=Hamimeha

Quote Bijak Tentang Kehidupan Arsitek Peradaban

2 komentar
Konten [Tampil]
Quote bijak tentang kehidupan arsitek peradaban

"Hidup adalah masa karya kita bukan waktu yang kita miliki, tapi kita adalah amal yang kita lakukan." (Anis Matta)

Jleb!

Dalam kondisi iman yang sedang carut marut aku selalu melakukan banyak refleksi diri. Selain memperpanjang sujud, berlama-lama dengan Alquran, ada satu hal yang sering aku lakukan yakni membaca buku.

Yup!

Buku senantiasa jadi teman setia saat hati kondisi lara. Dalam buku ada kekuatan kata-kata yang bisa menjadi obat. Salah satu buku yang sering aku buka berulang adalah buku karya Anis Matta yang berjudul "Arsitek Peradaban".

Ah, berat sekali judulnya ya Kawan Hamimku? Namun tahukah kalian? Bahwa buku yang hanya terdiri dari 25 halaman ini penuh dengan kata bijak yang menggugah jiwa. Tak jarang aku menelaah makna kata dibalik kalimat yang pria kelahiran Bone tahun 1968 itu.

"Hidup adalah sebuah pertanggungjawaban. Itu merupakan kesadaran eksistensial yang hadir secara instens dalam nurani harakiyah seorang muslim." (Anis Matta-Arsitek Peradaban)

Sesungguhnya nyaris semua susunan kalimat dalam buku ini adalah quote penuh makna. Nah, dalam kesempatan ini aku ingin berbagi kumpulan quote bijak tentang kehidupan Arsitek Peradaban ini kepada kalian.

Semoga dengan kumpulan quote bijak tentang kehidupan ini juga menjadi pemantik bagi Kawan Hamimku dimanapun kalian berada. Yuks simak ulasanku berikutnya!

Tentang Buku Arsitek Peradaban


Membaca ulasan para pembaca yang telah melahap buku bersampul dominan coklat itu. Aku rasa memang benar, buku "Arsitek Peradaban" memang bukan bacaan yang ringan, meski ukuran bukunya kecil dan tidak tebal. Akan tetapi, ia memuat cita-cita penulisnya yang sangat ambisius dan berwawasan luas.

Aku pun meski sudah berulang kali membaca masih sering mencoba mengeja makna yang ingin disampaikan penulis. Disisi lain, aku selalu mendapat semangat dan insight baru tiap membaca lembaran-lembaran di dalamnya. Penuh quote yang menggugah jiwa. Meski bukan buku fiksi namun esai yang ditulis oleh tokoh politik ini memiliki kekuatan sastra yang dalam, tajam, dan kaya akan kejutan.

Bukan sekadar bab arti kita di dunia melainkan bekal kita bertemu Sang Pencipta.

"Setiap manusia menjadi air di laut sejarah, … selalu mengalir. Tapi kemanakah sejarah mengalir? Dan siapakah tetes-tetes air yang menjadi riak itu…menjadi gelombang itu? Angin!

Angin!

Inilah yang menanamkan "kehendak" ada tetes-tetes air itu untuk menjadi gelombang. Ketika sentuhan angin itu menguat, gelora kehendak juga akan menciptakan gelombang yang dahsyat.

Angin itu adalah iman."
(Pijar Makna dari Serpihan Sang Gelombang)

Identitas Buku Arsitek Peradaban

Buku arsitek peradaban
Buku yang merupakan kumpulan esai karya Anis Matta ini merupakan ide dari Deka Kurniawan selaku editor buku bersampul coklat ini.

Pasalnya, Mas Deka ini merasa punya ikatan emosional dengan rubrik syazarot (serpihan-serpihan) dalam Inthilaq kala itu. Aku rasa apa yang disampaikan Mas Deka tak berlebihan karena akupun saat membaca buku Arsitek Peradaban ini senantiasa mendapat suntikan semangat kembali.

