Cari Blog Ini

Minggu, 04 April 2021

Bukan Anak Sultan


Bukan anak sultan adalah catatan receh aku sebagai pecinta buku. Cerita ikhtiar kami menghadirkan buku bergizi dan menyehatkan. Semoga bermanfaat.

Setiap kali melihat bocahku yang hobi banget baca buku. Ingatanku melayang ke puluhan tahun silam. Seorang gadis cilik, tinggal di sebuah perkampungan. Hidup di lingkungan yang jauh dari kata "berpendidikan". Bekerja, mengumpulkan rupiah demi asap dapur yang harus mengepul.

Setiap kali si gadis cilik menemukan sobekan koran. Betah baginya berlama-lama membaca tiap kata yang tertulis di dalamnya. Entah apa isinya, yang ia tahu hanyalah keinginan membaca. Apapun!

Begitulah gambaran betapa menghadirkan bacaan yang menjadi sumber ilmu adalah suatu hal yang langka karena banyak sebab.

Namun di zaman sekarang, tantangan zaman makin kejam. Tak hanya soal perut kenyang akan tetapi bagaimana memberi nutrisi bagi akal, hati dan pikiran.

Teringat cuplikan seminar pekan lalu, seorang peserta bertanya.

"Bagaimana bisa membuat anak didik kita tak hanya memgenal atau bahkan sekadar tahu tentang sosok Rasulnya, kisah teladan lainnya?"

Si pemateri bahkan mengambil napas panjang ketika akan menjawab, terkesan berat betul mendidik anak di zaman ini.
" Berbeda, anak zaman dulu dengan sekarang ini. Kemajuan teknologi dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan menjadikan anak-anak sekarang bisa menjangkau banyak hal. Hanya lewat gawai di tangan. Mereka dilahirkan sebagai generasi yang cerdas, hingga haus ilmu untuk memuaskan akal dan logika berpikir mereka."

Lanjutnya," Sampaikanlah dengan tabligh, sentuh sisi emosional mereka. Hati dan perasaan mereka, tak ada teknologi secanggih apapun yang bisa menggantikan nilai emosional seseorang. Dan membacakan siroh merupakan salah satu sarana melembutkan hati."

Sekilas begitulah yang tertangkap dari ulasan seminar kala itu.
Perlu kita pahami, bahwa anak kita hidup di zaman yang berbeda dengan orang tua mereka semasa hidup. Menyiapkan mereka  untuk tangguh adalah salah satu langkah bijak agar mereka mampu bertahan dari berbagai rintangan kelak.

Semoga kita dikuatkan membimbing anak-anak kita hingga menjadi manusia tangguh di zamannya. Aamiin.

Buku.
Ya, salah satu wasilah sebuah keluarga mendidik anak-anaknya adalah dengan menghadirkan buku-buku terbaik. Sebagai media belajar ataupun bertutur kisah. Apalagi jika itu kisah-inspirasi semacam sirah rasul, nabi ataupun sahabat.

Memang harganya tak murah. Bahkan bisa dibilang mahal.
Karena mungkin kita bukan "anak sultan". Maafkan jika meminjam istilah ini. Insya Allah dengan tekad dan semangat yang kuat, ikhtiar terbaik senantiasa ada jalan menghadirkan buku-buku bergizi di rumah. Terus berdoa, minta kepada sang Pemberi rezeki, semoga dibukakan keran-keran rizki dari arah yang tak disangka-sangka. Aamiin.


Suatu kali kudapati celetukan seseorang yang masih saudara sendiri, "Buku kayak gitu berapa harganya, Mim?" Sembari melihat si kakak yang asyik membolak balik buku satu jilid yang dia bawa.
Ku jawab dengan seulas senyum.

"Berapa sih?" desaknya lagi.

"Mahallah!" sahut yang lain menimpali.

"Yang bisa beli buku macam itu ya dhek Hamim. Kalau aku harga buku mahal, rusak nanti tinggal nyeselnya." Lalu diiringi pecah tawa dari semua. Pun denganku yang sedari tadi tak ingin angkat suara. Hanya senyum sesekali dan lebih banyak menyimak.

Dan masih banyak contoh percakapan serupa saat beberapa orang melihat bandrol harga sebuah paket buku seharga gadget baru. Akupun meng-iya-kan akan besarnya jumlah rupiah yang harus kami keluarkan saat menghadirkan buku-buku itu.

