=Hamimeha

Bermain itu Penting

22 komentar

Tulisan ini aku dedikasikan buat membangun kesadaran tentang fitrah dunia anak yaitu bermain. Bermain itu penting berlaku untuk anak usia dini ya. Yuks sini kita baca pelan-pelan.

Fenomena sekitar kita!

"Aduh, main terus kapan belajarnya?"
"Main, main, main saja! Kalau belajar males!"
"Daripada main belajar sana!"
"Belajar lebih penting daripada bermain"



Atau kasus anak usia 3 tahun sudah sibuk ikut les ini les itu. Anak diajari membaca atau menulis sejak dini khawatir nanti gak bisa dibanggakan atau kalah dengan anak yang lain.

Dan lain sebagainya.


Familiar dengan argumen dan kasus-kasus di atas?

Yup!
Banyak, sering, atau mungkin kita sendiri melakukannya. 
Maka mari kita mengulik tentang bermain itu penting gak sih buat anak usia dini?

🏷 Belajar dari dua negara paling bahagia di dunia

 yuks, bismillah kita coba bongkar rahasia dari dua negara peraih negara terbahagia di dunia. Bahkan salah satu negara tersebut menjadi rujukan negata dengan tingkat sistem pendidikan terbaik. 

Negara apakah itu?
Yuks simak bagan berikut :




Indonesia peringkat keberapakah?


🏷  Kok bisa sih negara tersebut menjadi negara paling bahagia? 

Ah, paling karena negara maju, ekonominya sejahtera, rakyatnya terjamin urusan perut dan keamanannya. 

Benarkah demikian?

Tidak sepenuhnya benar. Coba kita baca kasus bunuh diro tertinggi adalah Jepang dan Korea. Negara maju kan ya Jepang, tapi mereka tidak masuk peringkat megara terbahagia.

Lalu apa rahasianya jadi negara bahagia?

Manusianya. Rakyat yang bahagia lahir dari keluarga yanh bahagia. Keluarga yang bahagia lahir dari anggota keluarga yang bahagia.



Kunci kebahagiaan mereka ternyata bukan hanya semata-mata terletak pada hal-hal yang bersifat materi tetapi dari cara, value, dan filosofi pengasuhan (parenting) yang sudah mengakar secara turun menurun.

Mengutip dari salah satu buku yang menceritakan tentang  keseharian orang-orang Denmark  yakni The Danish Way of Parenting seperti berikut ,

" Anak-anak yang bahagia tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia, lalu membesarkan anak-anak yang bahagia juga  dan seterusnya."

Sepakat?

🏷 Bagaimana caranya biar anak bahagia?
Tentu sesuatu yang membuatnya  senang bukan?



Apa itu? Bermain.

Tahu gak kalau menurut KBBI, bermain adalah melakukan sesuatu untuk bersenang-senang. Menurut istilah bermain memiliki definisi aktivitas menyenangkan yang dipilih oleh anak dan untuk anak sendiri.

Nah, Pasalnya,aktvitas bermain ini adalah satu kunci keberhasilan peengasuhan yang diterapkan oleh dua negara peraih peringkat tertinggi negara terbahagia. Dua negara tersebut adalah Denmark dan Finlandia.

Denmark pernah dinobatkan sebagai negara paling bahagia (peringkat 1) di dunia, diantaranya pada tahun 2013 - 2015. Kemudian pada tahun 2017 - 2019, Denmark berada di posisi kedua negara paling bahagia setelah Finland.

Intinya Denmark tidak pernah keluar dari nominasi tiga besar negara paling bahagia sedunia sejak dirilisnya World Happiest report pada tahun 2011. Lalu, siapa sih yang menobatkan? Jadi, World Happiest Report ini adalah publikasi tahunan yang dikeluarkan oleh PBB (United Nations Sustainable Development Solutions Network) yang mengurutkan negara-negara ke dalam ranking negara terbahagia.

🏷 Kok bisa "bermain" jadi salah satu kunci sukses pengasuhan negara paling bahagia itu?

Sebab dalam bermain sejatinya anak sedang belajar.

Selain menimbulkan rasa bahagia. Ada beberapa manfaat bermain khususnya dalam merangsang tumbuh kembang anak, yakni :


1. Meningkatkan kemampuan kognitif.

Kognisi ini adalah proses psikologis yang berlangsung dalam otak kita. Proses ini berkaitan dengan persepsi kita akan hal-hal di sekitar kita yang kita tangkap lewat pengindraan.

Walaupun dunia kita tangkap dengan pancaindra, pemrosesan kognitiflah yang memberi kita kemampuan memecahkan masalah. Inilah kenapa kognitif erat kaitannya dengan mengamati, menganalisa, menjelaskan, menalar, dll.



