Rabu, 09 Juni 2021

Suami, Blog, dan Waktu


Hai hai, sobat Hamim?
Alhamdulillah, semoga sehat selalu ya. Kali ini judulnya macam judul film FTV ya. Karena emang mengandung curhat hehehe. Semoga gak lelah baca curhatan receh aku. Kali ini aku mau cerita  tentang suami, blog, dan waktu. Ops! Kok pakai ada suami segala hehehe. Yuks deh cuss baca!


Nah, dalam kesempatan kali ini aku ingin berbagi tentang kronologi "gimana cerita aku yang gak jago ngeblog bisa bertahan ngeblog hingga saat ini?". Dalam tulisan Suami, Blog, dan Waktu inilah aku akan jabarkan ya. Semoga pengalamanku ini berfaedah buat yang baca.


Awalnya

Teringat awal aku akhirnya menekuni hobi nulisku di akhir tahun 2018. Aku ikut salah satu kelas nulis dan challenge nulis 30 hari tanpa henti. Sejujurnya hanya sebagai pelarian dari kepenatan dunia kerja yang bagiku saat itu monoton.

Ya, aku tipe bebas sebenarnya. Meski aku menikmati kerjaku namun saat itu ada di titik jenuh. Dan menulis seakan mewadahi rasa jenuh itu. Inilah awal mula aku lahiran buku perdanaku berjudul "Wonderfull Mom".

Alhamdulillah, sueneng donkz. Sejak itu rasa percaya diriku bangkit bahwa aku ternyata bisa ya punya buku sendiri meski masih buku keroyokan. Aku coba merambah ke dunia artikel. Lagi-lagi aku ikut kelas menulis artikel salah satu media nasional.

Pasca kelas, alhamdulillah langsung praktik dan tulisanku tembus juga donk. Sueneng lagi, tapi kesibukan di dunia kerja nyataku dan aktivitas lain  membuatku nyaris tak produktif di 2 tahun terakhir. Sehingga kegiatan tulis menulispun mandeg ( berhenti).

Rajin Ngeblog Karena Sungkan, Pak Suami jadi Alasan

Melihat aku yang cukup jetlag, setelah 6 tahun bekerja dengan aktivitas 7-5. Berangkat pukul 7 pagi pulang pukul 5, dengan kesibukan yang luarbiasa. Kemudian memutuskan nemeni anak-anak. Tiba-tiba hanya di rumah dan gak ada kesibukan, tetiba si doi (pasangan halal) menawarkan aku buat aktif organisasi.

Yup!
Ide yang bagus. Akupun "balik kucing" gabung di salah satu organisasi kepenulisan yang dulu digagas pertama kali oleh Bunda Helvy Tiana Rosa. Meski harus gaul lagi sama anak muda dan mulai dari awal. Alhamdulillah, aku menikmati meski belum juga produktif.

Qodarulloh, di tengah tahun 2020. Aku mendapat tugas sebagai PJ (penanggung jawab) sebuah program yakni  BERSEMADI (Berkarya Selama Ramadan di Blog Pribadi). Saat itulan lagi pandemi, awal wabah asal Wuhan masuk Indonesia kan? Ramadan pertama tanpa euforia ibadah dan pernak pernik di dalamnya.


Jujur inikah awal yang memantik aku buat punya keinginan ngeblog lagi. Ini adalah program nulis tanpa henti selama 20 hari di blog pribadi. Boleh blog yang masih gratisan ataupun yang sudah TLD.



Konsisten Ngeblog 20 hari

Sebagai ketua pelaksana tentu aku  harus mengikuti kegiatan 20 full nulis tanpa henti di blog peserta kan. Saat lomba berjalan aku baca tulisan teman-teman. Sampai ada yang gugur karena gak posting sekali sampai akhirnya ditentukanlah pemenangnya.


Nah, inilah awal aku termantik dengan dunia blog. Jika dipikir-pikir. Ngeblog ini asyik juga ya. Semacam buku diary hwakakkaa. Tapi lebih canggih sebab fiturnya itu bikin tampilannya jadi menarik. Meski aku belum bisa sih.


Semua penjelasan di atas aku ceritakan pada suami. Dan bagaimanakah reaksinya?

Diluar dugaan. Dia excited dan menguruskan semua kebutuan ngeblogku. Aku yang hanya punya keinginan ngeblog aja. Yang penting aku jadi rajin nulis, bisa asah kemampuan nulisku. Ya, untung-untung bisa ikut lomba. Gak sampai beli domain berbayar.

Eh, dia yang semangat buat beliin domain blogku. Aku? Ya seneng. Tapi jadi merasa gak enak aja. Kok gak enak? Kan blognya berbayar artinya sayang kalau dianggurin. Harus rajin posting biar uangnya gak hilang gitu aja. Betulkan?

Jadi, sebenarnya selain sebagai tempat aku meluapkan rasa saat nulis. Mengisi blog setiap bulan adalah sebuah pertanggungjawaban aku ke si doi. Gak enak aja, dia yang bayarin terus aku anggurin. Kan jadi sungkan, meski dia suami aku. Ada rasa gengsi aja kalau sampai gak berkembang hahahaha.

Aku sering ngasih laporan ke dia bahwa bulan ini aku berhasil nulis sekian. Aku tunjukkin juga tampilam blogku, aku tak segan minta dia jadi komentator pertamaku hahaha. Itung-itung menghargai si doi sebagai investor blogku beliin domain.

Emang prinsip kami saling mendukung potensi masing-masing. Menghargai privasi dan hobi. Selama tidak meninggalkan tanggung jawab sebagai istri/suami dan peran sebagai orang tua dan keluarga.

Eh, tapi kenapa milih blog sih? Kan banyak platform nulis gratis lainnya.

Nah nah, jadi seperti yang aku sampaikan di atas ya. Karena kegiatan bersemadi itu. Tampaknya menulis di blog itu lebih nyaman gitu. Terbukti dari 61 peserta yang ikutan ada 32 peserta lain yang berhasil lolos ngeblog hingga 20 hari tanpa henti.

Ada satu blog yang kebetulan teman aku juga. Rasanya, tiap kali aku baca tulisannya itu seneng gitu. Dia bercerita tentang anaknya. Sebenarnya isinya semacam obrolan dia aja. Tapi terselip hikmah yang membuat aku jadi kecipratan donk manfaatnya. Dari situlah aku memutuskan buat "AKU MAU NGEBLOG lagi."  Ini akan jadi media self healing buatku. Bisa jadi semacam diary juga kan, suatu saat nanti siapa tahu anak dan suamiku bakal baca juga. Bakal jadi kenangan terindah bukan membuka kenangan muda di masa tua. #tsah. Media berbagi yang berfaedah gitu.


Sebenarnya ada beberapa poin lain yang menjadi  alasan pribadi  aku ingin ngeblog.

Pertama, bebas.

Ini alasan yang sifatnya pribadi banget ya. Aku merasa bebas saja saat ngeblog. Bebas buat nulis apa saja yang aku inginkan. Sepanjang yang aku mau dan yang pasti aku gak menginginkan banyak orang membaca tulisanku. Kecuali kalau aku sengaja ngeshare linknya atau ikut blogwalking. Itupun aku pilih-pilih mana yang mau aku share.

Kalaupun ada yang mampir tanpa sengaja setidaknya gak sebanyak kalau kita lagi nulis di facebook, twitter, dan instagram. Yangmana kebanyakan yang follow kita jelas kenal kitalah ya. Hehhe


Kedua, ajang latihan nulis

Masih related dengan alasan pertama.
Bebas, sebab bisa jadi diri sendiri juga sih. Soalnya aku pernah ikut jadi kontributor lepas di beberapa media nasional dan lokal.



Awal nulis dan lolos itu emang seneng banget. Tapi lama-lama tulisan itu kayak terbatas gitu. Terbatas idenya, terbatas postingannya. Sebab harus masuk meja editor dan itu nunggunya lama. Jadi kayak H2C gitukan. Harap-harap Cemas, tampaknya aku emamg gak siap ditolak. Padahal bisa jadi tulisanku memang belum layak muat. Nah, akhirnya aku memutuskan latihan dulu aja kali ya lewat blog.

Jika ngeblog kan kita berasa jadi penulis sekaligus editornya sendiri. Jadi gak pakai antrian buat publish hahaha. Tapi emang minusnyabkita harus cari tahu dan upgrade kemampuan nulis kita sudah sampai mana. Mungkin ini bisa disiasati dengan ikut kelas nulis. Ya kan?!

Alhamdulillah juga sekarang jadi suka nguplek di blog. Apalagi saat gabung komunitas seakan membuka banyak wawasan berkaitan dengan blog ini.  Berasa Allah emang kasih jalan asal kita sungguh-sungguh.

Ketiga, bisa  jadi profesi.

Wah wah, maafkan ya. Jika di tulisankun yang ini. Aku bilangnya jangan jadikan uang sebagai orientasi, sejujurnya aku pribadi juga punya keinginan buat menghasilkan uang dari blog.

Makanya di pergantian tahun hijriyah aku sempat menjadikan blogger profesional adalah goals ku di tahun 1442 H ini.

Resolusi 1442H


Kenapa?

Aku suka nulis. Bagiku ini sudah menjadi salah satu passionku, baca deh ini. Di era digitial macam sekarang bekerja tak harus ngantor. Terikat dengan aturan yang berangkat pagi pulang petang.

Apalagi suami jauh lebih ridlo jika aku mau bekerja maka kerjalah yang itu bisa dilakukan di rumah. Nah, setelah melewati banyak percobaan. Coba ini coba itu, tampaknya yang cukup aku nikmati ya nulis ini.

Sebelum aku memutuskan ngeblog seperti sekarang,  awal tahun 2020 itu aku ikut webinar yang diadakan oleh im3 kerjasama dengan IIDN (ibu-ibu doyan nulis).  Beberapa rangakain webinar menjelaskan perolehan rupiah bahkan dolar yang bisa mereka peroleh dari ngeblog.

Ah, siapa yang tak tergiurkan hwakaka. Dengan catatan sudah profesional ya. Tak tangung-tanggung, salah satu pemateri bahkan membuka semacam perolehan pendapatan beliau format excel. Kami para peserta bisa langsung baca.

Wah, aku gedek-gedek saja. Blogger itu gak main-main. Jika mau diseriusi maka memang akan menghasilkan. Di era sekarang blogger sudah menjadi salah satu profesi yang cukup menjanjikan. Jadi, bagi aku selain menyalurkam hobi dan passionku. Sekaligus bisa memenuhi syarat bekerja dari si doi. Hehehehe.

Sebuah kebahagiaan tersendiri saat bisa membersamai tumbuh kembang mereka


Aku pribadi saat ini berat jika harus kerja dan merelakan anak-anak di asuh orang lain. Hiks, ini yang bikin baper. Eh jadi curcol.

Keempat, menantang buat upgrade diri.

Nah, ini sebenarnya alasan lainku ya. Kalau kita ikut paltform semacam jadi kontributorkan template dari mereka. Atau kalau nulis di facebook atau instagram ya cuma gitu-gitu aja.

Bagiku nulis diblog itu ada tantangan tersendiri. Aku mengibaratkan blog itu rumah. Maka agar rumah kita hidupsuasananya,  ya kita harus kasih furnitur yang oke. Artinya, ini memaksa aku buat belajarkan. Nah, aku suka ini. Alhamdulillah, di kesempatan ini aku belajar bersama teman-teman cupuers di Blogspedia Coaching for Newbie.  Berasa dapat oase di tengah sahara. Buat belajar lagi, terus, dan lagi.

Pernah suatu kali suami bilang, "Gakpapa itu tampilan bisa kok kita nyuruh orang. Jadi bisa beli gitu.". Oho, jelas aku tolak. Idenya kali ini tak aku terima. Buat aku selama bisa diusahakan sendiri kenapa harus beli, untuk saat ini! Ini media buat memaksa aku belajar dan kreatif, itu pikirku.


Aku suka ngeblog dengan segala tantangannya ya. Tapi sejauh ini ada satu tantangan yang menjadi PR besar buat aku. Apa itu?

Manajemen Waktu.


Cara mengelola waktu efektif
Manajemen waktu buat ngeblog ini masih perlu banyak latihan. Tak hanya ngeblog sih, nulis yang lainpun masih harus banyak belajar.

Dulu aku mencoba melakukan manajemen waktu dengan cara mengatur dengan menyusun berdasarkan jam. Aku bikin jadwal tertulis  waktunya dan apa yang harus aku lakukan, begitukan. Tapi hasilnya, banyak faktor x yang tak terduga hingga tak bisa berjalan sesuai jadwal. Dampaknya malah bikin aku stress hahaha.

Lalu, aku coba agak slow. Membuat manajemen aktivitas berdasarkan prioritas. Jadi aku membagi beberapa agenda dalam skala prioritas. Aku membaginya jadi 3 prioritas berdasark urgensi dan mendesak. 

Seperti ini:

1. Prioritas 1 :
 
Ini agenda yang penting dan mendesak. 
Agenda penting itu macam mana?

Hal-hal yang membutuhkan perhatian sekarang juga, segera. Biasanya tindakan ini yang memita kita segera memgambil tindakan. Seperti dateline depan mata. Hwkaka. 

Biasanya mendesak ini berkaitan yang dampaknya besar. Semacam, kalau tidak dikerjakan segera maka akan merugikan banyak pihak. Serta hal-hal yang mendesak ini bisa menjadi hal-hal yang penting. 

Urgent/penting adalah hal-hal yang dikategorikan berdasarkan pada sebuah kepentingan. Nah, sifatnya lebih fleksibel dibanding dengan kebutuhan yang mendesak. Jadi, penting ini bisa jadi tindakan yang diperlukan tak harus segera. Tapi akan lebih baik jika dikerjakan lebih cepat.

Contoh: anak kelaparan sedang kita ada dateline tulisan. Biasanya aku akan membeli makan sebab menyiapkan makan bisa didelegasikan. Sedang menulis harus aku kerjakam sendiri. 

Menuntaskan hak anak buat makan tapi aku juga bisa nulis hehehe. 

2. Proritas 2:

Penting mendesak tapi masih bisa didelegasikan. Contoh, makan gak harus masak. Hematnya sih beli lauk tapi masak nasi hahahha. Seperti contoh anak lapar ya. 

Tapi aku sebenarnya fleksibel sih, aku membuat urutan juga berkaitan dengan kepentingan. Aku akan mengutamakan urusan keluarga, kerjaan, baru hobi. 

Pernah suatu kali anak rewel sedang berbarengan dengan dateline suatu lomba yang ingin aku ikuti atau webinar yang aku ikuti gitu. Jika tak ada yang bisa gantiin buat nenangin anak, biasanya aku dengan "berat hati" bakalan lepas tuh kesemoatan ikut lomba atau webinar itu 

Hobi penting tapi keluarga (anak) yang utama. 😄

3. Priotritas 3:

Kalau ini agenda yang bisa dilakukan jauh-jauh hari. Penting tapi tidak mendesak. Biasanya aku bikin jadwal sih. Tapi gak saklek. Contoh: bepergian atau main sama anak yang sifatnya butuh waktu agak lama nemenin mereka, kayak main ke playground, dll.


Setelah nonton drakor its ok not tobe oke

Nah, lalu kapan me timenya?

Nah, iya. Aku juga meluangkan waktu buat nonton juga sih. Tapi gak tiap hari. Bahkan bisa dibilang aku nonton itu hanya sekian menit. Kadang jika anak-anak tidur siang lalu aku nyuci baju bisa sambil nonton hwkakaka. Jangan ditiru ya.

Kapan nulisnya?

Nah, kalau ini aku biasanya ambil jam aman. Pagi atau malam sekali, saat anak-anak dan suami tidur. Jadi lebih fokus.

Namun, kadang aku minta waktu khusus jika ada suami di rumah. Sebab masuk prioritas 1 tadi ya. Aku gak bisa nulis malam atau pagi, sebab ada idenya siang atau mendekati dateline.

Aku akan minta ijin sama suami buat nulis atau ngerjakan dateline itu. Termasuk saat ada webinar, kadang aku minta waktu khusus. Tapi sering juga sih webinar tapi sambil momong. Hahaha. Nulis juga kadang saat lagi nemenin anak main. Tapi dengan catatan sudah ada ide dan outline apa yang akan ditulis.

Aku tipenya mudah stress kalau merencanakan sesuatu tapi tak sesuai rencana. Maka dengan itu aku mencoba untuk slow dalam hal apa yang ingin aku capai. Menjaga kewarasan katanya hehehe.

Slow but sure. Aku mencoba menikmati proses tanpa harus merasa dituntut pihak manapun. Mungkin ini juga alasan aku milih blog ya hahaha ketimbang nulis diplatform lain. Termasuk mengajukan naskah buat buku meski target lahiran buku solo itu ada.


Doakan ya!

Jadi bisa dibilang, aku belum bisa ngatur waktu secara baik. Sebab setiap hari hampir kegiatanku tak teratur. Suka-suka bahkan bisa dibilang moody. Skala prioritas masih bersifat skala besar dan belum detail. Jadi kadang masih ada hal-hal kecil yang "keteteran" /terlewatkan. 

Kalau kamu ada manajemen waktu yang topcer gak?


Nah, curcol recehku tentang suami, blog, dan tips mengelola waktu ala aku ini semoga bermanfaat ya. Semangat meski masih pemula!

8 komentar:

  1. Toss lah mbak, aku the queen of moody juga. Mau masak aja, ngumpulin moodnya seharian sendiri, wkwk.

    Waah bisa nih dijadikan tips buat konsisten ngeblog, ajukan proposal ke suami untuk jadi investor. Hihi. Bersyukur ya mbak punya suami yang bisa jadi the best support system. Semoga semakin melejit ngeblognya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu iya mbak.. terharu bin gemes hwkakaka.

      Alhamdulillah. Pak Martin juga luarbiasa. Kalian kayak couple partner keren lah

      Hapus
  2. Penasaran sama kelas nulisnya pas tahun 2018 mbak, soalnya waktu itu aku ikut kelas nulis juga. Apakah Nulis Yuk? Jangan2 kita sekelas waktu itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bentul nukis yuks. Klik aja mbak di buku karya womderful mom itu ada cover bukunya... hehhe masya Allah

      Hapus
  3. Kolaborasi rumah tangga nih,keren PakSu sampai jadi investornya.Saya suka closing statement poin prioritas 2, Hobi penting, tapi keluarga yang utama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.. iya mbak.. hehehee...

      Hapus
  4. Akupun moody sebenarnya mbak, pecinta deadline malahan. Hhhi..... Secara content mbak tentang parenting nampol bgt lho. Kapan² tak undang ke grupku ya mbak. Harus mau.....kwkwkwkwk #maksa banget ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya alloh. Terimakasih banyak... hehehe. Insya allah

      Hapus

Maturnuwun sudah berkomentar dengan baik. Kata-katamu cerminan kepribadianmu :)