Cari Blog Ini

Kamis, 01 April 2021

7 Pertanyaan Seputar Membaca Bersama Balita


Tulisan ini aku persembahkan dalam rangka memperingati Hari Buku Anak Dunia yang diperingati pada tanggal 2 April. Kali ini aku ingin berbagi seputar membaca yang salah satu bagian isinya membahas buku anak donk! Maka inilah 7 Pertanyaan Seputar Membaca Bersama Anak.

Sejujurnya aku baru tahu jika ada hari buku anak dunia. Lucu ya emak-emak macam aku ini. Tapi aku seneng sih jadi bisa ikutan meramaikan. Hai, Selamat Hari Buku Anak Sedunia!

Pasalnya, Hari Buku Anak Sedunia diperingati dalam Rangka mengingat sosok Bapak Dongeng Dunia yakni Hans Christian Andersen asal Denmark. Wah, baru saja tempo hari menulis tentang pola asuh orang tua Denmark.

Hans Cristian Andersen memiliki andil besar dalam memperkaya khasanah buku bacaan anak. Karya yang cukup legendaris adalah "Si Itik Buruk Rupa", "Gadis Penjual Korek Api", dan "Legenda Putri Duyung".

Wah, udah pernah baca atau belum ketiga judul di atas?

Hehehe, tak apa jika belum. Dalam kesempatan kali ini. Aku senang bisa berbagi tentang buku bacaan anak. Seberapa penting kebutuhan membaca bagi anak?

Dalam buku "Membuat Anak Gila Membaca"  dikutip pendapat Paul C. Burns, Betty D.Rose, dan Elinor P. Rose. Dalam buku Teaching Reading in Today's Elementary Schools, Burns dan kawan-kawan berkata, "Membaca merupakan sebuah proses yang kompleks, tetapi setiap aspek yang ada selama proses membaca jiga berkerja denhan sangat kompleks".

Ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca;
1. Aspek sensori,
2. Persepsi,
3. Sekuensial (tata urutan kerja),
4. Pengalaman,
5. Berpikir,
6. Belajar,
7. Berasosiasi,
8. Afeksi.

Ketika anak membaca, sesungguhnya kita tak hanya mengasah ketajamam pikirnya melainkan di saat bersamaan mengasah perasaaannya,  ketajaman intelektualnya sekaligus mengembangkan mentalnya. Apalagi jika itu dilakukan di usia dini.

Nah,  biasanya akan muncul ertanyaan seputar membaca bersama balita. Aku mencoba menuliskan berdasarkan pengalamanku ya, yuks simak!


7 Pertanyaan Seputar Membaca Bersama Balita:


1. Kapan anak mulai dibacakan buku?

Sejak bayi baru lahir.
Bahkan saat ia masih dalam kandungan sudah bisa dibacakan buku.
Dalam buku "Membuat Anak Gila Membaca" dituliskan, Paul Madaule dalam Earobics  suara ibu memberi gizi emosial bagi anak pralahir. Irama dan intonasi yang dilakukan oleh ibu bahkan sejak anak dalam kandungan bisa meresapi bahasa tersebut dalam sistem saraf mereka.

Artinya, anak sudah menyimpan banyak kosa kata bahkan sejak dalam kandungan ketika sering dibacakan buku oleh ibunya.

Amazing!

Diperkuat oleh Jim Trelease dalam buku The Read Handbook, " Hanya ada dua cara efisien memasukkan kata-kata ke dalam benak seseorang: melalui mata atau telinga. Karena anak masih butuh beberapa tahun lagi untuk membiasakan matanya membaca, sumber terbaik bagi ide dan pembangunan otak adalah telinga. Apa yang dikirim ke dalam telinga menjadi fondasi kuat bagi seluruh otak si anak. Suara-suara penuh arti yang diangkap telonga akan membantu anak memahami kata-kata yang dia dapatkan melalui mata saat dia nanti belajar membaca."

Wah keren ya!


