=Hamimeha

Perang Khandaq

Posting Komentar

 

Yuks Istirahat!

Bismillah,

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin sedikit menulis tentang sekelumit kisah tentang perjalanan hidup Rasulullah. Yakni, secuplik episode di Perang Khandaq.


Perang Khandaq ini menurut Sayyid Qutb dalam kitab Fiidzilalil Qur'an disebut sebagai perang mental. Kenapa demikian?

Karena beberapa alasan. Pertama, perang Khandaq ini berselang tak berapa lama pasca musibah Perang Uhud. Yangmana, kaum muslimin masih terpukul dengan semua kejadiannya. Tak hanya menelan banyak korban, bahkan nyaris membuat Rasulullah terbunuh. Para sahabatpun masih belum sembuh atas luka yang menimpa mereka.

Kedua, kabar penyerangan baru diperoleh dengan jarak sekitar sepekan. Pasukan musuh sudah mulai berangkat. Sehingga, membuat pasukan muslimin kelabakan dengan persiapannya. Selain itu, info dari mata-mata menjelaskan pasukan lawan sangat besar dan menyerbu dari segala penjuru. Bahkan ketika seluruh orang madinah dikumpulkan maka tak akan sebanding dengan kekuatan musuh. Ditambah lagi, pasukan itu akan di pimpin oleh Khalid bin Walid yang berhasil menyerang pasukan kaum muslimin di Perang Uhud.

Ketiga, kondisi kaum muslim  kesulitan dalam hal pangan. Hal ini membuat mereka bahkan harus berpuasa saat menghadapi perang ini. Hal ini disebabkan persediaan yang sedikit dan terbatas.

Nah, inilah mengapa Perang Khandaq bisa dikatakan perang mental untuk pasukan muslim.
Meskipun demikian, Perang Khandaq memiliki banyak kisah menakjubkan yang menunjukkan Kekuasaan Alloh. Bahkan menjadi sebab turunnya surat Al Ahzab yang menegaskan kepemimpinan Rasulullah yang luarbiasa.

Wah makin penasarankan?

Perang Khandaq ini berawal dari konspirasi yang dilakukan oleh kaum Yahudi. Mereka melakukan koalisi, menggalang kekuatan baik dari pimpinan Yahudi maupun Quraisy. Hasilnya, sekitar sepuluh ribu prajurit bersatu untuk menyerang pasukan muslimin di Madinah. Ditambah lagi serangan dari internal yaitu kaum munafik yang senantiasa mencari celah untuk melemahkan semangat kaum muslimin. Namun sebelum pasukan musuh beraksi, informasi tentang rencana mereka telah sampai ke Madinah.

Berdasarkan informasi tersebut, Rasulullah bersegera mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah mencari solusi.
"Bagaimana kiranya kita menghadapi pasukan sepuluh ribu pasukan ini?" tanya Rasulullah..

"Keluar ya Rasulullah, kita sambut mereka," kata para sahabat yang berani.
"Jangan sampai mereka berfikir kita takut menghadapi mereka. Siapapun kuat memanggul senjata keluar menghadapi mereka," lanjut salah satu sahabat berani yang lain.
Rasululloh menyimak dengan baik dan menghargai setiap pendapat peserta musyawarah.

Kemudian Rasulullah bertanya kembali, " Adakah usul yang lain?"

" Ya Rasulullah, sepuluh ribu orang jika kita menghadapi dalam perang terbuka maka kita memerlukan kekuatan yang berimbang. Sementara kekuatan kita saat ini sangat lemah. Bagaimana jika kita bertahan di Madinah. Seperti yang engkau sampaikan di perang Uhud bahwa Kota Madinah ini bagai baju besi untuk kita sehingga bisa menyerang mereka di gang-gang sempit dan mengerahkan pasukan kita yang lain" jelas sahabat yang lain.

Rasulullah menghormati setiap usulan dan menampungnya dengan penuh pertimbangan. Namun usulan tersebut terpatahkan dengan kekuatan musuh jauh lebih besar jumlahnya dibanding ketika Perang Uhud. Jika menggunakan strategi tersebut kita perlu membangun benteng-benteng. Sehingga, Rasulullah terus berpikir mencari cara paling efektif dan tepat bersama para sahabat ahli syuro.
Lalu sahabat yang bernama Salman Farisi dari Persia menyampaikan usulan," Wahai Rasulullah izinkan saya menyampaikan pendapat."

Katanya lagi," Ya Rasulullah, dulu jika kami orang-orang Persia sedang dikepung musuh, maka kami membuat parit di sekitar kami."

"Bagaimana caranya menggali parit di seluruh kawasan Madinah sedang waktu kita terbatas," tanya Rasulullah. Ditambah lagi, tanah di sana itu berupa batu-batu kerikil dan bongkahan batu besar. Merupakan medan yang cukup sulit.

Kemudian Salman menjelaskan strateginya.
Bahwa penggalian hanya dilakukan di sebagian kota Madinah khususnya yang terbuka. Sisi yang lain memanfaatkan bukit-bukit dan perkebunan kurma Yahudi dengan pagar tingginya sebagai benteng. Akhirnya, disepakatilah gagasan dari Salman dalam musyawarah tersebut. Rasulullah segera melaksanakan rencana itu.

Sepanjang pengerjaan menggali parit, Rasulullah sebagai pemimpin pasukan tidak lantas berpangku tangan atau sekedar memberikan perintah. Melainkan beliau ikut serta turun ke lapangan.
Disebutkan di dalam Shaih Bukhari, Sah bin Sa'd berkata, "Kami bersama Rasulullah di dalam parit. Sementara orang-orang sedang giat menggalinya. Kami mengusung tanah dipundak kami."

Para sahabat juga melakukan hal terbaik yang bisa mereka lakukan untuk menggali parit. Ada yang menggunakan sekop, ada pula yang menggunakan jarinya sendiri untuk menggali. Ada yang mengangkut batu-batu menggunakan jubah mereka. Pengerjaan parit dilakukan dari Subuh hingga Isya' begitu hingga berhari-hari karena ancaman musuh semakin dekat.

Tapi secara manusiawi, ada sedikit keraguan dikalangan para sahabat. Apakah mungkin mereka bisa memenangkan peperangan ini? Sedangkan kondisinya jumlah pasukan mereka kalah jauh dari jumlah musuh, banyak para sahabat yang masih terluka, kondisi tubuh yang terlihat semakin lemah setiap harinya karena menggali parit dalam kondisi berpuasa. Sedangkan saat berbukapun sebenarnya mereka tidak tahu memakan apa, kalaupun ada berupa satu kurma dibagi dua dan air.

Keaadan ini tergambar jelas dari penuturan Abu Talhah, "Kami mengadukan rasa lapar kapada Rasulullah. Lalu kami menggajal perut kami dengan satu batu. Beliau juga mengganjal perut dengan dua buah batu."

Diperkuat oleh Anas bin Malik juga berkata, " Masing-masing orang yang sedang menggali parit diberi tepung gandum sebanyak satu genggam tangan, lalu dicampuri minyak sebagai adonan." Bisa dibayangkan, segenggam tangan itu maksudnya tangan dicelupkan ke tepung setelah dibasahi dengan air. Kemudian tepung yang menempel di tangan dilumuri minyak sehingga mengeras.

"Kerongkongan mereka jarang tersentuh makanan, sehingga dari mulut mereka keluar bau tak sedap." Bau nafas tak sedap, ini adalah gambaran orang yang biasa terpuasa. Begitulah gambaran kesulitan yang menekan mereka. Ditambah dengan celaan kaum munafik yang sempat membuat ciut nyali para sahabat. Sikap kaum munafik ini dijelaskan dalam surat Al Ahzab ayat 12-13. Kaum munafik itu jika mendengar seruan dari Rasulullah menyambut dengan teriakan takbir paling keras seolah-olah merekalah yang paling bersemangat. Namun, saat dihadapkan pada realita. Banyak sekali alasan-alasan yang mereka buat.

Situasi para sahabat terbaca oleh Rasulullah. Rasulullah menyadari hal tersebut, beliau memahami kondisi para sahabat yang semakin lemah. Mereka bekerja dari Subuh hingga Isya, berhari-hari. Merasa terancam karena pasukan yang semakin dekat. Perasaan was-was senantiasa menyelimuti mereka seperti yang diuraikan dalam surat Al Ahzab ayat 10-11.
" ... hatinya naik menyesak sampai tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka..." Analogi dalan surat Al Ahzab tentang kondisi pasukan muslimin saat itu. Mencekam, menegangkan dan menimbulkan keragu-raguan. Tampak ada rasa tidak percaya diri dalam pikiran para sahabat menghadapi Perang Khandaq ini.

Hingga pada suatu ketika, di siang hari saat para sahabat sedang menggali parit berkatalah Rasulullah kepada Bilal dengan suara agak dikeraskan " Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat." Sehingga terdengarlah suara tersebut di telinga para sahabat.  Bagi Rasulullah, shalat adalah waktu rehat dan berbincang dengan Allah. Itulah sebabnya, Rasulullah meminta bilal untuk adzan agar orang-orang muslim bisa beristrahat dengan shalatnya.

Dalan kesempatan ini Rasulullah terlihat ingin mengajak para sahabat untuk istirahat dengan shalat. Bukan sekedar mengistirahatkan fisik melainkan hati dan pikiran mereka. Meredakan ketegangan. Dan membangun kembali prasangka baik kepada Allah. Melibatkan Allah dalam setiap urusan mereka. Karena segala macam strategi, siasat, usaha yang mereka lakukan sudah maksimal dilakukan jika belum melibatkan Allah maka perlu kiranya meluruskan niat kembali. " Untuk siapa kita berperang?"begitulah sekilas ungkapan yang disampaikan  Rasulullah dengan meminta Bilal untuk mengistirahatkan mereka dengan sholat. Bilalpun memahami maksud beliau dan segera mengumandangkan adzan. Hingga sampai pada bagian , marilah kita sambut kemenangan. Para sahabat langsung berdiri dan bergegas mengambil air wudlu. Seakan bersiap menyongsong kemenangan. Sahabatpun sholat dan berdoa dengan khusyuk. Dan sejak adegan istirahat dengan shalat itu. Kaum muslimin terlihat lebih tenang dan ketenangan ini penting saat menghadapi peperangan. Terbangunlah mental percaya diri dalam hati pasukan muslimin.

Allah-pun menunjukkan kebesarannya melalui tanda-tanda nubuwah selama proses perang Khandaq berlangsung . Seperti peristiwa jamuan makan di rumah Jabir. Jabir melihat dua batu yang mengganjal perut Rasulullah menunjukkan bahwa beliau benar-benar tersiksa oleh rasa lapar. Maka Jabir berinisiatif untuk membuat jamuan di rumahnya dengan sajian seadanya. Berupa satu sha' gandum dan seekor hewan yang disembelih. Setelah masak, ia membisiki Rasulullah secara pelan-pelan untuk mengundangnya makan di rumahnya bersama beberapa sahabat. Rasulullah langsung bangkit tampak kegembiraan di wajah beliau kemudian mengajak semua pasukan penggali parit untuk ikut bersama beliau. Sontak semua pasukan menerikan takbir, " Allohu Akbar."

Seketika itu wajah Jabir pucat sambil berkata dengan nada khawatir, " Ya Rasulullah, kami hanya mengundang engkau dan beberapa sahabat." Rasulullah menepuk bahu Jabir seraya menenangkan. Beliau meminta Jabir untuk menyiapkan makanan namun biarlah Rasulullah yang melayani pasukan itu. Masya Allah, kondisi jelas menunjukkan bagaimana sikap Rasulullah sebagai pemimpin. Bukannya mendahulukan dirinya yang sejatinya lebih kelaparan dari orang lain melainkan meminta melayani pasukan terlebih dahulu. Itulah turun ayat tentang bahwa Rasulullah adalah suritauladan yang baik dalam surat Al Ahzab. Karena sepanjang peristiwa perang Khandaq yang penuh dengan kondisi sulit. Rasulullah mampu menunjukkan akhlak terbaik sebagai seorang pemimpin. Beliau melayani semua sahabat hingga kenyang maka barulah beliau yang makan. Barokalloh, jamuan yang disediakan oleh Jabir dan istrinya ternyata memenuhi kebutuhan semua pasukan bahkan saat Jabir membuka jamuan tersebut masih terhidang lengkap. Inilah salah satu tanda nubuwah Rasulullah.

Tanda nubuwah yang kedua adalah saudara perempuan An-Nu'man bin Basyir datang ke tempat penggalian parit sambil membawa korma setangkup tangan untuk diberikan kepada ayah dan pamannya. Ketika itu, di dekat mereka  lewat Rasulullah. "Berikan padaku," sabda Rasulullah. Lalu beliau meletakkannya di atas selembar kain. Setelah itu beliau memanggil semua penggali parit itu memakannya. Dan masya Allah ternyata korma yang hanya setangkup itu masih tersisa meski sudah dimakan oleh para pasukan bahkan bertambah banyak hingga kececeren dari kainnya.  Jika dinalar dengan logika manusia seakan tidak mungkin namun inilah kebesaran Allah yang ditunjukkan melalui tanda nubuwah pada diri Rasulullah.

Ketiga adalah gambaran nubuwah yang lebih besar, diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir, dia berkata, " Saat kami menggali parit, ada sebongkah tanah yang amat keras. Mereka mendatangi Nabi seraya berkata, " Ya Rasulullah, ini ada tanah keras yang teronggok di tengah parit."

"Kalau begitu aku akan turun," sabda beliau. Kemudia beliau memecahkan batu tersebut dengan membaca bismillah hingga berkeping-keping.

Pada pukulan pertama, beliau berteriak takbir lalu bersabda, " Allohu Akbar, aku diberi tanah Persi." 


Dipukulan yang kedua beliau bertakbir lagi, " Allohu Akbar, aku melihat Istana Mada'in yang bercat putih," sabda beliau.

Dan dihantaman ketiga, " Allohu Akbar, aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Alalh, dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan'a" .
Kejadian itu membakar semangat para sahabat. Rasulullah adalah orang yang jujur dan menepati janji. Apa yang beliau ucapkan pasti terjadi bahkan setelah beliau wafat. Sebagaimana apa yang beliau ucapkan saat menghantam bongkahan batu-batu itu.

Orang-orang muslim bekerja dengan giat dan penuh semangat, sekalipun mereka didera rasa lapar dan letih. Namun pertolongan Allah senantiasa bersama mereka. Penggalian parit selesai dan membuat pasukan musuh mengalami kegagalan saat penyerangan. Bahkan orang-orang musyrik hanya bisa berputar-putar di dekat parit dengan amarah yang menggelegar. Para penunggang kuda pasukan Quraisy merasa jengkel karena hanya bisa diam di sekitar parit tanpa ada kejelasan bagaimana kelanjutan pengepungan ini. Strategi semacam ini tidak biasa bagi mereka.

Atas izin Allah, pasukan kaum muslimin akhirnya menang. Bahkan sejarah Islam mencatat, ini merupakan peperangan yang sangat menegangkan bukan karena pertempurannya yang seru tetapi siasat, strategi dan kepiawaian Rasulullah dalam memimpin pasukannya. Sehingga menimbulkan kesan bahwa kekuatan sebesar apapun yang ada di Arab tidak akan sanggup melumatkan kekuatan kaum muslimin yang sedang mekar. Oleh karena itu Rasulullah bersabda, " Tatkala Allah sudah mengalahkan pasukan musuh. Sekarang kitalah yang ganti menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita. Kitalah yang akan mendatangi mereka."

Adegan sederhana antara Rasulullah dan Bilal terlihat kecil.  Yakni menjadikan sholat sebagai media istirahat. Namun sejatinya, itu membuat kesan tersendiri bagi seorang budak hitam yaitu Bilal. Dan merubah mindset serta mental pasukan muslimin kala itu.  Hingga ia berjanji untuk selalu beribadah dan tak akan meninggalkan walau sekali. Bahkan kenangan sebagai seorang muadzin  semasa Rasulullah hidup membuatnya senantiasa menangis , setiap kali mengumandangkan adzan saat Rasulullah telah tiada. Setiap kali adzan, ia hanya sanggup sampai kalimat ," Asyahadu anna Muhammad Rasulullah," kemudian ia terisak dalam tangisnya. Dan sejak saat itu, Bilal tidak lagi mengumandangkan adzan karena selalu teringat Rasulullah, ia juga teringat rajinnya Rasulullah dalam beribadah, tak hanya dalam peperangan namun sepanjang kehidupan Rasulullah. Bahkan Rasulullah selalu melewatkan malam dengan menegakan sholat tahajjud. Karena bagi beliau sholat itu adalah istirahat dan kondisi paling dekat dengan Rabb-nya, Allah.

#storytelling

#KasihKisah KCA

#KomunitasCintaAnak

#SygmaDayaInsani

Sumber :
1. Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-mubarakfuri
2. Kisah Inspirasi Rasulullah
3. Balita Berakhlak Mulia Jilid 16 : Syukur Seperti Rasulullah
4. Balita Berakhlak Mulia Jilid 13 : Hormat Seperti Rasulullah

Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

Posting Komentar