=Hamimeha

Tantangan Perempuan di Era Digital

18 komentar

 Berdaya di Segala Era 


Setiap anak terlahir sesuai dengan perkembangan zamannya. Mereka tumbuh berdasarkan faktor lingkungan, kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Meskipun demikian, peran orang tua masih dominan untuk membentuk karakter anak melalui keluarga. Ini akan menjadi bagian dari tantangan perempuan di era digital.

Di era revolusi industri 4.0, teknologi mengambil pengaruh besar dalam menggerakan sendi-sendi kehidupan. Mulai dari politik, ekonomi, pangan, sosial, budaya, bahkan sekarang pendidikan. Sejak adanya pandemi, setiap orang dipaksa untuk beradaptasi lebih cepat dengan dunia digital. Sebab pandemi mendorong percepatan era digitalisasi. 


Sayangnya, perubahan yang terlalu cepat membuat sebagian orang tidak siap. Sehingga mengalami ketidak seimbangan mengatasi masalah yang muncul. Khususnya di bidang pendidikan. Belajar dari rumah membuat para orang tua mau tidak mau menyiapkan fasilitas digital  untuk anak. Derasnya arus informasi juga memberikan dampak bagi anak maupun orang tua. 

Kecanggihan dan menjamurnya aplikasi yang tersedia di gadget tak hanya memberikan kemudahan, akan tetapi juga berakibat fatal. Khususnya untuk anak usia dini apabila tidak dibatasi. Seharusnya keluarga menjadi basis pertama dan utama dalam membentuk anak sebagai generasi yang siap dan kristis menghadapi pengaruh era digital dewasa ini.  Bukan menjadi generasi yang hilang (the lost generation) karena pengaruh-pengaruh negatif media digital yang cenderung destruktif. 


Di era serba digital sekarang ini akses internet tak hanya dijangkau oleh kalangan dewasa. Bahkan pengguna gadget dan internet adalah anak-anak. Menurut Puslitbang Aptika Ikp Kominfo menyebutkan sebanyak 63.34 % anak usia 9-19 tahun sudah menggunakan interaksi dengan gadget. Lebih dari 50% artinya cukup tinggi.

Tingginya angka pengguna internet di kalangan anak-anak tidak terlepas dari aktivitas belajar di rumah. Namun, orang tua  perlu mewaspadai tentang interaksi mereka dengan media sosial, tontonan melalui aplikasi nonton gratis semacam youtube, dan game. Pantauan dan pendampingan orang tua terhadap anak-anak saat berinteraksi dengan gadget akan menjadi salah satu langkah bijak gadget.

Kita tidak bisa pungkiri bahwa anak usia di bawah 20 tahun merupakan generasi native teknologi. Kehidupan mereka sejak sebelum lahir telah dikenalkan dengan kecanggihan teknologi. Seperti USG ketika cek kehamilan yang sudah mulai umum dilakukan. Seiring berjalan waktu muncullah smartphone dan akses internet yang mudah bagi mereka. 

Maka bukanlah langkah yang bijak jika zero gadget atau anti internet. 

Bagaimanakah peran  orang tua di rumah selaku guru pertama bagi anak? Penting bagi orang tua generasi apapun, terlebih orang tua milenial untuk "melek" teknologi dan memgikuti tren anak masa kini. Minimal aplikasi atau akses informasi yang sering mereka gunakan. Dalam rangka menjadi tempat bertanya mereka. Secerdas apapun generasi native teknologi ini, ia tetap membutuhkan seseorang untuk bisa membantu mengarahkannya. Inilah peran orang tua. 


Peran orang tua di era sekarang sangat besar, khususnya ibu. Sebab pada umumnya, ibu jauh memiliki porsi lebih besar dari segi kedekatan emosional dengan anak, memiliki waktu lebih banyak mendampingi anak dalam hal pengasuhan, dan lain sebagainya. Maka, para ibu secara tidak langsung dipaksa untuk beradaptasi dengan ruang digital sekarang ini. 


Ada lima langkah yang bisa diambil untuk bijak gadget ini. Pertama, melek teknologi. Bagi seorang ibu penting untuk mengetahui info terkini berkaitan dengan teknologi yang sedang marak. Minimal tahu infonya. Agar saat diskusi bersama anak lebih nyambung. Kemudahan akses informasi melalui internet dan ketersediaan training online untuk ibu rumah tangga sudah marak ditawarkan oleh beberapa lembaga. Maka mengikuti salah satu dari mereka merupakan langkah tepat untuk belajar. 


Kedua, mengenal dan mempelajari media sosial yang sering digunakan oleh anak. Berdasarkan survey penggunaan TIK oleh Puslitbang Aptika Ikp Kominfo di tahun 2017 menyebutkan anak usia 9-19 tahun mencapai 93.1 %, nyaris sama banyak dengan pengguna usia 20-29 yang mencapai  93.8%. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah memliki kecenderungan untuk bermain media sosial lebih lama. 


Hal ini tentu memberikan dampak pada kepribadian mereka. Maka ibu sebagai orang tua jika perlu ikut menggunakan media sosial tersebut. Dalam rangka mengetahui penggunaan dan interaksi sosial di dalamnya. Tidak ada batasan usia ketika berinteraksi di dunia maya. Hanya butuh waktu untuk belajar.  Hilangkan gengsi dan sikap perasaan dituakan jika ingin berteman dengan lingkungan anak kita. 



Ketiga, memberi ruang terbuka bagi anak untuk mengekplore kemampuannya melalui dunia digital. Adanya ruang ini akan membuat anak lebih akrab dengan orang tua. Sehingga memudahkan kita untuk memantau mereka. Pemberian kebebasan yang bertanggung jawab adalah salah satu bentuk penanaman karakter. Memberi ruang kepercayaan membuat anak menjadi pribadi yang dihargai. 


Belajar dari karakteristik generasi Z dan setelahnya, mereka terlahir sebagai generasi kritis, bebas, dan mudah bergaul. Membuat mereka tidak mudah dikekang oleh aturan. Maka mengimbangi dengan memahami gaya belajar mereka akan memudahkan kita menjalankan peran guru di rumah. Menasihati tanpa menggurui. 


Memanfaatkan kedekatan emosional akan lebih menarik perhatian anak daripada aturan yang membuat mereka berontak. Hal ini tentu berlaku pula untuk seluruh anggota keluarga. Sebab ibu seringnya menjadi tempat ternyaman bagi anak dan pasangan untuk berdiskusi dari hati ke hati. Inilah yang tak tergantikan di era kecanggihan teknologi apapun. Kehadiran, sentuhan, dan memahami perasaan hanya bisa dimiliki oleh seorang perempuan ketika menjalani kondratnya sebagai istri maupun ibu. 


Keempat, memberikan batasan waktu yang jelas. Khususnya untuk anak sekolah. Bagaimanapun intesitas mata yang sering menatap layar gadget tidak baik untuk kesehatan mata dan otak mereka. Apalagi untuk anak usia dini. Pastikan memantau screentimenya dengan baik. 


Terakhir, adanya kesepakatan dan rules yang tegas antara orang tua dan anak saat mereka berinteraksi dengan gadget atau internet. Hal ini perlu dilakukan dengan diawali pemberian pemahaman yang baik. Langkah terakhir ini adalah poin dasar dan utama sebelum anak-anak melampaui batas penggunaan gadgetnya. 



Sejatinya, anak meniru orang tua. Mereka adalah peniru ulung dari tingkah laku dan sikap orang dewasa yang mereka lihat. Khususnya orang tua di rumah. Maka hal penting yang tak boleh dilupakan adalah jadilah teladan bagi mereka. Setiap anggota keluarga khususnya anak, membutuhkan role model dalam menjalani kehidupannya. Rumah sebagai tempat belajar pertama anak. Maka siapakah gurunya? Maka itulah role model bagi anak.



Jika kita membuat kesepakatan atas batasan interaksi dengan gadget. Maka upayakan kitapun demikian. Jika diperlukan adanya pemahaman bahwa interaksi dengan gadget untuk urusan pekerjaan maka perlu kita sampaikan. Hal ini merupakan bentuk menghargai perasaan anak. 



Anak adalah manusia, mereka juga memiliki hati untuk merasai dan otak untuk berpikir. Tugas kita membuat mereka merasakan dan memikirkan hal yang baik. Diarahkan, dipandu, dan didampingi. Saat ini sudah bukan zamannya untuk zero gadget melainkan bijak gadget. 

Poin penting serta awal sebelum menjalani  lima langkah di atas adalah  bekal agama, adab, dan pemahaman tentang norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat untuk anak. Poin ini  merupakan upaya awal agar anak lebih siap menjawab tantangan zaman di era apapun. Hal ini tentu erat kaitannya dengan pola asuh yang diterapkan dalam keluarga masing-masing. Bagaimanapun tugas orang tua adalah menyiapkan anak-anak bisa bertahan di setiap perkembangan zaman mereka hidup.

Khususnya ibu, sejak merencanakan kehamilan, hamil hingga menjadi  ibu seorang perempuan mengambil peran besar. Proses bertumbuhnya seorang anak dan keluarga sangat dipengaruhi oleh kondisi seorang ibu. Ibarat sebuah tubuh maka ibu adalah jantungnya. Emosi, psikologi, pendidikan, dan karakter yang melekat pada perempuan saat menjalani perannya memberikan wajah bagi ketahanan keluarga itu sendiri. 

Inilah seorang perempuan perlu tumbuh sebagai individu yang berdaya dalam menjalankan perannya. Di segala situasi, kondisi, maupun tradisi yang berbeda dari setiap era. Meneladani perjuangan RA. Kartini yang mengupayakan pendidikan untuk dirinya dan anak perempuan di masanya. Beliau menjadi perempuan berdaya yang melampaui batasan zamannya masa itu. 