2. Apa buku yang tepat untuk balita?

Membaca adalah salah satu aktivitas stimulasi tumbuh kembang anak. Ada 3 utama hal yang perlu diperhatikan saat memilih buku yang tepat:
































a. Buku yang sesuai dengan usianya (spesifik pada isi).
Kadang orang tua masih gagal memahami penyediaan buku bacaan di rumah. Misal kebutuhan buku pada bayi, pada dasarnya bayi memang belum siap membaca. Oleh karena itu bayi memiliki cara membacanya sendiri.

Bagaimana cara bayi membaca?

Bayi akan menunjukkan minat membacanya dengan cara memegang buku, memukul-mukulnya ke lantai, menarik dengan tangannya, disobek bahkan digigit. Itulah buku dengan bahan tipis sangat tidak disarankan untuk bahan bacaan bayi.

Apalagi jika reaksi yang muncul dari orang tua atas tingkah laku si bayi adalah reakrif bahkan mengejutkan. Hal itu membuat pengalaman traumatis pada bayi, mereka akan menangis dan merasa tidak aman. Akibatnya yang terekam aktivitas membaca adalah suatu hal yang tidak menyenangkan.

Nah, perilakukan khas bayi ini tentu perlu menjadi bahan pertimbangan bukan?

Hal ini tentu berbeda dengan anak usia di atas satu tahun. Balita dengan usia tersebut sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada gambar. Bagi mereka ilustrasi yang ada pada buku menyajikan sebuah cerita yang imajinatif.

Berbeda lagi untuk anak-anak usia pra sekolah. Kita bisa memberikan buku yang mulai baca tulisannya. Sekalian mengenalkan huruf, kosa kata berserta penulisannya. Meski biasanya tetap dengan kebutuhan gambar yang lebih dominan.

b. Isinya lebih dominan gambar dengan warna mencolok dan minim kata.  Dan yang paling penting adalah ramah anak serta bergizi.

Wah macam mana itu?

Pilihlah buku yang memiliki struktur pencitraan yang kuat  karena hal ini berpengaruh pada kemampuan dan cara berpikir anak.

Anak bayi biasa kita jumpai full gambar dan maksimal terdiri hanya 3 kata.  Pada batita, biasanya kalimatnya sudah mulai panjang tapi tetap full ilustrasi.  Maksimal 3 kalimat sederhana dan mudah dipahami. Apalagi jika dibuat berrima.

Selain itu, hal yang perlu kita waspadai saat menyediakan buku anak adalah isinya yang ramah untuk anak. Seperti apa?

1. Berisi  hal-hal bermanfaat, pilihlah buku yang mengandung pesan moral yang baik.

2. Gambar atau pilihan katanya tidak mengarah pada pencitraan negatif. Maksudnya ilustrasi yang diberikan adalah gambar yang tidak mengandung kekerasan atau pilihan kata tak berisi muatan negatif.

Seperti apakah contohnya?

Misal pemberian judul Kisah si Kikir. Meski sekilas tanpa tak ada masalah dan mengandung pesan moral pastinya ya. Namun ternyata pemberian judul ini membawa pesan sertaan ( hidden message) yang buruk. Khawatirnya, dari judul maupun isi cerita nanti yang akan dibaca anak pesan yang ditangkap adalah sifat buruk yang ada pada tokoh. 

Termasuk ilustrasi yang diberikan sebaiknya tidak memgarah hal-hal negatif semacam tindakan kekerasan, bulliying atau parahnya pornografi. 

Ditambah lagi, jika tokoh yang dipakai adalah tokoh orang dewasa. Pemberian label si kikir pun bisa mempengaruhi persepsi anak. Sebaiknya, untuk anak usia dini (batita) sediakan buku yang menunjang sikap-sikap positif. Membangun karakter-karakter baik.

Padahal di dunia ini kan beragam ya? Kembali kepada prinsip awal belajar. Bahwa kesiapan anak menerima berbagai macam di dunia ini juga harus di sesuaikan dengan perkembangan kemampuan mereka menerima informasi.

Nah, jadi poin isi buku yang bergizi menjadi perhatian penting lebih dari sekedar kemasannya. Karena bacaan yang menyehatkan mendukung pertumbuhan yang baik pula pada anak.