Pilihan diksi yang dalam dan tajam membuatku menyadari banyak hal. Mas Deka bahkan menuturkan, "Saya merasa, waktu itu Syazarot berinteraksi secara ideologis dengan saya. Saya seperti dikeluarkan dari perut dengan tema-tema hakikat hidup (Hidup adalah masa karya, kita bukan waktu yang kita miliki, tapi kita adalah amal yang kita lakukan, kutipan dari Al-Sabq atau dalam Pengalaman, Amanah, dan Kematian)."

Ah, persis!

Inipun yang aku rasakan. Selama membaca buku buah pikir dari Sang Gelombang itu. Ya, Mas Deka menyebut penulis dari esai penggugah jiwa ini sebelum menjadi buku.

Dan tahukah kalian Sobat Hamim? Mengapa judul dari buku ini terdengar berat padahal secara fisik cukup ringan? Ya, karena esai yang ada di dalamnya memiliki benang merah pada penggambaran sosok manusia yang pantas untuk mengarsiteki sebuah peradaban yang dirindukan.

Satu waktu, sosok itu dipersonifikasikan sebagai tetes-tetes air dalam aliran sejarah yang memggelombang oleh angin keimanan. Masya Allah! Inilah alasanku menjadikan buku ini sebagai inspirasiku. Sebab berisi quote bijak tentang kehidupan yang membuatku jadi bersemangat kembali menjalani lorong waktu sebagai hamba-Nya.

Kumpulan Quote Bijak Tentang Kehidupan Arsitek Peradaban

Yup!

Dari enam bab dalam buku ini nyaris setiap kalimat yang dituliskan layak dijadikan quote. Sebab penuh makna dengan pilihan diksi yang apik. Wajar sih, sebab penulis ini pembaca yang rakus. Anis Matta memang terkenal dengan orator handal.

Jadi, tak salah jika tulisan esai dalam buku Arsitek Peradaban ini mampu menggugah semangat kita. Tampaknya ide dalam tiap esai memang bermisi untuk membangun kesadaran akal dan jiwa setiap pembaca akan nilai tauhid yang hakiki serta semangat pikiran yang selalu bergerak dan bergerak.

Ya, kita diingatkan untuk terus berkarya di sepanjang masa kita yang bernama usia. Tak berlama-lama inilah kumpulan quote bijak tentang kehidupan dari buku Arsitek Peradaban yang paling berkesan untukku.

Quote Bijak Tentang Kehidupan Seputar Waktu

Ada tiga quote paling berkesan dan selalu aku jadikan penyemangat saat aku mulai terlena dengan waktu luang.

Pertama, hidup adalah masa karya.

"Hidup adalah masa karya. Setiap kita diberi rentang waktu, yang kemudian kita sebut umur, untuk berkarya. Harga hidup kita dimata kebenaran ditentukan oleh kualitas karya kita. Maka sesungguhnya waktu yang berhak diklaim sebagai umur kita adalah sebatas waktu yang kita isi dengan karya dan amal. Selain itu bukanlah milikmu."

Kedua, hidup adalah sebuah rahasia tentang menunggu kematian

"Hidup ini adalah jalan panjang yang harus kita lalui. Tak satupun diantara para peserta kehidupan itu yang diberitahu dimana dan kapan ia harus berhenti. Sebab tempat perhentian pertama yang engkau tempati berhenti adalah ajalmu. Akhir masa karyamu."

Ketiga, hidup adalah catatan sejarah pada akhirnya

"Berapakah luas wilayah ruang dan waktu yang diberikan sejarah kepada setiap lelaki untuk dimaknai, dihidupkan, lalu diabadikan? Apakah manusia dalam perhitungan sejarah, memaknai dirinya dengan waktu atau biaya?

"Sejarah pada mulanya, menggunakan deret ukur waktu. Di sini, setiap manusia menjadi setetes air di laut sejarah. Setetes air itu bernama umur. Dan kumpulan tetes-tetes itu disebut sejarah: Kita semua adalah sejarah. Tak ada yang lepas daripadanya."