2. Merangsang Motorik kasar dan halus.

Gerak raga adalah sarana kita untuk bereaksi secara fisik terhadap masukan sensoris yang diterima oleh otak. Keterampilan motorik adalah kemampuan untuk memgendalikan gerakan. Apabila krmamouan koordinasi dan keseimbangan anak terus diasah dan koan membaik, koan meningkat pulalah perkembangan pesat otak dan sistem sarafnya.


Aktivitasnya biasa lompat, lari, jalan, duduk, merangkak adalah  aktivitas motorik kasar.
Motorik halus itu seperti menggunting, meronce, memilih biji, menjumput.


3. Meningkatkan  kecerdasan bahasa.



Pada tiga tahun pertama kehidupan otak si kecil berkembang pesat. Mulai hanya bersuara aaa..ooo...
Kemudia buble, seperti baba, haha, mama...

Lanjut hinga bisa mengucapkan  satu suku kata. Di usianya dua tahun, ia akan mengalami ledakan bahasa. Semacam jadi banyak kosa kata yg anak2 bisa serap.  Nah, aktifitas yang bisa merangsamng ini adalah cerita, membaca atau ngajak janin bicara bahkan sejak dalam kandungan.

4. Kreatifitas dan Imajinasi.

Kata bapak Einsten, "Imagination is more important than knowledge" Luarbiasa bukan? Dan di usia golden agelah kretaifitas dan imajinasi anak2 sedang berkembang pesat.  Itulah seringnya buku anak usia balita lebih banyak gambar daripada tulisannya.  Karena gambar bisa mengembangkan imajinasi anak-anak.  Metode ini disebut WPB ( wordless picture book)


5. Meningkatkan interaksi sosial.

Dalam hal ini adalah kemampuan bersosialisasi. Membangun rasa peduli, berkomunikasi dengan baik, bertular informasi.
Termasuk menjadikan anak tanggap.

Dengan keterampilan sosiallah mereka bisa memahami situasi, menyampaikan saran, dan mengambil inisiagif sosial.

6. Memahami emosi dan diri sendiri.

Area emosional adalah ranah berkembangnya empati, rasa pengertian dan kemampuan mengenali lsi dan mengendalikan diri.

Kepribadian kita tidak saja ditentukan oleh gen tetapi juga sangat dipengaruhi  oleh pengalaman emosional pada masa awal kehidupan.

Inilah,  penting untuk melatih anak memgutarakan emosi menjadi kata-kata sejak dini. Dan saat bermain anak akan belajar mengenali dan mengendalikan emosi. Termasuk belajar bagaimana orang tua bereaksi hehhee.

Contoh permainan, mengenal tubuhku dengan menyanyi atau saat bermain peran. Anak-anak akan belajar bagaimana mengendalikan emosi dan percaya diri.

Bagaimana? Masih mikir bahwa bermain itu aktivitas yang sia-sia?

🏷 Bermain itu kebutuhan bagi anak.




Sering kita dapati orang dewasa yang bertingkah seperti anak-anak. Misal, saat marah banting pintu, dobrak meja, atau bahkan hal lain yang itu ke kanak-kanakan.

Bisa jadi saat kecil kurang bermain hehehe. #maaf.


Kok bisa ya?

Iya jadi salah satu alasan bermain itu penting adalah "manajamen konflik" baik dengan dirinya sendiri ataupun dengan orang lain.

Inipun dijelaskan dalam buku khusus tentang bermain yang ditulis oleh Iben Dissing Sandahl. Penulis buku " Play The Danish Way". 

Bermain adalah cara untuk mengembangkam sifat dan keterampilan, sekaligus merupakan langkah pertama untuk memperkuat tonggak-tonggak perkembangan pribadi yang nanyinya akan bergurna sebagai pedoman kita dalam mengarungi hidup.


Selaras dengan salah satu sharing dari WNI yang tinggal di Finlandia ini. Beliau menekankan sekali tentang value. Beliau menyampaika, "Sebenarnya orang Finlandia memiliki gaya pengasuhan yang sangat santai. Tak ada metode khusus dalam pendidikan anak-anak mereka. Rumusnya adalah main, main, dan main." 

Pendekatan yang mereka lakukan lebih menekankan ke permainan yang bebas, tidak terstruktur, dan berpusat pada anak. Salah satu poin penting dalam tujuan pengasuhan mereka yaitu menjadikan anak-anak memiliki kemandirian, baik itu perempuan ataupun laki-laki.Makanya, tak heran jika kemandirian sudah diajarkan sejak dini.


🏷 Oke lanjut kenapa bermain menjadi penting sebagai bekal saat anak dewasa nanti.


Yup, saat bermain anak sedang mengembangkan lokus kendalinya. Dalam psikologi sosial, lokus kendali menyiratkan persepsi individu mengenai apakah dia bisa mempengaruhi proses dan isi hidupnya sendiri atau apakah  dia merasa dikendalikan oleh lingkungannya.