Berdaya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berkekuatan, berkemampuan; mempunyai akal (cara dan sebagainya) untuk mengatasi sesuatu dan sebagainya. Jika kata berdaya disandingkan dengan perempuan. Artinya perempuan berdaya adalah perempuan yang kreatif dalam menghadapi tantangan zamannya. 

Khususnya menjalani peran sebagai ibu, solusi dalam menghadapi revolusi industri 4.0 adalah perempuan secara tidak langsung dituntut memiliki kemampuan kognitif (berpikir kritis dan sistematik),  kemampuan mempelajari dan menguasai literasi yang mencakup  literasi baca tulis, literasi sains, literasi finansial, literasi numerasi, literasi digital dan literasi budaya dan kewargaan. 

Seorang ibu baik sebagai pekerja atau ibu rumah tangga diharapkan tidak terjebak dengan kegiatan rutin atau  rutinitas, melainkan bisa menjadi pribadi yang belajar sepanjang hayat.  Terlepas sari status pendidikan dan kemudahan akses informasi saat ini. Banyak cara meningkatkan skill dan keterampilan untuk para ibu untuk tumbuh menjadi perempuan berdaya di segala era. 


Semangat Bertumbuh Perempuan Berdaya! 


Selamat Hari Kartini! 


Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

18 komentar

  1. Bener nih mbaa. Aku setuju sama konsep bijak gadget ini. Karena kalau zaman sekarang, pola pengasuhan era 4.0 juga ngga mungkin bener2 zero gadget gituu. Huhu

    BalasHapus
  2. Sekarang sudah maju banget ya zamannya, kayak ya kita harus ngikutin beriringan biar ngga begitu ketinggalan dan ngga salah memanfaatkan kemajuan yang ada :D

    semangat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes. Bersikap kolot hanya membuat kita jadi tak beriringan dg anak

      Hapus
  3. Sekarang bayi aja tertarik gadget disangkanya mainan. Memang kita harus bijak mengarahkannya supaya tidak ketergantungan.

    BalasHapus
  4. Sebuah motivasi di era sekarang ini. Seorang ibu memang harus memiliki skill biar tidak terjebak dengan rutinitas itu-itu saja 🥰

    BalasHapus
  5. Sepakat bgt nih, si ibu harus ngikut perkembangan zaman. Agar bisa mendidik sesuai zamannya. Jadi inget kutipan "didiklah anakmu sesuai zamannya. Karena dia zamannya berbeda dengan zamanmu". :)

    BalasHapus
  6. tekhnologi dan ilmu terus berkembang,mau tidak mau suka tidak suka ya kudu ikutin apalagi kalo masih punya anak. harus banget update ilmu

    BalasHapus
  7. Setuju banget. Aku juga tidak menerapkan zero gadget di rumah. La gimana mau zero gadget, kalau ortunya aja kerja pakai gadget sehari-hari di rumah, mau nggak mau anaknya pasti terinflluence lah. Tinggal bagaimana caranya memberikan batasan, dan mengajak diskusi anak tentang baik buruknya gadget.

    BalasHapus
  8. Tulisan ini jadi tamparan banget buat aku sebagai orangtua. Sekarang ini penggunaan gadget memang sangat tinggi ya. Harus lebih baik lagi dalam mendampingi anak-anak ini.

    BalasHapus
  9. Memang harus bijak dengan gadget. Meski ada positifnya, jika digunakan berlebihan juga akan menimbulkan efek. Apalagi di masa oandmei gini

    BalasHapus
  10. Mau zero gadget juga nggak mungkin ya mbak, secara kita ada di era 4.0. Yang paling tepat ya memang bijak gadget sih, Ibu memang harus menjalankan perannya dg tepat

    BalasHapus
  11. Kalau aku pribadi saat ini sangat sulit untuk zero gadget...

    BalasHapus
  12. Kedua ornag tua berperan sama persisi dalam bimbingan bijak teknologi. Dimulai dari penanaman akidah akhlaq yang baik sejak kecil, inysaAllah dalam berteknologi pun anak akan memilih hal baik dan tidak berlebihan dalam pemakaian teknologi

    BalasHapus
  13. Kedua ornag tua berperan sama persisi dalam bimbingan bijak teknologi. Dimulai dari penanaman akidah akhlaq yang baik sejak kecil, inysaAllah dalam berteknologi pun anak akan memilih hal baik dan tidak berlebihan dalam pemakaian teknologi

    BalasHapus
  14. Aku senang banget dapat masukan dari bunda.. aku sempet nyerah nih stop gadget ke anak. Jadi semangat lagi

    BalasHapus
  15. Bener bangett, sampe ke bayi pun lebih tertarik ke gadget, apalagi kalau uda sekali dilihatin video, pasti bakal rengek dan nggak akan diam..
    Makanya itu yaa dikatakan perempuan itu harus serba bisa.

    BalasHapus
  16. Aku seringnya megang gadget untuk gawean Mba, belum ada bocil di rmah tapi ada mertua yang harus dirawat ang balik kek anak kecil lagi. Makasih udah ingetin ya mbak

    BalasHapus

Posting Komentar