Bagaimana Sobat Hamim, secuplik quote bijak kehidupan di atas apakah mulai menggelisahkanmu? Semoga iya ya, agar kita sadar bahwa waktu hidup kita sungguh tak banyak di dunia ini. Mau menorehkan sejarah hidup seperti apa kita kelak?

Quote Bijak Tentang Kehidupan Seputar Perjuangan

Sobat Hamim, di quote bijak kehidupan yang mengangkat tema perjuangan ini akan sedikit menyentil sisi emosional kita. Maka siapkan mental agar terbangun kesadaran secara sehat saat membacanya.

Pertama, bumi adalah ruang implementasi tugas kita sebagai manusia

"Begitulah pada mulanya manusia Muslim menyadari, bahwa ia diturunkan ke dunia sebagai khalifah yang bertugas merealisasikan kehendak-kehendak Allah, dalam bentuk kemakmuran bumi yang memungkinkan seluruh warga bumi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan peserta di alam raya ini: beribadah kepada Allah."

"Begitulah bumi menjadi ruang implementasi tugas kekhalifahan, dalam batas-batas tempo kerja, yang secara mikro kita sebut umur dan secara makro kita sebut sejaraj berdasaelan program kerja yang selanjutnya kita sebut agama. Disitulah ia, sang Muslim, memainkan peran ganda; sebagai pelaku dan obyek kepelakuan sekaligus."

Kedua, tentang arti pahlawan sejatinya adalah kita

"Jadi, pahlawan itu adalah orang yang banyak melakukan amal kebaikan atau amal shalih sehingga memperoleh banyak pahala. Bila kemudian ia diberi gelar pahlawan, itu lebih karena citra dirinya sudah terlalu didominasi oleh pahala. Orang seperti ini, biasanya masih tetap mempunyai kesalahan, tapi dapat dihitung jari."

Ah, jujur saat aku membaca quote imi rasanya malu. Dalam satu esai ke-27 yang berjudul pahlawan ini diulas bagaimana selama ini kita membuat definisi pahlawan hanya terlalu melihat secara kasat mata. Sehingga, pahlawan hanya cemderung mereka yang terlihat menonjolm. Padahal sejatinya, pahlawan itu bisa jadi adalah kita yang sesuai definisi di atas.

Sebab, arti pahlawan itu lebih dari sekedar gelar.

Quote tentang pahlawan
Ya, bicara tentang pahlawan sejatinya siapapun bisa jadi pahlawan. Jadi teringat temanku yang juga inspiratif menabar kebaikan yakni Mbak Dea Vita Manda yang kini sedang mengikuti Boot Camp Duta Inklusif 2022 dalam rangka mewujudkan lingkungan insklusif bagi seluruh ibu di penjuru Indonesia.

Quote Bijak Tentang Kehidupan Seputar Kedewasaan


Kali ini aku ingin mengajak Sobat Hamim untuk ikut memaknai arti kedewasaan melalui quote bijak yang ada dalam buku Arsitek Peradaban ini. Tentang amanah, perasaan, dan tanggung jawab.

Pertama, hidup adalah pertanggungjawaban

"Ternyata, hidup adalah pertanggungjawaban. Ia bukan permainan. Sebab ia diberikan kepada kita atas dasar sebuah perjanjian mahasakral dengan Allah Sang Pencipta Kehidupan. Dan bumi ini, temlat dimana kehidupan manusia disemaikan, adalah panggung pementasan amanah"

Satu esai berjudul Amanah dalam buku Arsitek Peradaban ini selalu berhasil membangunkan semangatku lagi. Setiap sajian kata yang cerdas diolah sedemikian rupa sehingga mampu membakar kembali semangat kita tentang "Untuk apakah kita sejatinya diciptakan dan hidup di dunia?"

Seperti dalam quote kedua ini,


"Tiap detik yangkita lalui di lorong waktu kehidupan ini adalah jenak-jenak yang harus dipertanggungjawabkan di depan Allah. Setiap sisi ruamg dan waktu harus merupakan implementasi "ibadah" total kepada Allah. Sebah hanya dalam kerangka iti, semua gerak kita memperoleh makna hakiki di mata Allah."