Nah, hayooo stress itu kadang sering muncul akibat tuntutam sosial di sekitar kita. Betul tidak?

Lanjut ya,
Kendali internal yang kuat adalah persepsi bahwa kita bisa bertanggung jawab atas perbuatan sendiri dan keyakinan bahwa kita mempengaruhi hidup sendiri lewat keputusan-keputusan kita sendiri.

Sedangkan kendali eksternal yang kuat menyiratkan bahwa perasaan kurang mampu mempengaruhi perjalanan hidup.

Lalu bagaimana agar lokus kendali internal kuat?
Peran orang tua sangat besar di sini.

"Orang dewasa wajib menyediakan sokongan emosional yang baik agar anak merasa percaya diri akan kemampuan dan kompas internalnya sendiri".

Selama ini kegiatan bermain sering kali dianggap sebagai pelarian atau jeda dari kegiatan belajar yang sesungguhnya. Namun bagi anak-anak bermain adalah kegiatan belajar sesungguhnya. (Tuan Rogers)


Bagaimana bu ibu, pak bapak? Mulai bisa dipahamikah bahwa ternyata aktivitas bermain khususnya untuk anak usia dini itu penting. Bermain itu penting sebab bisa memacu produkai hormon endorfin, hal ini membuat anak jauh lebih bahagia dan merasa senang.

Saat bermain meski ada perasaan senang yang muncul akan tetapi sejatinya banyak pembelajaran yang mereka peroleh. Saat menghadapi konflik bersama teman, mengenal emosi serta menumbuhkan kreativitas.

Ide bermain menyenangkan pernah aku tulis di sini ya. 

Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

22 komentar

  1. Bermain emang penting banget ya untuk anak. Menurutku dari bermain emang anak banyak belajar juga kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup dan sudah banyak dibahas secara ilmiah sih .

      Hapus
  2. Kalimat di awal-awal itu tuh ngena banget "main terus kapan belajarnya?". Anak kadang tertekan kalau mendengar kata belajar. Sebagai orang tua memang harus pintar-pintar membuat kegiatan belajar menyenangkan melalui kegiatan bermain. Bahkan anak tak merasa sedang belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyata di kehidupan sehari hari ya kak. Dan masih seering mendengar itu lho di lingkungan sekitar

      Hapus
  3. Setuju banget sama tulisan ini. Dunia anak memang dunia bermain. Serius, belajar pun saat bermain malah jadi masuk daripada belajar "secars resmi"

    BalasHapus
  4. Dunia anak ya dunia bermain, tinggal pinter2nya orang tua ya mba utk bsa menyisipkan pesan moral atau ilmu lain dalam setiap permainan anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tanpa disisipin pun anak banyak belajar saat bermain. Nmun jika mau nilai plus keteladanan dan apa yang dilohat anak dari kita tuh jauh lebih ngena ke anak

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Sepakat sih. PR banyak orang tua utk mendidik anak sesuai fitrahnya. Sesuai usianya juga. Jd memang perlu bgt stimulasi yang dibungkus permainan menarik. Semoga kita dimampukan selalu untik mendidik seauai fitrah agar mereka tumbuh bahagia ya :)

    BalasHapus
  7. Sepakat. Bermain gak cuma bikin anak bahagia, tapi juga anak bisa belajar apapun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyup. Dan ini perlu kita pahami bahwa bermain jadi cukup penting untuk anak usia dini

      Hapus
  8. Aku sepakat dengan kalimat ini "Anak-anak yang bahagia tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia, lalu membesarkan anak-anak yang bahagia juga dan seterusnya."

    BalasHapus
  9. Haha bener yaa mbaa. Orang dewasa pun kalo kurang "main" juga ambyarr kok. Wkkw. Apalagi anak2 yang memang masih masa2 mengenali obyek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tul.. itulah Indonesia tingkat stressnya tinggi karena kurang main alias kurang piknik hehehe

      Hapus
  10. Terima kasih kak atas penjelasannya. Kalau anak saya suka main bola, senam baby shark, main sepatu roda dll. Seru memang membersamai

    BalasHapus
  11. setuju sih mba dengan yang diungkapkan mbak, meski aku belum ada anak tapi ada keponakan yang suka banget diajak bermain sambil kita ngajarin gitu

    BalasHapus
  12. anak-anak memang momentnya untuk menikmati waktu bermain, usia mereka diberikan kebebasan untuk menikmati waktu sebebasnya dan berekspresi. selain yang mba sebutkan tadi fungsinya bermain ini, pastinya membuat mereka makin bahagia

    BalasHapus
  13. paling seru kalau main tapi bisa sambil belajar, si kecil pasti lebih enjoy

    BalasHapus

Posting Komentar