Teringat Faestival Literasi Bacaan Anak Indonesia Maret 2021 yang lalu, bahwa kebutuhan buku bacaan anak itu tinggi. Hal ini berkaitan dengan menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Namun sangat disayangkan jika kebutuhan ini tidak diimbangi dengan ketersediaan buku anak yang ramah dan bergizi.

c. Bahannya aman.

Khususnya untuk bayi di bawah satu tahun. Biasanya dalam bentuk, buku bantal atau boardbook.  Jika ingin berkreasi, orang tua bisa membuatnya sendiri menghunakan kertas karton. Digunting seukuran buku lalu ditempel dengan gamabr, huruf, angka atau sesuai kebutuhan dengan warna mencolok.

Untuk anak usia 2 tahun ke atas, pemakaian art carton, art paper, dan kertas dengan ketebalan tertentu. Sedang untuk anak usia pra sekolah, bisa menggunakan buku-buku dengan bahan hvs seperti buku kebanyakan.

d. Jika poin a s.d c tak terpenuhi karena berbagai alasan, seadanya buku di rumah saja. Asal isinya "tidak mengandung konten berbahaya". 😁

Buku yang dibacakan kepada anak tentu bukan sembarang buku. Ini penting untuk menjadi pertimbangkan. Sebab kompleksnya rangsangan yang akan kita berikan saat anak dibacakan buku atau membaca.

3. Bagaimana cara membuat anak "anteng" saat membaca?

Inti dari kegiatan membaca yang dilakukan sejak dini adalah "membangun kemauan" membaca pada anak.

Jadi jika saat membaca anak yang masih usia balita lari kesana kemari, seakan tak menghiraukan pembaca.

Gakpapa!

Lanjutkan saja membaca, pastikan saat membaca suara kita masih terdengar oleh mereka. Sebaiknya menggunakan intonasi dan ekpresi yang menarik agar anak penasaran dengan yang kita bacakan.

Seperti cara kita menimang anak, bacakanlah buku dengan suara yang berubah-ubah sehingga berirama. Sesekali meninghi, sesekali merendah. Membaca dengan suara yang berubah-ubah membuat anak tertarik, sehingga anak benar-benar terlibat secara psikis.

Mudahkan?



4. Kapan waktu yang tepat membaca bersama anak?

Saat anak dalam kondisi terjaga. Hehehe.
Ada 3 waktu paling efektif membacakan buku pada anak:
a. Menjelang tidur atau saat bangun tidur.
b. Saat makan
c. Waktu khusus yang dipilih. Misal pergantian sore ke malam sekitar pukul 6 atau 7 malam, bisa digunakan media membentuk habit di rumah.

Namun sejatinya, kebiasaan membaca bisa kita tanamkan sejak dini. Sebab hal tersebut dapat membentuk pola membaca (reading pattern) pada anak.

Jika kita membiasakan membaca buku setiap saat, dimana dan kapanpun. Insya Allah anak akan cenderungbmembaca kapanpun ada kesempatan.

Asyikkan gak harus menunggu waktu-waktu tertentu.  Karena bagi mereka membaca bisa menjadi pengisi waktu luang  penghapus rasa jenuh, dan penghibur rasa bosan.

Dan yang paling penting, anak menemukan ke asyikan saat membaca buku.

5.  Bagaimana cara membaca yang menarik?

Untuk anak usia dini pada khususnya, aktivitas membaca selain menambah kosa kata juga berfungsi mengembangkan imajinasi anak. Intonasi pembaca sangat berpengaruh pada "serunya" cerita yang dibacakan.

Kedua, ekpresi wajah. Mimik muka yang mengikuti jalan cerita membuat tokoh atau suasana saat membaca lebih hidup.  Misal, ekpresi sedih, senang, mencekam, terjatuh, dsb.

Terakhir, interaktif. Libatkan anak dalam proses membaca kita. Ajak anak dengan menunjuk gambar, bertanya ulang tentang tokoh atau membaca bersama.

