemberontak". Apalagi semua kekinginannya nyaris terpenuhi. Ditambah lagi puncak gemilah di ajang perjodohan dialah peraih komen terbaik dari sang ratu.

Itu sih review film ini. Hehehe. Rilis bulan Desember 2020 di Netflix. Tak hanya berhenti di kisah Dhapne tapi Julia Quin menulis 7 buku lain yang menceritakan kisah masing-masing anak di keluarga bangsawan Brigerton. Tentunya dengan kisah romantis mereka masing-masing.

Pesan kuat yang ditersirat dari film ini tak hanya menunjukkan innerchild yang terluka pada Simon Basset, Duke of Hasting. Melainkan di balik layar sebuah pernikahan bahwa setiap keluarga memiliki rahasianya sendiri-sendiri. Meski penulis menyampaikan dengan lugas namun kita tanpa sadar menikmati setiap konflik itu selama menyaksikan alur filmnya.

Sesuaikah film adaptasi ini dengan novelnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar