Cari Blog Ini

Rabu, 31 Maret 2021

Belajar Pola Asuh dari Denmark



"Mari menjadi bagian dari Gerakan Membangun Indonesia yang Makmur, Aman, nyaman, Kuat, dan Mulai mulai dadi keluarga." ~ Ayah Edi.


Kutipan di atas merupakan penutup dari serangkaian kata pengantar di buku yang belum juga habis aku baca sejak Desember 2020.

Ceritanya, aku tahu buku ini karena sebuah iklan di fb. Karena menarik aku kliklah dan akhirnya aku dipertemukan dengan buku ini. Pasalnya, buku ini merupakan sebuah buku curhatan seorang ibu yang tinggal di Denmark. Apakah isinya semacam kegalauan atau pencerahan?

Berdasarkan indeks negara paling bahagia, Denmark memegang rekor sebagai negara paling bahagia selama 40 tahun menurut OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development). Dikuatkan kembali oleh World Happines Report yang menempatkan Denmark di urutan atas setiap tahun sejak organisasi ini dibentuk oleh PBB.

WOW, kira-kira apa rahasiannya ya?

Apa yang menjadikan anak- dan orang tua -di Denmark, orang paling bahagia di bumi?

Jessica selaku penulis buku "The Danish Way of Parenting" ini menyatakan bahwa awal lahirnya buku ini adalah sebuah bentuk berbagi kepada semua orang tua tentang perjalanannya mencari pola pengasuhan yang tepat baginya. Lagi-lagi berawal dari kegelisahannya sebagai orang tua baru. Bisakah ia menjadi ibu yang baik atai sebaliknya?

Apa yang terjadi pada Jessica sepertinya umum terjadi ya pada perempuan kebanyakan, betul tidak?

Beruntungnya dia yang tak memiliki pengalaman dalam proses pengasuhan menikah dengan pria Denmark. Inilah awal proses dari belajarnya menjadi orang tua.

Jujur, saat aku membaca buku ini berasa seperti ikut merasakan bagaimana suasana di Denmark. Bahkan aku tak sadar manggut-manggut di setiap hal yang mungkin aku lakukan.

Contoh, saat Jessica bercerita bagaimana dia bereaksi saat menemani anak laki-lakinya bermain sepeda. Dan saat itu hampir saja anak lelakinya tertabrak mobil karena berada di jalanan. Dia mengambil lengan anaknya lalu dalam kondisi panik dan marah dia meneriaki anaknya sambil ngomel-ngomel.

Sekilas terlihat biasa ya. Tapi ternyata tidak, dalam pikiran Jessica dia mencoba mengingat bahwa bukan seperti ini rekasi yang ingin dia tunjukkan. Akhirnya dia berhenti sejalk, tarik napas baru menyampaikan dengan kalimat yang lebih ramah ke anaknya.

Nah, kira-kira reaksi awal Jessica itu kenapa?

Ya! Itu adalah reaksi yang mungkin dulu dia pernah dapatkan semasa kecil. Namun ternyata reaksi itu menciptakan ketakutan pada anaknya. Dan dia tidak menginginkan itu.

Ini poin penting dari buku ini yaitu mau membuka pikiran untuk menerima ilmu atau pendapat baru.

Reaksi Jessica di awal biasa kita sebut default setting--pembawan alami--. Pembawan alami adalah tindakan dan reaksi yang kita lakukan ketika terllau lelah untuk memilih cara yang lebih baik.

Namun Jessica tak ingin hal itu terulang. Dia telah belajar dari bagaimana suaminya bersikap mengasuh anaknya. Dan itupun dilakukan olehnya. Dia memutuskan untuk merubah setelan bawaannya dan berkeinginan mengubahnya menjadi lebih baik. Keren ya buku ini. 

Sekeren apa? Ini 3 alasan buku ini keren buat aku

Pertama, bahasanya ringan.

Selain bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Buku ini menurutku memberikan  gambaran yang dekat dengan sehari-hari kita sebagai orang tua. Menjawab kegelisahan para orang tua bahkan lama sekalipun.

Kedua, aplikatif. Tak hanya teori. Prinsip PARENT yang merupakan warisan prinsip pengasuhan dari orang tua Denmark di ulas satu persatu dengan bab tertentu di dalam buku ini. Di sertai kasus-kasus yang sering terjadi di lapangan. Seneng banget kan bisa langsung praktik! Mana bukunya handy banget lho.

Ketiga, bonus tips tiap babnya. Ada kolom khusus semacam rangkuman dari bab tersebut tapi lebih singkat, padat dan jelas. Membuat pembaca jadi semakin mudah memahami isi dari buku ini.

Sayangnya, aku belum membaca tuntas buku ini. Masih seperempat perjalanan. Tapi dari yang hanya sedikit itu aku menangkap 5 pesan penting yang ingin disampaikan Jessica dalam buku ini.

1. Open minded atas pola asuh yang baru tentunya lebih baik.  Serta erani berubah menjadi lebih baik.
Ini pesan di awal  yang ditekankan oleh Jessica sebagai penulis. Khususnya saat kita para orang berani memperbaiki default setting --pembawan alami--kita. Miriplah dengan innerchild gitu ya. 

2. Menciptakan lingkungan yang membuat anak bertumbuh secara alami. Maksudnya adalah anak tidak dituntut untuk memiliki anak kemampuan tertentu. Pasti familiarkan dengan "anak IPA dan IPS". Nah, dalam buku tersebut disebutkan bahwa biarlah anak bebas bermain dan mengekplore apa yang ada dalam dirinya. Sehingga mereka menemukan apa yang paling mereka minati.

3. Mendidik anak agar menjadi pribadi yang tangguh. Nah, ini poin penting banget buat orang tua. Prinsip pengasuhan orang Denmark ini memang menekankan pada bagaimana seorang anak bisa beradaptasi atas kondisi apapun. Itulah definisi tangguh yang mereka maksudkan. Anak-anak bisa mengendalikan sikapnya dari berbagai situasi khususnya situasi sulit. Nah, inilah mungkin rahasia bahagianya ya. Gak mudah stress hehehe..

4. Minim intervensi dari orang tua. Jujur aku sempat takjub dengan penjelasan yang ditulis oleh penulis dalam buku ini. Disampaikan bahwa saat anak bermain bersama temannya dan ternyata mereka bertengkar. Maka orang tua hanya memperhatikan itupun dari jauh. Sangat dihindari orang tua melakukan tindakan atau intervensi atas terjadinya konflik yang dihadapi anak saat bermain. Keren ya.

Coba kalau di suatu negeri hihihi.
Anak bertengkar orang tua ikut tengkar. Haduh!

Konflik saat bermain mengajarkan anak menyelesaikan masalah. Ketangguhan ini kayaknya memang menjadi salah satu prinsip dasar mereka bahagia.

5. Jujur. Autentik. Poin ini adalah di salah satu unsur kata PARENT. A adalah autentik. Anak diajarkan untuk jujur. Pun dengan orang tua juga diajarkan untuk jujur bahkan saat memberikan pujian. Aku ingat betul tentang penjelasan memuji anak itu ada tekniknya.

Jangan puji yang berfokus pada hasil. Melainkan fokuslah para prosesnya. Semisal hasilnya jelek sekalipun tetap harus diakui bahwa itu jelek. Namun kita hargai prosesnya. Nah cakepkan ya!

Tak hanya itu, anakpun diajari untuk jujur terhadap apa yang mereka rasakan. Wah ini ngajarin selflove ya. Anak-anak dikenalkan dengan semua emosi. Mereka boleh meluapkan semua emosi mereka. Sehingga dengan demikian anak-anak jadi tahu kapan marah dan bagaimana mengungkapkan serta melampiasakannya. Kerenkeren..


Nah itu sih sedikit yang aku dapat dari 1/4 perjalanan membaca buku ini. Sebenarnya buku ini ada dua seri ya. Yang satu berjudul the play danish way. Dan rekomenden semua.

Aku senang sekali dengan kutipan sekaligus rahasia dari kesuksesan pola asuh orang Denmark ini. Yaitu, "Anak-anak yang bahagia tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia, lalu membesarka anak-anak yang bahagia juga  dan seterusnya."


Tuh kan!
Aseli keren buku ini. Sayangnya aku belum menemukan bagaimana menemukan kebahagian dari default setting yang bisa jadi tak cukup bahagia. Buku ini sepertinya tak membahas itu. Hehehe.

Namun tetap aku rekomendasikan buat dibaca oleh para orang tua untuk mendapatkan wawasan baru tentang pola asuh ya. Akupun semakin bersemangat buat menuntaskannya.

Semangat Belajar !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar