=Hamimeha

FLP Surabaya Komunitas Kepenulisan Pertama Bagiku

56 komentar
Flp surabaya komunitas kepenulisan pertama bagiku
Hai Sobat Hamim?!
Setelah kemarin cerita pengalaman vaksin COVID-19 Astrazeneca untuk busui, hari ini aku mau bikin tulisan special donkz. Wow, buat siapa?

Buat yang lagi ngerayain miladnya hari ini, 31 Agustus 2021. Kabarnya, si doi baru beranjak remaja nih, 16 tahun euy! Gak nyangka jika kami lahir di bulan yang sama meski beda tanggal dan tahunnya hwakakaka. Siapa sih?

Taraaa, FLP Surabaya komunitas kepenulisan pertama bagiku. Yup! Aku mau ngasih hadiah kecil berupa tulisan recehku. Semoga bisa menjadi salah satu coretan berharga buat aku. Perjalanan tujuh tahun bersama FLP Surabaya dari singlelillah hingga jadi emak-emak duo sholihah.

Siapa yang ngaku hobi nulis tapi gak juga nelurin karya (read: nerbitin buku)?

Siapa yang ngakunya pengen jadi penulis tapi gak pernah mau mulai nulisnya?

Hahahaa, sama. Aku juga kok, dulu aku merasa bahwa menjadi penulis itu wow banget. Tampaknya gak semua orang bisa jadi penulis. Apalagi hanya seorang aku. Duh insecure tingkat tinggi pokoknya.

Faktanya, sejak terjun di dunia kepenulisan ada 11 buku yang alhamdulillah berhasil aku terbitkan dalam jangka waktu 2 tahun. Dan 3 diantaranya adalah karya bersama kawan-kawan FLP Surabaya.

Jadi, siapa pun bisa jadi penulis kok. Tapi penulis yang seperti apa dulu? Yuks Sobat Hamim simak curcolanku hihihi

Berawal dari Pelita, Ruang Belajar Menulisku

Kawan pelita
Aku suka menulis dan doyan baca juga. Sayangnya hobiku ini tidak dipandang potensi oleh kebanyakan orang. Strategiku dan memanajemen orang jauh lebih diakui dibanding tulis menulis.

Alhasil tiap masuk sebuah organisasi baik itu tingkat jurusan, kampus, lokal, maupun nasional. Aku lebih banyak terjaring sebagai anggota divisi kaderisasi atau politik. Hiks, itulah alasan jika ada agenda divisi media atau humas aku suka nimbrung mereka hwakakaka.

Oke, lanjut. Setelah berhasil lulus dari kampus. Masuk dunia kerja, bertemulah aku dengan sebuah club menulis besutan mbak Sinta Yudisia. Dari pertemuan yang tidak terlalu rutin inilah aku coba mengasah kembali kemampuan menulisku.

Berawal dari Ruang Pelita yang anggotanya sering shif-shif-an ini aku menemukan jiwaku sebagai seorang penulis. Mbak Sinta selalu ringan dalam membagi ilmu, menularkan semangat, dan memotivasi kami untuk terus menulis serta tentunya menghasilkan karya.

Di Ruang Pelita, Setiap Pertemuan adalah Berharga

Jika diingat kembali, Ruang Pelita itu punya program meski tak teratur tapi gak punya struktur hehhe. Tapi rasa nyaman, kekeluargaan, dan kebersamaannya kerasa sekali. Selalu ada oleh-oleh "insight" baru entah tentang kepenulisan ataupun kehidupan. Bikin kangen!

Inilah awal aku bertemu dengan orang-orang keren seperti Mbak Sinta, Mbak Karunia, Mas Asril, Mas Iralfan, Mbak Maharani, Mbak Aisyah, Dhek Utha, Dhek Aria, Pak Aferu, Mas Wahyu, Mas Baim, Dik Anshari yang sealmamater denganku. Yangmana sebagian dari mereka adalah anggota FLP Surabaya.

Bahkan dari Pelita inilah awal mula aku berani berkenalan dengan FLP. Awal perjumpaan buatku dengan FLP Surabaya.

FLP Surabaya Komunitas Kepenulisan Pertama Bagiku

Sobat Hamim penasaran kok aku gak gabung FLP Surabaya sejak lama?

Jujur, aku baru tahu ada FLP Surabaya setelah paripurna dari kampus. Selama jadi mahasiswa aku hanya tahu adanya FLP itu ya FLP pusat. Sebuah organisasi kepenulisan terbesar yang aku tahu saat itu.

