=Hamimeha

Tips Mengatasi Sibling Rivalry Anti Ngegas

17 komentar
Tips atasi sibling rivalry anti ngegas
Hai Sobat Hamim, kali ini kita akan bahasa sedikit seputar parenting ya. Sebenarnya aku pernah menuliskan mengenal sibling rivalry di postingan yang lalu. Nah, di kesempatan kali ini adalah tips mengatasi sibling rivalry anti ngegas hehhee.
Cuss yuks!

"Ya ampuuun, tiap hari bertengkar. Rumah gak pernah tenang!"

"Kakak ngalah donk sama adik!"

" Aduh, sejak ada anak kedua rasanya si sulung susah banget dikendalikan,"

Celotehan di atas familiar gak? Atau sering kali terjadi di rumah kita? Wah pasti auto bikin ngegas dan lempar sendal, eh! Apalagi kalau badan capek, lelah, dan butuh piknik meski cuma ke pasar hehehe. Ditambah PPKM diperpanjang pula kan!

Sekilas Tentang Sibling Rivalry

Yup!

Pertengkaran antar saudara umumnya saudara kandung biasa disebut sibling rivalry. Aku pernah nulis di postingan sebelumnya sih. Tentang apa itu sibling rivalry serta dampak negatif dan positifnya.

Pada dasarnya, ketika anak dalam proses tumbuh kembang. Ijinkan anak merasakan hal berbagai macam pengalaman. Salah satunya adalah berkonflik, perasaan kecewa, marah, intinya emosi negatif yang ada dalam dirinya.

Sibling rivalry merupakan tahapan dalam mendukung perkembangan sosial dan emosional anak. Sedang frekuensi dan beratnya perselisihan tergantung pada perbedaan usia, kepribadian anak, usia, dan cara orangtua menghadapi hal tersebut.

Nah, nah, tapi saat berkonflik terus meneruskan juga tak baik ya. Maka kita sebagai orang tua harus pandai mengambil peran. Ibarat main layang-layang sih, ada saat diulur ada saat ditarik. Begitulah saat kita membersamai anak-anak.
Sibling rivalry
Trik pengasuhan salah satunya adalah lihat kondisi serta nilai apa yang ingin kita tanamkan kepada anak-anak. Bisa jadi satu anak dan anak yang lain berbeda. Maka jadilah orang tua yang peka atas kepribadian anak.

Termasuk sibling rivalry ini. Gak selalu saat anak bertengkar dengan saudaranya itu buruk. Kita lihat situasinya, selama tidak menggunakan kekuatam fisik dan berbahaya. Biarkan anak menyelesaikan masalah dengan cara mereka dengan tetap di bawah pengawasan kita.

Sayangnya, sibling rivalry ini berlarut-larut dan jadi sering terjadi. Bahkan bisa membuat antar saudara tak pernah bisa akur. Bahkan memunculkan kecemburuan antar saudara.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?


Tips Mengatasi Sibling Rivalry Anti Ngegas

Umumnya terjadi saat dua atau beberapa anak berkumpul baik sebaya atau beda usia adalah rawan memicu pertengkaran. Nah, sedihnya pertengkaran ini memancing amarah orang dewasa. Ya, hal ini sekilas tampak umum dan wajar terjadi.

Orang tua marah saat anaknya bermain bersama tak rukun, setiap kali kumpul tak akur. Akibatnya membuat emosi orang dewasa yang mendengar mendidih. Eh, eh eh, tunggu dulu. Tahan! Sibling rivalry sangat bisa diminimalisir.

Sebaiknya kita lakukan sejak dini, yakni sejak sebuah keluarga mendapat berita bahagia akan kehadiran anggota baru di tengah mereka. Why? Sebab sibling rivalry pada dasarnya dipicu oleh rasa cemburu dan ingin diperhatikan.

Menurut Hurlock (2007: 152), dampak sibing rivalry ada 2 macam reaksi. 
Reaksi sibling rivalry
Pertama bersifat langsung yang dimunculkan dalam bentuk perilaku agresif mengarah ke fisik seperti menggigit, memukul, mencakar, melukai, dan menendang atau usaha yang dapat diterima secara sosial untuk mengalahkan saingannya.  