Pada awalnya aku pribadi merasa tak minat untuk beli buku seharga uang belanja bulanan itu. Namun setelah menjadi orang tua. Membaca referensi dan memahami satu hal. "Apa yang akan kamu tinggal untuk mereka saat kalian sudah tak bersama?"

Jleb!

Ini bukan tentang bilangan harga. Bukan pula karena aku punya banyak harta. Bukan! kami belum semampu itu. Keuangan kami juga masih muter kayak roalcoaster, tak berlebih. Namun ini babnya bukan mampu atau tidak mampu. Tapi mau atau tidak mau!

Nah, sebelum membeli aku benar-benar membaca apa keuntungan dari memiliki buku ini. Aku sesuaikan dengan kebutuhan kami, anak-anak khususnya. Sebagai orang yang fakir ilmu. Aku merasa perlu backing yang kuat menjadi guru di rumah. Menciptakan suasana rumah yang bisa menjadi madrasah pertama untuk mereka.

Dalam pikiran sederhanaku, aku tak bisa selalu bersama mereka setiap waktu. Maka bekal ilmu akan menjadi pedoman untuk mereka. Semoga Allah ridha atas langkah kecil kami. Aamiin.


Lalu apa alasan kuatku menghadirkan buku yang tak murah di rumah?

Strongth why-ku!

1. Anak itu investasi.

Tak hanya investasi di dunia melainkan hingga ke akhirat kelak. Bagaimana mungkin bisa?

Tahu gak amalan yang mengalir saat kita sudah tiada nanti? Ada 3, harta yang disedekahkan, ilmu yang bermanfaat, dan terakhir anak yang sholih mendoakan orang tuanya.

Ketiganya disebut amal jariyah. Nah, inilah alasan terkuatku. Aku ingin berinevstasi melalui anakku. Apalagi kita sadar bahwa sejatinya sebagai orang tua kita sedang menyiapkan anak-anak ketika dia tak bersama kita lagi .

Jika selama ini kita rela mengeluarkan sekian rupiah untuk investasi harta dunia kita. Maka untuk anak mengapa tidak?

Anak adalah amanah.



2. Kebutuhan

Ya, aku bilang ini kebutuhan bagi kami. Khususnya di usia golden age, perkembangan otak anak sangat optimal. Sangat di sayangkan jika dilewatkan begitu saja. Maka, perlu bagi orang tua memantau milestone tumbuh kembang anak.

Dalam hal ini aku fokus pada perkembangan bahasanya. Karena di era digital ini kasus speechdelay mulai banyak terjadi. Kenapa? Karena minimnya stimulasi bahasa pada anak.

Nah, kehadiran buku yang tepat dan membacakan pada anak akan merangsang kecerdasan bahasa anak. Dan aku membuktikannya.

Tak hanya menambah kosakata, melainkan merangsang kerja otak agar lebih maksimal. Inilah manfaat membacakan buku sejak dini.

Selain itu, menanamkan kecintaan literasi sejak dini.


3. Alternatif Hiburan

Alhamdulillah, entah komitmen entah karena sok sibuk.
Sejak awal menikah tak ada prioritas bagi kami untuk menghadirkan kotak ajaib (katanya) itu di rumah.

Hingga kami punya duo sholihah. Rumah bertahan tanpa kotak ajaib itu. Pernah suatu kali ibu mertua bertanya, " Hiburan kalian apa?"
Kamipun menjawab, " Banyak bu, bisa tidur, bisa baca buku, keluar rumah terus pulang lagi ke rumah buat istirahat."

Setelah anak-anak lahirpun pertanyaan itu muncul kembali, jawaban kami. " Gakpapa banyak mainan di rumah. Bisa main sama kami. Baca buku." Bukan sombong atau apa. Karena memang kami tahu sebagian menganggap bahwa kehadiran TV di tumah bukanlah barang tersier. Melainkan kebutuhan primer untuk memecah kebosanan mereka.

Setelah hadir handphone. Beberapa pun menyampaikan bahwa memberika  handphone anak adalah agar bisa jadi salah satu mainan mereka. Entahlah, kenapa hati kecilku menolak. Benar-benar menolak.

Apakah anak-anakku free gadget?
Tidak!

Meski di rumah tanpa televisi. Anak sulungku mengenal smartphone. Bahkan sudah pandai mengoperasikan sendiri. Bagaimanapun, terlahir sebagai generasi alpha. Kami tak bisa membuat dia jauh dari gadget. Kami kenalkan saat dia usia 2 tahun.

Ya dua tahun. Benar2 kenal gadget. Meski sebelumnya, dia tahu dan tidal benar2 kami berikan buat dia interaksi secara langsung.

So?
Ada konsekuensi.
Banyak yang menyampaikan bahwa TV, gadget dan semacamnya itu hiburan karena itulahbadanya sekarang. Tidak menolak tapi juga tidak sepenuhnya setuju.

Maka, saat kami tak menghadirkan benda2 itu. Konsekuensi yang kami ambil adalah menyediakan alternatif hiburan yang lain. Khususnya kehadiran kami yang harus "menarik" untuk mereka.
Menggantikan posisi kotak dan layar ajaib itu.
Mainan ( sebenarny gak begitu banyak ), buku-buku atau agenda jalan-jalan ala kami.

Begitulah, mudahkan menjalaninya?
Tidak juga. Tapi dengan tekad yang kuat insya alloh kita akan punya pegangan.

Buku.
Alhamdulillah masih menjadi posisi besar untuk anak-anak.
Mereka tertarik apalgi kalo bunda yang baca hihiii..
#tsah. 😅😅

Perlu kerjasama.
Perlu alternatif.
Perlu menemukan alasan kuat.

Komitmen 

“Menyempatkan waktu untuk bermain dengan anak adalah investasi terbaik yang bisa dilakukan oleh orang tua” - ESQ Team

Nah jadi begitu ya, tiga strongth why-ku. Dan satu tambahan yang menguatkan. 


4. Menjalankan Konvensi PBB Untuk Hak Anak

Pada tahum 1989, Majelis Umum PBB mendeklarasikan Konvensi Hak-Hak Anak. PBB berharap, para ibu, ayah, guru, perawat, dokter, pemimpin pemerintah, aktivis, tokoh agama, masyarakat sipil, korporat, media massa, kaum muda dan anak-anak, dapat memainkan peran penting dan menjadikan Hari Anak Sedunia sebagai suatu momentum untuk mewujudkan kesejahteraan anak.

Ini penguat sih, aku baru tahu sih adanya konvensi hak anak ini. Namu  diliat dari kacamata yuridis, artinya ada dukunga  hukum yang kuat bahwa anak itu berhak mendapatkan haknya.

Dalam pasal 28, menyebutkan, "Tiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas..."

Sebenarnya pasal ini ditujukan untuk pendidikan formal. Namun tak ada salahnya jika diterapkan di rumah. Apalagi rumah adalah sekolah pertama bagi anak kita bukan?

Dari rumahlah anak sejatinya belajar pertama kali. Siapa gurunya? Orang-orang di lingkungan rumah tersebut. Khususnya kedua orang tua mereka. Sebagaimana harapan PBB pada konvensi di atas yaitu peran ibu dan ayah.

Setelah membaca penjelasan super panjang di atas hehhe, lalu apa yang menjadi pertimbanganku peribadi ketika akan menghadirkan buku anak di rumah?

Ada 3 pertimbangan membeli buku buat aku,




1. Isi.

Jelaslah ya, aku pernah membahasnya di artikel seputar membaca sebelumnya. Nah, berkaitan dengan isi ini aku masih membuat kategori khusus.

a. Aku ingin menanamkan nilai ketauhidan melalui buku.
Jadi, penting bagiku bisa menghadirkan buku-buku yang memguatkan fitrah keimanan atau seputar dialog iman.

b. Buku yang menanamkan karakter baik sehari-hari. Misal nih, buku cerita seri Umma dan Oemar. Waktu kakak sedang fase toilet training, buku Oemar Tidak Pipis di Celana Lagi. Serta buku-buku yang lain meski bukan seri Umma dan Oemar.

c. Buku berisi tentang pengetahuan. Semacam ensiklopedia. Misal miliknya Rabbit hole, bukunya menarik secara isi maupun  penyajian. Seperti buku Hope yang menceritakan tentang pertumbuhan. Hwkakaka bagus!


2. Bahan.
Aku dulu tidak terlalu berpikir mengapa kertas pada buku beda-beda. Setelah memiliki anak aku bisa memahami. Untuk buku yang diperuntuk bagi anak-anak haruslah khusus. Apalagi jika mereka masih fase oral.

Buku diemut, digigit, disobek tentu menjadi rasa khawatir dan "eman" kan. Anak pertama adalah pembelajaran buat aku.

Jadi, saat anak kedua ini. Aku lebih hati-hati dalam memilihkan buku untuk dihadirkan di rumah. Saat bayi aku prefer buku bantal. Terbuat dari kain dan kadang ada pula dari flanel atau semacam bahan parasut.