Komunitas yang melahirkan nama-nama penulis kondang seperti Helvy Tiana Rosa yang juga ibu pendirinya, Asma Nadia, Pipit Senja, Kang Abik, dan Mbak Sinta Yudisia. Serta deretan nama lain yang aku belum mengenalnya.

Awal Gabung FLP Surabaya

Milad FLP ke-17
Aku pun tidak terlalu ingat bagaimana ceritanya, alurnya, dan akhirnya gabung dengan FLP Surabaya. Dalam memoriku, aku direkrut Mbak Sinta buat jadi anak buah beliau di FLP Jatim.

Selang waktu berlalu, ada acara Milad ke-17 yang mana Surabaya sebagai tuan rumah. Semakin luaslah perkenalanku dengan penulis muda-muda dari FLP Surabaya.

Kesan pertama saat melihat mereka, asyik, ramah, penuh kehangatan, ceria, religius, dan penuh semangat. Nah, poin dua terakhir adalah alasan aku kembali.

Mungkin banyak di luar sana gerakan menulis atau komunitas menulis yang menelorkan banyak buku. Tapi tiga pilar dalam FLP yang mengalir ke area cabangnya membuat aku jadi berpikir bahwa FLP bukan komunitas kepenulisan biasa. Nilai dakwah, organisasi, dan kepenulisan tergabung dalam satu wadah.

Hal ini terasa dalam makna motto Flp yakni berbakti, berkarya, dan berarti. Melansir dari laman flp.or.id makna motto FLP diharapkan ketiga kata ini menjadi “kompas” bagi anggota FLP dalam berkiprah. Niat menulis dan berkarya dispesialkan untuk “berbakti” kepada Allah. Menghasilkan karya juga bertujuan untuk berbakti kepada bangsa.

Sebagai anggota FLP, mesti menerbitkan karya yang mencerahkan dan memiliki arti untuk masyarakat. Tulisan-tulisan yang dilahirkan harus sanggup memberi inspirasi dan motivasi kepada pembacanya.
Forum Lingkar Pena adalah hadiah dari Allah untuk Indonesia. - Taufik Ismail
Masya Allah ya, inilah yang aku bilang "bedanya". Dan bergabunglah aku bersama mereka di tahun 2014 kala itu. FLP Surabaya komunitas kepenulisan pertama bagiku.

Apakah aku langsung aktif di masa itu? Ohoo. Jelasssss tidak. Aku kuli angkatan 75, berangkat pagi jam 7 pulang sore jam 5. Agak disayangkamn, setelah sekian waktu akhirnya aku berani memutuskan memilih gabung komunitas kepenulisan tapi tak bisa maksimal. Tapi, its oke not to be oke!

FLP Surabaya bagiku adalah refreshing menyegarkan pikiran. Meski tak begitu aktif namun para pengurus kerap membagikan kegiatan mereka. Tak jarang kami maksudku adalah aku yang tak terlalu diundang hadir untuk turut berpartisipasi.

Setiap kali bertemu mereka ada semangat baru untuk menulis, semenular itu energinya. Nyaman, hangat, dan berkesan untuk di kenang. Ceileh!

Mengenal lebih dekat dengan Flp Surabaya

Mengenal FLP Surabaya

Nah Sobat Hamim, ternyata semangat FLP ini memang mengalir dari pusat hingga tingkat cabang di berbagai kota. Seperti yang aku sampaikan di atas, kesan pertama bertemu dengan anggota FLP tak terkecuali FLP Surabaya tujuh tahun lalu.

Apakah semangat itu masih sama hingga hari ini?

Alhamdulillah, insya Allah senantiasa berjuang mempertahankan prinsip dalam menegakkan tiga pilar di tengah gempuran nilai-nilai literasi yang banyak terdegradasi hingga detik ini.
Tentang FLP Surabaya

FLP Surabaya adalah salah satu cabang dari puluhan cabang FLP di kota-kota. Berdasarkan info di flpsurabaya.com disebutkan FLP Surabaya pertama kali terbentuk pada tahun 2005 dengan ketua pertamanya adalah Arida Istia.

Dua tahun setelahnya, tampuk kepemimpinan berpindah tangan ke Aferu Fajar. Di kepengurusan Mas Aferu ini awal dibukanya pendaftaran anggota secara terbuka dan seleksi. Menariknya, Mas Aferu menjabat selama 7 tahun dari 2007-2014.

Selama itu, Oprec (Open Recruitmen) dilakukan sebanyak empat kali, 2008, 2009, 2012, dan 2013. Tradisi open recruitmen ini berlanjut di kepengurusan berikutnya.

Nah, sayangnya aku lupa Sobat Hamim masa 7 tahun lalu maapin yah. Di tulisan selanjutnya aku bakal tulis kok bagaimana caranya gabung FLP Surabaya. Di tiga tahun terakhir, FLP Surabaya sudah rapi dalam hal oprec.

Aku pribadi ikut terlibat sebagai panitia meski tidak sepenuhnya aktif. 
Fyi, FLP Surabaya mau membuka pendaftaran anggota baru lho! Pantengin saja akun media sosialnya. Jangan sampai terlewat ya!

Aku dan FLP Surabaya

FLP Surabaya menurutku adalah cabang dengan kualitas kebersamaan yang baik. Hal ini terbukti sejak 2014, aku merasa disambut hangat oleh para anggota yang sejujurnya aku tidak mengenal mereka dengan baik.

Lima tahun berselang hingga gonta ganti kepengurusan keakraban dari para anggota FLP Surabaya ini terus dijaga. Terbukti, setelah 5 tahun vakum aku masih terhubung dengan kepengurusan terbaru hahaha. Melalui apa? Media sosial, aku teringat ada grup TNR yaitu Times New Roman di FB awalnya, lalu beralih ke Grup Wa kemudian sekarang berganti nama menjadi Masyarakat FLP Surabaya.

Sependek ingatanku begitu alur yang aku ikuti. Aku terharu saat masih dianggap menjadi bagian dari anggota FLP Surabaya. Entah aliran rasa apa yang membuat aku kembali berkiprah lagi di FLP Surabaya dengan lebih serius di tahun 2019.

Padahal di luar sana menjamur banyak club-club menulis, kelas menulis dari yang gratisan hingga berbayar, komunitas menulispun tak kalah banyak. Bahkan buku pertamaku terbit bukan dari FLP, hehehe.

Ada 3 alasan yang membuat aku kembali ke FLP khususnya FLP Surabaya
Alasan  bertahan di FLP Surabaya
Pertama, rasa kekeluargaan yang penuh hangat dan kebersamaan. Seperti yang aku ceritakan di atas, sejak perjumpaan di awal kesan yang melekat adalah nuansa kebersamaan itu.

Ibarat rumah, maka yang bikin betah adalah rasa nyaman di dalamnya. Iya tidak? Nah, aku menemukan itu di FLP Surabaya. Apalagi jika momen lebaran tiba hahaha.

Kedua, program menarik dengan semangat muda enerjik. Poin ini agak serius sih, bicara program menurutku banyak sekali program unggulan dari FLP Surabaya ini. Ada tugas menulis perpekan yang mendorong anggotanya terus menulis, ada pembinaan yang tak sekedar tentang kepenulisan tapi organisasi dan keislaman.

Ditambah lagi, organisasi yang didominasi oleh anak muda ini memang khasnya adalah enerjik. Itulah yang aku bisa tarik kesimpulan programnya menarik dan enerjik.

Aku ingat betul saat mereka menggelar perpustakaan lesehan di acara carfree day, dengan semangat muda mereka mengajak para pengunjung di carfree day untuk berhenti sejenak membaca buku-buku mereka.

Ah, anak muda emang anti mati gaya!

Inilah semangat yang coba selalu aku cari agar teradiasi. Agar karya tak berhenti meski usia sudah tak muda lagi hihihi.

Ketiga, dapat benefit 3 in 1. Nah Sobat Hamim, kalau ini bukan jualan ya.

Mengutip wejangan dari Mbak Afifah Afrah dalam catatanya di Milad ke-17. Beliau menulis; Perlu diketahui, FLP bukanlah organisasi kepenulisan biasa. 
Ada tiga hal penting yang ingin dibangun pada sosok FLPers, yakni: kepenulisan,keorganisasian, dan keislaman. Penulis yang produktif, organisatoris andal, dan menjadi salah satu unsur penyokong dakwah keislaman.
Di era sekarang, mungkin cukup mudah untuk mendapatkan ilmu kepenulisan. Namun yang sevisi dan sefrekuensi, merasakan suka duka menelan pil pahit atau manisnya hasil menyelegarakan kegiatan, membangun ukhuwah dan memiliki nafas panjang semangat perjuangan dalam menbar kebaikan. Tentu tak banyak! Noted, ini sisi organisatorisnya.

Bisa jadi, FLP memang bukan satu-satunya organisasi kepenulisan dengan selangit mimpi dalam visinya. Mungkin, kawan lain punya referensi lain. Bagiku, yang terlanjur nyemplung di sini. Mencoba membangun pemahaman kembali. Menjaga orientasi agar tak salah arti. Mutung. Akibatnya malas bergerak. Mandeg berkarya.

Naudzubillah, semoga tak pernah terjadi.

Benefit ini apakah aku rasakan saat berada di FLP Surabaya? Aku jawab tegas. Iya! Alhamdulillah, ada banyak fasilitas yang diberikan oleh FLP Surabaya. Tak hanya itu, ikatan ex pengurus periode sebelumnya juga erat.

Terbukti saat ada agenda selama mereka tidak berhalangan hadir masih ikut terlibat. Baik sebagai peserta ataupun pengisi acara. Bahkan yang pindah ke luar kota dan mutasi ke cabang lain masih menjaga silaturahmi. Alhamdulillah. 

Kepada Sobat Hamim, kawan-kawan muda yang ingin berkiprah di dunia kepenulisan. Monggo, FLP sangat welcome menerima dan mengembangkan potensi kalian.

Catatannya, yang harus bergerak. Bukan menunggu dicekoki. Carilah sebanyak-banyaknya ilmu dari para FLP-ers. Asal tidak malas bertanya, aktif dan pro-aktif. Insya Allah, kelak kalian akan menjadi penulis yang andal.

Kupetik lagi penggalan hikmah dari Mbak Afra sesaat beliau mendapat amanah sebagai Ketua FLP. Kalimat itu, "di posisi apapun, kita harus totalitas dan memberikan yang terbaik. Semangat untuk memberi terbaik, itulah yang terpenting".

Bismillah!

Nah, Sobat Hamim sekarang sudah tahu kan bagaimana coretan perjalananku tentang FLP Surabaya komunitas kepenulisan pertama bagiku.


Dirgahayu FLP Surabaya!

Tulisan ini kado kecil untuk Milad FLP Surabaya Ke-16. semoga FLP Surabaya makin berkibar, kokoh, kompak , dan terus berkarya dalam keberkahan. aamiin

Selamat Ulang Tahun Ke-16 FLP Surabaya!
Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

56 komentar

  1. Seneng banget ya mbaa kalau sudah berada dalam lingkungan yg saling mendukung. Apalagi mendukung sesuatu yang kita sukai..
    Btw, aku salfok sama fotonya. Ternyata udah ketemu sama bunda helvy aja nihhh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mbak...aku pun happy. Tahum 2011 semoat undang beliau tapi pas lagi sibuk disertasi.

      Qodarulloh dipertemukannya ternyata pas momen ini.

      Hapus
  2. Kayaknya aq perlu gabung FLP juga kalau mau maju dan berkembang kayak mbak Hamim ini, karena memang bener kita perlu berada dilingkungan yang tepat untuk berkembang

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah iya kak. sebab bagaimanapun lingkungan juga memberi pengaruh besar ya dalam diri kita

      Hapus
  3. Masyaallah keren ih. Aku dulu pernah beli bukunya juga deh kalau gak salah. Gak asing soalnya dengan nama forum lingkar pena.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe alhamdulillah mkasih mbak, iya kebanyakan di tingkat cabang seringkali bikin karya keroyokan,
      tapi kalo buku juga gak kalah banyak atas nama personal anggota flp

      Hapus
  4. Jadi ingat dulu waktu SMA pernah ikut perkumpulan FLP. Beda banget vibes nya langsung gemes pengen punya karya tulis, tapi apalah daya ya masih newbie saat itu. Btw kak salam kenal ya, first BW nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. masya Allah kenal balik mbak, happy walking dan terus semangat ya

      hehehe iya kak semoga skrg lebih baik ya banyak kok komunitas atau club nulis bahkan kelas2 nulis bertaburan

      Hapus
  5. Aku dari dulu pengen gabung FLP tapi nggak ngerti caranya, wkwk. Terus FLP di kotaku tuh kaya mati suri gitu. Kalau denger kata FLP tuh terbayang orang2 yang tulisannya keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. masya allh. jika memandang mabk hlevy mbak asama kang abik heheh keren mbak hahaha

      sebenarnya kondisi tingkat cabang atau ranting jika mati itu karena kurangnay sdm dan program yang gak jalan. wah sayang kali nih flp kehilangan kesempatan punya kader potensial macam mbak marita hihihi

      tapi mbak marita sekarag luarbiasa kok ..