Kedua reaksi tidak langsung yang dimunculkan bersifat lebih halus sehingga sulit untuk dikenali seperti: mengompol, pura-pura sakit, menangis, dan menjadi nakal.

Dan insya Allah berdasarkan pengalaman dan referensi yang aku baca. Ada tiga langkah pengkondisian dalam meminimalisir sibling rivalry berdampak negatif.

Yakni saat si anggota baru (adik) belum lahir, ketika adik lahir, dan pengkondisian lingkungan terdekat yaitu suasana keluarga. Hal ini akan meminimalisir sibling rivalry karena kecemburuan atau haus perhatian.

Oke, selanjutnya!

A. Tips mengatasi Sibling Rivalry Sebelum adik lahir

Ada 2 langkah yang bisa kita lakukan sih. Ini based on pengalaman dan referensi yang aku baca ya! Langkah awal sebaiknya adalah pengkondisian yang dilakukan sebelum saudaranya lahir.

1. Sounding ke anak sejak awal kehamilan. Bahwa akan ada adik sebagai temannya.

2. Melibatkan si anak dalam segala bentuk persiapan menyambut si adik. Dalam rangka menumbuhkan rasa percaya diri dia, rasa tetap dihargai, dan rasa disayangi. Tentunya rasa ikut memiliki. Bahwa janin dalam perut ibu itu juga akan menjadi bagian penting dalam hidupnya.

3. Mengkondisikan dia menjadi seorang kakak. Agak sulit sih, tapi bisa diberi pemahaman pelan-pelan. Semisal, dengan berkisah, membaca buku misal judul buku adik baru yang isinya tentang kehadiran adik, ngobrol, serta bertemu dengan anak lain yang lebih kecil dari dia.

Nah, ketiga poin diatas agaknya cukup mudah dilakukan jika si anak sudah bisa diajak komunikasi dua arah ya. Biasanya sih anak usia 2 tahunan. Ini pengalaman aku ya teman, jika kurang dari itu mungkin ada yang punya tips lebih efektif?

B. Tips mengatasi Sibling Rivalry Setelah adik lahir

Nah, tips kedua ini bagi orang tua yang tak sempat melakukan langkah pertama. Gapapa sih, mungkin tips di bawah ini sedikit membantu. Jadi sibling rivalry alias pertengkaran antar saudara ini bisa diminimalisir dengan cara berikut:
Tips sibling rivalry

1. Hindari membandingkan atau memprioritaskan

Biasanya sibling rivalry itu terjadi karena rasa cemburu. Perasaan merasa tersaingi oleh kehadiran anggota baru. Maka, upayakan saat si adik hadir maka perhatian kita kepada si kakak tetap 100%.

Perlu kerjasama sih sama pak suami. Upayakan sikap kita ke kakak tetap sebagaimana sebelum hadirnya adik. Bahkan upayakan bisa disisipi "pengkondisian bahwa dia sudah jadi kakak" tapi tanpa menuntut ya. Bagaimanapun si kakak adalah anak kecil meski dia berstatus kakak.
Penting!
Jangan memaksa pihak anak yang lebih tua untuk mengalah. Memaksanya untuk meminta maaf, meski sebenarnya dia salah. Sebab hal tersebut membuatnya tidak menyadari kesalahan apa yang dia perbuat. Beri ruang anak belajar menganalisa masalahnya.

Orangtua sebaiknya memberikan waktu agar kemarahan anak dapat mereda dan mendorong anak untuk mencari solusi dari masalah asal.

2. Melibatkan keduanya untuk saling membantu

Nah, ini bisa kita lakukan dengan cara mengaktifkan keduanya untuk merasa saling memiliki. Contoh nih, misal menata baju. Si kakak bantu menata baju adik, membantu menyiapkan perlengkapan adik saat mau mandi.

Atau saat adik juga sudah besar bisa mengajaknya membantu mengambilkan mainan kakak. Intinya adalah saling kerjasama.

3. Menghindari rebutan mengedepankan mencari solusi bersama

Wah, kalau ini lebih kepemilikan sih. Sebenarnya, saat anak masih usia balita sisi ego sentrisnya tinggi ya. Biasanya masalahnya adalah mainan.

Sebaiknya saat membeli mainan keduanya diberi jatah satu-satu. Termasuk dalam hal pakaian biasanya couplean bisa menjadi salah satu cara atas sibling rivalry

Semisal tidak bisa?

Maka biasanya untuk tidak menyalahkan. Apalagi memaksa pihak salah satu anak mengalah.  Hindari menyudutkan salah satu pihak. Jika rebutan mainan terjadi, baiknya posisikan diri membela yang benar.

Bukan membela yang muda.

"Kakak kan sudah gede" hindari kata-kata ini.

Nah, tips dari aku yang bisa dicoba saat terjadi rebutan saat bermain atau bersama:

A. Tanyakan mainan itu milik siapa. Kembalikan ke pemiliknya.

B. Berikan alternatif . Misal barang itu milik kakak, maka beri contoh kakak untuk memberikan alternatif mainan kepada adik agar tidak merebut. Jadi adik

C. Jika poin B gagal. Coba tawarkan option gantian berbatas waktu.

D. Jika masih gagal juga poin C maka pisahkan keduanya sementara hahahaha. Daripada pecah perang dunia ke-3 hehehe.

Kunci keberhasilan mengatasi sibling rivalry ini adalah pada sikap orang tua.

Umumnya, perselisihan terjadi karena mencari perhatian orang tua, mencari kedudukan tertentu dalam keluarga, memperebutkan barang, teman, atau waktu orangtua. Jadi, orang tua itu bagai artis di hati anak. Bagaimana sikap kita menghadapi sibling ini akan mempengaruhi pertumbuhan karakter anak kita.

Sibling rivalry akan menjadi sarana tumbuh kembang anak asal ditangani dengan cara yang tepat. Dampak Sibling rivalry yang tidak diatasi dengan baik dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan kemarahan pada saat dewasa.

Atasi Sibling dengan Membangun Suasana Rumah Kondusif

Home is
Selain pengkondisian dari sisi personal. Namun suasana dan sikap orang tua tak kalah penting. Maka beberapa hal ini bisa dipraktikkan untuk mencegah atau meminimalisir dampak sibling rivalry yang tidak baik.

1. Menciptakan suasana rumah yang nyaman, menyenangkan, dan suportif.

2. Membimbing anak untuk mengenali perasaan dan menyatakan perasaan atau pendapatnya dengan baik

3. Mengajarkan anak untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah, biasakan untuk tidak langsung menghakimi.

4. Berilah keteladanan yang baik dari sisi menampakan dan mengelola emosi. Sebab anak belajar dari apa yang mereka lihat di circle terdekat mereka.

5. Stok sabar yang banyak dan ajak pasangan untuk terlibat. 

Nah Sobat Hamim, memang teorinya terdengar mudah. Pada kenyataanya banyak hal yang membuat darah naik ke ubun-ubun. Hahahaha. Namun percayalah bahwa upaya kecil kita dalam membentuk karakter anak di masa depan dimulai dari cara kita memperlakukan mereka.

Semoga tips mengatasi sibling rivalry anti ngegas ini bermanfaat buat Sobat Hamim dimanapun berada. Menjadi orang tua itu tak ada sekolahnya, sebab menghadapi anak di setiap harinyalah ladang belajarnya.


Terus semangat untuk bertumbuh lebih baik untuk pola asuh yang terbaik untuk buah hati kita.
Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

17 komentar

  1. Relate banget aku baca ini. Reminder banget buat nggak usah ngegas ngadepin anak ribut wkwkwwk. Padahal anak baru 2, dah ngegas aje.

    Kalau anak2ku satunya agresif, satunya manipulatif hahaha lucu juga. Tapi ak bersyukut mereka berantemnya cuma rebutan mainan. Gak da hal lain :')

    Tinggal PR buat gak ngegas ajanih aku wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini peluk ibu dibalik gawai. Aki pun masih haris banyak belajar.
      Hiks apalagi kalo dah laper auto jadi singa

      Hapus
  2. Sebuah ilmu baru Mom, kayaknya bisa diterapin ga cuma untuk yang saudaraan yak, kadang di dunia dewasa pun ada yang masih gini, :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul betul... kadang aku berpikir jangan2 kita ini adalah produk dg pola asuh dalam mengatasi sibling yang kurang tepat...itu akubsih hik.

      Hapus
  3. wah, tipsnya jadi bekal nih buat ak mb. jadi bisa siap-siap, siapkan mental, siapkan hati dan siapkan tenaga wkwkw

    BalasHapus
  4. mama pernah cerita tentang sibling rivalry saudaranya yang terbawa sampai dewasa....

    BalasHapus
  5. Sibling Rivalry memang jamak terjadi di setiap keluarga, kecuali anaknya tunggal. Wah saya suka banget dengan cara penanganan atau tips untuk mengendalikan sibling rivalry yang mulai dari memperkenalkan anak kehadiran saudara baru dan melibatkannya. Sangat komprehensif pemaparannya.

    BalasHapus
  6. 3 anakku yang pertama laki laki semua

    dan mereka bertengkar gara-gara anak nomor 2 yang selalu jadi trouble maker, selalu usil
    setelah ke psikolog, ternyata konsentrasinya pendek

    Dia kesel karena gak bisa konsentrasi dan merasa bosan, akhirnya ganggu adik dan kakaknya deh :D

    BalasHapus
  7. Nah ini pergaulan intens dalam keluarga yang bisa aduk-aduk esmosi. Kuncinya ada di ortu yah. Ok noted. semoga makin bisa mendekatkan hubungan antarsaudara ya.

    BalasHapus
  8. Saya baca artikel ini dengan saksama, karena sebetulnya Sibling Rivalry ini sering terjadi di rumah saya. Kebetulan di rumah banyak sekali anak kecil, dan sekarang ponakan kandung punya adik yang baru menginjak usia 1.5 tahun.

    Saya sebagai tante juga ikut andil dalam mengasuh mereka. Ternyata ada beberapa hal yang saya lakukan padahal sebenarnya itu tidak baik. Terutama, sering banget saya melontarkan kata-kata "Kakak kan sudah gede" atau "Jadi kakak harus bisa mengalah", dan beberapa waktu memang saya sering perhatikan si sulung mulai merasa tersingkirkan kadang-kadang, sampai dia suka cari perhatian.

    Super sekali tamparan dari artikel ini Mba Hamim, terima kasih banyak

    BalasHapus
  9. Ho baca tulisan ini aku jadi tahu kalo ungkapan yang besar harus ngalah sama yang kecil itu sebaiknya ga digunakan ya. Noted..makasih mba Hamim remindernya..nice post

    BalasHapus
  10. Makasih banyak tipsnya, aku bacanya sambil senyum2.
    Teringat ponakan2 kecil yang sering berantem adik kaka nih, kadnag ga mau kalah, emaknya yang mulai ngerock suaranya dan tandukan, main tancap gas sajaa.
    Hahaaa, seru banget emang dunia sibling rivalry ini.
    Nanti adekky tak suruh baca niih.

    BalasHapus
  11. Tipsnya bagus sekali Mbak. Betul sih, walau adik sudah lahir kakak jangan sampai diabaikan. Karena jika sampai merasa diabaikan kakak akan cemburu dan ada rasa sakit hati pada orangtua dan adiknya. Aku pernah baca, lupa baca dimana. Jadi ketika adik bayi lahir justru perhatian orangtua harus penuh kepada kakak. agar nggak merasa terabaikan, ditinggalkan, atau dinomorsekiankan. Seperti artikel ini, harus 100% ya Mbak :)

    BalasHapus
  12. Meskipun belum nikah, ilmu ini penting nih karena aku sering ngejagain dan main ama ponakan. Banyak hal yang mesti dilakukan ya, terutama hindari kata-kata : Kakak kan sudah gede" biar si kakak ga merasa punya beban tambahan sejak adeknya lahir

    BalasHapus
  13. Sibling rivalry memang momok banrht ya Mbak, hehe terutama buat para orangtua yang anaknya lebih dari satu. Intinya memang ada paa orangtua, bagaimana orangtua bersikap dan memperlakukan.

    BalasHapus
  14. Sibling rivaly ini biasa banget terjadi ya mbak. Tapi Saya sempat takjub waktu melihat anak teman pada santun, saling sayang Dan nggak ribut.. mamanya keren banget nih mengendalikan anak-anaknya

    BalasHapus
  15. Nah sekarang aku sedang merasakan di masa-masa ini, maka dari itu aku berusaha adil, tanpa membanding-bandingkan anak. Supaya mereka berpikir, oh kita itu sama. Biasanya aku ajak aktivitas bareng.

    BalasHapus

Posting Komentar