Usia 6 bulan ke atas kemampuan indranya semakin baik. Jadi buku dengan penuh warna adalah pilihan. Bahannya? Harus boardbook. Kertasnya tebal bisa sampai kurang lebih 1-2  cm. Agak berat sih kalau di balik tapi jauh lebih aman. Serta hindarkan yang tampilannya bentul flip flap.


Di rumah ada buku cukup tebal kertasnya. Tapi malah jadi korban sobekan adik karena tampilannya buka tutup. Begitulah nasih buku.

Saat anak usia di atas 1 tahun. Barulah bisa disediakan buku flip flap atau geser. Buku yang halamannya mulai ada kalimat pendeknya.

Biasanya buku-buku semacam ini memang lebih ke kegiatan sehari-hari. Misal adab makan, mengenal anggota tubuh, dan lain-lain.

Saat anak udia pra sekolah, bisa disediakan buku yang mulai lebih panjang kalimatnya . Ceritanya utuh dan bisa didiskusikan saat atau setelah membaca.

Termasuk ilustrasipun kupastikan yang ramah anak. Karena buku bacaan anak yang banyak bercerita adalah gambar. Maka memastikan ilustrasi atau gambar pada buku aman untuk dikonsumsi juga menjadi pertimbangan memilih buku anak buat kami.


3. Harga terjangkau.




Hkwkaka, ini relatif ya. Jika bicara nominal yang harus kita bayar yang tampak hanya kertas. Maka ini bisa menjadi pertimbangan utama. Namun kenyataannya, isi dan bahan menjadi nilai yang layak dibayar dengab nominal tertentu dan tidak murah.

Seperti ceritaku di awal. Kami terlahir bukan sebagai anak sultan. Maka menghadirkan buku harga uang belanja tentu agak bikin "ngede". Bahasa Jawanya "ngoyo". Berusaha pakai banget.

Saat orang melihat kami bisa beli buku harga gadget canggih itu kebanyakan heran. Tapi aku memaklumi. Padahal akupun tak membelinya cash kok. Aku tak sanggup saat ini.

Jadi?

Beruntungnya pihak yang membuat buku membuat sistem bayar yang memudahkan kami. Ada 3 pilihan, bisa cash. Trik agar dapat harga murah maka harus rajij mantengin diskonan dari buku yang akan dibeli. Hehehe.

Masalahnya, saat diskon gede tiba uang tetap tak cukup. Hihihi. Cara kedua, arisan. Semacam mencicil gitu. Kita bayar perbulan dengan nominal tertentu. Jika sudah sampai urutan kita maka paket buku akan dikirim deh ke alamat kamu.

Ketiga, ini cara terakhir. Semisal ada yang khawatir dengan sistem no 2. Maka pilihan tabungan bisa menjadi solusi. Caranya, kamu bisa menabung setiap hari dengan nominal yang kamu suka. Makin konsisten makin cepat terkumpul.  Dimana nabungnya? Ada instantsi buku tertentu yang menerima sistem tabungan..

Sistemnya nabung tiap bulan dengan jumlah setoran minimal ditentukan. Nah, saat dana sudah terkumpul cukup untuk membeli buku maka uang dalam tabungan bisa dipakai. Jika lebih dikembalikan jika kurang tinggal membayar kurangnnya.

Pihak tim buku akan membantu mencarikan waktu yang tepat. Semisal saat diskon gede, maka mereka akan segera menghubungi teman-teman yang menabung.

Dua dari 3 di atas aku lakukan. Sungguh karena kamu bukan anak sultan. Menghadirkan buku harga jutaaan. Namun tingginya harapan maka kami ikhtiarkan.


Jadi begitu Sobat Hamim, perjalanan kami memilih hingga menghadirkan buku bacaan bergizi dan menyehatkan untuk anak kami.

Semoga bermanfaat!

2 komentar:

  1. Pilihan buku anak sekarang luar biasa banyaknya. Orang tua perlu kerja keras juga nih untuk memilih-milih buku yang tepat buat anaknya. Disesuaikan dengan minat anak dan budget keluarga.

    Kadang saya suka iri sama teman-teman di luar negeri yang akses ke perpustakaan kotanya begitu mudah dan tersedia buku-buku bagus untuk anak-anak. Ini akan sangat membantu buat anak-anak yang perlu banyak membaca, tapi nggak harus punya sendiri juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali kak.hahahaha. nah makanya aku bikin kriteria lagi di bagian isi. Karena itu yang paling bisa menjadi landasan memutuskan jadi beli apa tidak.

      Hapus