      Hapus
  6. Beuh keren banget sih kakak ini 😍😍 saya juga jadi pengen gabung sama FLP

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah monggo monggo mbak di cabang terdekat sesuai domisili. mbak

      Hapus
  7. Bisa dibilang aku juga tahunya komunitas penulis itu dulu awal banget cuma FLP. Punya banyak temen-temen FLP juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah iyakah mbak alhamdulillah y mbak,. iya sama mbak aku tahunya dulu ya flp hehehe , makin kesni skrg makin bertabur kelas menulils dan komnuitas menulis atau dulu aku mainnya kurang jauh hihihi

      Hapus
  8. FLP emang memberi wadah banget buat penulis untuk menyalurkan passionya. Dari dulu pengen gabung. Seru banget kayanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah monggo bisa gabung ke cabang sesuai domisli kak tapi memang kalo bicara program dan bagaimana kondisi insternal dikembalikan ke masing2 cabang ya tapi rerata sama insya allah semangatnya

      Hapus
  9. wih keren yaaa, jadi pengen ikutan gabung nih :) suka ya kalau udh nemuin komunitas yang sejalan :) jadi nyaman deh apalagi bisa berkembang bersama :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup betul mbak, masya allah ya. sama sih untuk berkembang di bdang apapun kalo ketemu circle yang mendukung kita berkembang itu akan melesatkan potensi kita

      Hapus
  10. Keren deh Mba.

    FLP ini udah lama banget berkibar. Aku suka kepo kepo sama pergerakan FLP nasional sih pas jaman sekolah sama kuliah. Dan sekarang makin aktif. Komunitas kepenulisan yang masih terus bertahan di antara hiatusnya banyak komunitas kepenulisan lainnya, kecuali komunitas bloger yang juga masih dan makin banyak berkembang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah iya mbak. Aku sendiri merasakan kok..alhamdulillah berharap bisa istiqomah dg prinsip2nya

      Hapus
  11. Wah ada Bunda Helvy juga <3
    Aku dulu pengen gabung FLP mba huhu tapi gatau caranya plus info dari medsos minim banget. Pernah DM juga blm ada respon, kalau sekarang mungkin mudah ya mba? Jadi pengen gabung nih akuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh boleh mereka ada akun IG sih biasanya mbak. Era digital.memudahkan kita untuk terkoneksi

      Hapus
  12. kalau gabung dengan komunitas tuh berasa ada temennya ya Mom, sesama komunitas penulis pun jadi lebih semangat berkarya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Inilah bagi saya yang sanguinis gabung komunitas bisa menambah semangat

      Hapus
  13. Dah lama juga ya 16 tahun. Aku dari dulu juga gak asing sama FLP. cuma dulu bingung aksesnya kmn hehe. Ini ada tiap kota mb? Tangerang ada ga sih, asa kurang denger. Ak juga beberapa kali baca buku ada tulisan FLP juga makanya berasa familiar. Sukses terus n happu birthday FLP. Thaks untuk insightnya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa mbak 16 mah cabang surabaya kalo pusat udah 24 tahun matang buat berumah tangga hahaha

      Hapus
  14. AKu juga udah cukup familiar dengan FLP, tapi belum pernah ikutan atau daftar jadi anggota komunitasnya nih mbk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhee mangga atuh mbak ikutan . Ijut yg deket aja sedomisili

      Hapus
  15. FLP memang luar biasa. Ada di seluruh Indonesia dan membangun para penulis yang ingin belajar kepenulisan, organisasi, serta keislaman. Paket lengkap lah pokoknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah nah nih kader flp tulisanya kece kece

      Hapus
  16. Selamat bergabung dengan FLP dan berkegiatan 3 in one. Sukses selalu menjadi penulis yang produktif dan selalu bernetworking.

    BalasHapus
  17. Aku melihat banner di samping blognya mbak hamim ada bloggerflp. Aku jadi tahu ternyata FLP tidak sekadar forum kepenulisan ya, ada bloggernya juga. Komunitas apapun kalau sudah jatuh hati dan merasakan nyaman pasti ga mau pindah ke lain hati ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul ada mbak. Aku juga batu tahu da baru gabung.maklum baru juga di dunia para bloger

      Hapus
  18. Beruntung sekali ya kita hidup di era sekarang. Banyak sekali komunitas yang bisa membuat kita pintara dan juga bisa memberdayakan kita terutama perempuan. Sukses terus untuk FLP

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah iya mbak. Banyak bersyukur meski tantangan ahdir menggempur juga

      Hapus
  19. Sebetulnya aku jarang sekali baca tulisan tentang FLP. Dengan membaca artikelnya Hamim ini, aku jadi paham bahwa FLP punya idealisme dakwah, bukan hanya menjadi komunitas penghobi menulis untuk para muslim saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah iya mbak. Sebab memang sekarang banyak komunitas menulis lain.