Coba simak 3 aktivitas berikut;

Berbicara kepada bayi, berbicara dengan bayi, dan berbicara bersama bayi. Dari ketiga tersebut, ada perbedaan mencolok meski sama-sama dasarnya membaca dan bayi yaitu respon dan keterlibatan.

Saat berbicara kepada bayi merujuk pada kebiasaan kita berbicara tanpa meminta respon.
Saat berbicara dengan bayi berarti kita melibatkannya secara aktif. Ada tanggapan yang kita inginkan dari bayi saat kita membaca.

Saat berbicara bersama bayi, kita asyik berbicara dengan orang lain dan tanpa melibatkan dia.

Nah, hal inipun berlaku saat kita membaca dengan anak.
Sejauh ini membaca nyaring masih menjadi pilihan untuk menarik minat baca pada anak. Read aloud yuks!




6. Apakah pentingnya membaca pada balita?

Penting sekali. Why?

Karena banyak manfaat bagi anak usia dini ketika membaca yakni:

a. Mengasah kecerdasan bahasa dengan menambah kosa kata dan struktur kalimat.
b. Mengembangkan imajinasi anak.
c. Menanamkan "long term mesage" untuk bacaan mengandung hikmah.
d. Menstimulasi motorik dan panca indra
e. Membangun kedekatan antara orang tua dan anak.

Nah, 5 poin manfaat membaca ini menjadikan alasan tentang pentingnya membaca pada anak sejak bayi. Pun sempat disinggung di awal tulisan ini yakni 8 aspek yang bekerja saat membaca.

7. Kapan anak diajarkan membaca?



Pertanyaan terakhir ini sering menjadi kegelisahan para orang tua yang memiliki anak pra-sekolah. Saat yang tepat memgajari anak membaca adalah ketika anak memiliki kesiapan untuk membaca (read ingreadiness). Umumnya anak memiliki kemampuan siap membaca di usia 6 tahun. Tetapi mengutip beberapa lrogram ekpresimen membaca mutakhir oleh J.P. Chaplin menyatakan bahwa anak bisa mencapai kesiapan membaca lebih awal yaitu saat anak berusia dua hingga tiga tahun.

Berdasarkan tahap tumbuh kembang kecerdasan bahasa pada anak, usia dua tahun adalah fase di mana anak mengalami ledakan bahasa. Kemampuannya dalam menyerap kata-kata sangat dahsyat.

Hal ini  sejalan dengan pendapat klasik dari Havighurts bahwa mengajar haruslah pada saat anak berada dalam kondisi teachable moment (saat tepat untuk belajar).

Artinya jangan terlalu berambisi anak bisa membaca lebih awal. Karena hal tersebut bisa berakibat negatif jika kita memberika materi pembelajaran sebelum atau sesudah masa kesiapan.

Lalu, apakah bagaimana kita tahu anak siap belajar? Khususnya siap diajari membaca.

Sembari menunggu anak kesiapan anak belajar. Kita bisa merangsang kesiapan tersebut. Kembali mengutip pernyataan Paul, bahwa para pendidik modern tidak lercaya bahwa kesiapa merupaka sesuatu yang harus ditunggi secara pasif. Mereka percaya bahwa kesiapan merupakan sebuah tahap yang anak-anak dapat dibimbing memasukinya.

Jelas bukan!

Langkah awal dalam hal ini adalah dengan memberikan pengalaman pra-membaca kepada anak sehingga timbul ketertarikan yang kiat untuk membaca. Anak akam bersemangat melihat buku atau sumber bacaan lain. Memdorong rasa ingin tahu mereka.

Intinya, tak perlu memaksakan diri untuk membuat anak belajar membaca lebih awal. Namun bukan berarti bersantai. Mari kita tumbuhkan kemauan dan minta membaca pada anak lebih dari menuntut anak memiliki kemampuan membaca sejak dini.

Alhamdulillah sedikit shari tentang seputar membaca pada balita ini dalam rangka memperingati hari buku anak sedunia ya! Semoga bermanfaat!

Sudah membacakan buku pada anak hari ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar