Cari Blog Ini

Senin, 12 Oktober 2020

Sepenggal Kisah di Perang Uhud

 

Harga Sebuah Kemerdekaan : Budak Pembunuh Hamzah

Apa yang ada dalam pikiran kalian saat mendengar kata merdeka?
Atau saat ini apakah kalian sudah merdeka?
Atau apakah arti merdeka itu sendiri?

Ya!
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka artinya bebas, lepas dari tuntutan, tidak terikat atau tidak tergantung kepada orang atau pihak tertentu. Sederhananya, merdeka itu merasakan perasaan bebas, tidak terikat oleh apapun. Apalagi jika dia hanya seorang budak. Merdeka adalah hal berharga bagi mereka.



Inilah kisah si budak hitam. Dia akan mendapatkan kemerdekaan atas dirinya, dengan syarat melaksanakan balas dendam si majikan. Jubair bin Muth'im, sang majikan si budak hitam berkata, " Jika kamu dapat membunuh Hamzah, paman Muhammad, sebagai pembalasan atas terbunuhnya pamanku, maka engkau jadi merdeka."

Betapa bersemangat si budak hitam atas perkataan tuannya. Pikirannya dipenuhi berbagai cara untuk bisa menikam Singa Allah itu. Keberaniannya meningkat, dia tunjukkan keterampilan terbaiknya dalam melontarkan tombak. Menunjukkan bahwa ialah orang Habasyah yang mahir memainkan senjatanya. Itulah motivasinya bergabung dalam barisan kaum musyrikin saat perang di bukit Uhud.

Perang berkecamuk, pedang saling beradu, pasukan kuda, hujan panah, tubuh bersimbah darah dan bendera masing-masing pasukan saling berkibar. Berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain.
Tak memberikan kesempatan bagi lawan menjatuhkannya.

Pasukan kaum muslimin menang telak di awal. Terbunuhnya si pembawa bendera dari pasukan kaum musyrikin oleh Al Zubair memberikan pukulan berat bagi mereka. Karena pembawa bendera mereka adalah penunggang kuda Quraisy yang paling berani, Thalhah bin Abu Thalhah Al-Abdari. Setelah itu, pertempuranpun semakin mengganas. Secara bergantian orang-orang Bani Abdi-Dar yang bertugas membawa bendera perang mereka setelah pemimpin mereka terbunuh beralih ke Abu Syaibah Utsman bin Abu Thalhah. Dia maju ke medan lagi seraya berkata, "Ada kewajiban di tangan pembawa bendera, untuk menjadikan pohon menjulang ke atas ataukan tumbang di atas tanah."

Namun tak butuh waktu lama setelah itu, ia disongsong Hamzah bin Abu Muthalib yang menyabetkan pedangnya hanya dengan sekali tebas. Bagian pundak hingga tangan Abu Syaibah terputus. Bahkan sabetan pedang Hamzah itu melesat ke bawah hingga ke pusar dan mengeluarkan jantungnya. Selanjutanya bendera berpindah lagi ke saudaranya yang lain hingga ada sepuluh orang Bani Abdi -Dar berhasil terbunuh oleh tebasan pedang Hamzah, Ali bin Abu Thalib serta Quzman. Hingga akhirnya bendera pasukan Quraisy itu terjatuh ke tanah setelah dipertahankan oleh Shu'ab, seorang pembantu dari Habasyah. Iapun ikut berperang hingga tangganya tertebas, putus dan mati.

Pertempuran semakin memanas, berkecamuk di setiap kancah peperangan dan yang paling berat berkisar di sekitar orang-orang musyrik. Sementara pasukan kaum muslimin senantiasa diliputi keimanan dan motivasi dari Rasulullah yang senantiasa meniupkan ruh patriotisme. Mereka menyerbu ke tengah pasukan musyrik bagai air bah yang menjebol tembok bendungan, sambil berkata-kata, " Matilah, matilah!". Begitulah seruan mereka pada waktu perang Uhud.

Ada Abu Dujjanah dengan sorban merahnya, Az-Zubair bin Awwam dengan keberaniannya, Ali bin Abu Tholib, serta Hamzah bin Abu Muthalib. Masing-masing memberikan keterampilan terbaiknya, mengayunkan pedang, menangkis perlawanan serta menguasai medan pertempuran.

Hamzah bin Abdul Muthalib bertempur bagaikan singa sedang mengamuk. Tanpa rasa takut, ia menyusup diantara kaum musyrikin hingga membuat pihak musuh seperti daun-daun kering yang berterbangan dihembus angin. Dia terus menerjang dan mengejar tokoh-tokoh musuh.

Sayangnya, tanpa ia sadari. Ada mata yang mengintai gerak-geriknya. Meski ia bergerak bagai onta abu-abu yang lincah. Tak seorangpun mampu menghadapi terjangannya. Namun ada mata yang sedari tadi mengawasinya di balik batu atau pohon di sekitar ia menghabisi musuh. Lelaki berkulit hitam itu sudah membuat rencana matang untuk menghabisi paman Rasulullah itu.

Namun belum sempat ia meluncurkan serangan dengan tombak yang telah ia bawa. Tiba-tiba datang seorang memanggil Hamzah dengan sebutan ibunya. Seketika Hamzah menyabetkan pedangnya, tepat mengenai kepala orang tersebut yang merupakan bagian dari musuh.

Di saat itulah, lelaki hitam  yang telah mengintai tadi mengayunkan tombak kecilnya hingga tepat mengenai perut bagian bawah Hamzah bin Abdul Muthalib sampai tembus ke selangkangnya. Dia berjalan ke arah pemuda yang tak lain adalah budak hitam yang menginginkan hadiah merdeka dari tuannya. Paman Rasulullah itu limbung menahan kesakitan dari tombak yang menusuknya hingga akhirnya terjerembab ke tanah.

Meninggallah Hamzah, Singa Allah itu di tangan budak hitam. Setelah memastikan lawannya tak lagi bernafas, dihampiri jasadnya. Lalu si budak hitam mencabut tombak yang masih bersemayam di perut sasarannya. Lalu ia kembali ke tenda dan duduk di sana. Si budak tak memiliki dendam pada kaum muslimin, namun keberhasilannya membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib akan menjadikannya orang merdeka. Ialah Wahsy bin Harb, budak hitam yang akhirnya dimerdekakan setibanya di Mekkah. Gugurlah satu syuhada di tangan budak. Menebus sebuah harga kemerdekaan bagi dirinya. Sepenggal kisah di Perang Uhud.

Waktu berselang, kematian Hamzah memberikan kesedihan yang mendalam di hati Rasulullah. Akan tetapi perjalanan hidup si budak hitam tak berhenti, Allah telah memberinya hidayah melalui kemuliaan Sang Teladan. Ketika Futuh Mekah, Rasulullah memaafkan seluruh penduduk Mekah yang pernah memusuhinya. Tak terkecuali, Wahsy. Inilah yang membuat si budak hitam bersyahadat hingga menjadi pembela Islam yang setia dan selalu siap setiap kali dibutuhkan. Bahkan ia pulalah yang berhasil membunuh nabi palsu, Musailamah Al-Kadzdzaab dengan tombaknya pula di masa kekhalifahan Abu Bakar.


#storytelling

#KisahKasih KCA

#KomunitasCintaAnak

#SygmaDayaInsani

Referensi :

1. Balita Berakhlak Mulia Jilid 11 : Pemaaf Seperti Rasulullah
2. Balita Berakhlak Mulia Jilid 15 : Sabar Seperti Rasulullah

3. Kisah Inspirasi Rasulullah
4. Sirah Nabawiyah, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfury

Tidak ada komentar:

Posting Komentar