      Iya dakwah ada nilai religius yang kental. Maksudnya dalam tulisan dan syiar kebaikan. Mungkin sederhananya begitu

      Hapus
  20. happy banget ya ikut komunikasi yang mendukung minat dan profesi kita

    saya pernah ikut workshop FLP Bandung

    dan materinya daging semua.

    Kerennnn

    BalasHapus
  21. Suatu keberuntungan jika kita berada di suatu komunitas yang benar² mendukung kita dan membuat kita bisa tumbuh bersama dengan anggota di komunitas tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak rezeki bagi saya sih yang udah emak2 tapi kumpul.ma anak muda berasa muda terus hehehe

      Hapus
  22. Saya orang Sidoarjo mbak, baru tahu ada FLP di Surabaya, Parah banget,ya saya. Maafkan.
    Oh ya, haruskah yang berlatar belakang aktivis rohis kah yang bisa ikut FLP ini?

    BalasHapus
  23. Bunda jadi iri... belum punya komunitas literasi offline...
    tapi maklumlah, baru kejebur sejak pandemi...

    BalasHapus
  24. seneng banget kalau bergabung di komunitas yang sefrekuensi dan saling mendukung yaa mba.. sukses selalu yaaa Mba Hamim

    BalasHapus
  25. Mbak.. kita sama! FLP bagiku juga merupakan organisasi kepenulisan yang aku ikuti, khususnya FLO Jakarta. Saat itu aku masih SMA. Sukaa banget sama FLL karena ya tiga nilai yang mbak Afifah Afra ungkapkan di atasm meski sekarang ngga bisa berkontribusi secara langsung lagi hehe tapi pengalaman dan ilmu dari FLP begit nngena di hati ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Visyaaa... Eno sekarang di FLP Surabaya, loh

      Hapus
  26. Seru bisa bertemu komunitas yg klop dengan kita ya kak.. Oiya, selamat ulang tahun buat FLP Surabaya, jaya terus ya...

    BalasHapus
  27. saya sering lihat FLP di ig dan pernah coba ikut lomba nya tapi ternyata untuk kalangan FLP, hehe. pantas saja komunitas ini semakin berkembang ya, sangat mengutamakan keberhasilan member nya

    BalasHapus
  28. Di dalam organisasi yang sesuai dengan diri kita itu memang nyaman banget ya mba, bagai rumah sendiri. Hehe... Sayang juga, kadang malah suka kangen. Teman saya juga ada yang gabung di FLP, saya juga pengin tapi kok rasanya masih penuh dengan kerempongan, huhu

    BalasHapus
  29. Secara umum, FLP ini memang komunitas kepenulisan yang terkenal dan cukup nyaring di telinga saya, karena banyak nama-nama penulis hebat di sini seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, dan juga Habiburahman El-Shirazy.

    Dan turut senang juga dengan kiprah mbak Hamim di FLP Surabaya. Memang menyenangkan jika berada di komunitas yang satu visi dan pemikiran.

    BalasHapus
  30. Seneng ya mbak kalo sudah gabung di komunitas yang sesuai dengan keinginan kita dan memberikan banyak benefit dan kenyamanan bagi anggotanya.

    BalasHapus
  31. Salam kenal dari member FLP Jakarta. Hihi.. Semoga kapan-kapan bisa silaturahim ke FLP Surabaya yaaa.. padahal daku dah bolak-balik ke Surabaya tapi waktu itu belum kenal kak Hamim sih

    BalasHapus
  32. Nggak kerasa ya FLP ternyata sudah 16 tahun. Sudah remaja. Kalau di kotaku FLP lagi mati suri nih kaderisasinya masih kurang. huhu

    BalasHapus
  33. keren..menginspirasi. mkasih sharingnya..sukses selalu y mbak

    BalasHapus
  34. inget dulu awal2 mendirikan FLP Jambi, banyak yg gabung sambil bawa naskah. dikira FLP itu penerbitan, wkwk. abis itu pd kabur krn ngerasa dah bisa nulis, gak butuh latihan2 lagi

    BalasHapus

Posting Komentar