Jleb banget ya!

Tak selesai di bab pertanggungjawaban tapi kita juga disuguhkan sebuah kisah heroik kematian Sa'ad Bin Mu'adz di Perang Badar.

Quote yang menohokku bab dzikrul maut ini adalah sebagai berikut:

"Kematian ternyata buka peristiwa biasa. Ia adalah peristiwa peradaban yang mahasakral, yanh gaungnya menggema di langit dan di 'Arsy. Ia bisa mengharubirukan langit dan membuatnya menangis. Sama seperti ia bisa memarahmurkakan langit dan membuatnya senang."

Pertanyaanya?

Hal 57

Ketiga, kedewasaan adalah refleksi sejumlah perasaan.

"Perasaan adalah penghuni rumah hati kita. Tabiat kepenghuniannya seperti tabiat kepribadian kita. Kadang ia menjadi penghuni yang baik. Di lain waktu ia menjadi penghuni nakal. Kadang ia bergemuruh bagai gelombanh. Kadang ia melambai-lambai bagai riak kecil."

Kata Syekh Ali At-Thanthawi "Jangan sekali-kali meremehkan perasaan." Sebab manusia menjadi manusia dengan perasaannya. Ia adalah tempat persinggahan dua hal tersuci di dunia ini : iman dan cinta.

Ya, jika kutulis semua kumpulan quote bijak tentang kehidupan dari buku Arsitek Peradaban ini rasanya sama artinya aku menulis semua isi buku. Hwakaka. Jadi, cukuplah ini yang paling mengena. Khususnya bab yang menggugah semangat kita untuk menjadi seorang hamba.

Alasan Membaca Buku Arsitek Peradaban Sebagai Penyemangat Diri

Sobat Hamim, aku pribadi lebih memilih menjadikan buku Arsitek Peradaban karya Anis Matta ini karena isinya tak hanya membangkitkan semangat berkarya.


Namun lebih sekadar berkarya untuk menorehkan tinta sejarah di dunia. Melainkan, lebih jauh lagi yakni orientasi ukhrawi yang tinggi. Ini tentang charger iman yang sering kali naik turun. 

Maka membaca buku penyemangat diri ini merupakan buku andalanku untuk menyentil diri ini. Dan lagi, kita juga dibukakan kesadaran tentang dunia islam di negeri yang lain. Bahkan meski sudah ditulis di tahun 2006 lalu, esai buah pikir tokoh yang pernah menjabat sebagai wakil DPR RI ini 2009-2013 terasa masih relevan untuk dibaca lagi.

Satu lagi, diksi yang dipilih sangat cerdas untuk menggunggah jiwa kita yang butuh dibakar agar selalu membara. Meski demikian, penuturan yang sebenarnya emosional ini tetap bisa dituliskan dengan bahasa yang santun dan lembut.  Tergambar jelas bahwa si penulis memiliki kekayaan wawasan yang luas. 

Ah, tak mudah bisa mengejawantahkan hal berat menjadi sajian yang asyik untuk dinikmati. Dari beragamnya bacaan tokoh kelahiran Bone ini, ia menunjukkan  bahwa kemampuannya untuk menyuguhkan nilai yang ingin dia sampaikan adalah sebuah kematangan berpikir bukan seperti anak muda yang liberal yang tengah puber intelektual. 

Yup, itulah alasanku sering membuka buku kecil bersampul coklat bercover masjid Al Aqsa ini memang penuh dengan kumpulan quote tentang kehidupan yang patut kita renungkan.

Aamiin.


Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

2 komentar

  1. Aku selalu penasaran sama arsitektur peradaban, maksudnya bangunan sana mba apalagi petra wkwk
    Di buku ini apa ngebahas tentang itu juga mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukann.... arsitek peradaban hanya istilah yang diambil dari makna dari essai yang dibuat oleh anis matta.

      Hehhee gak ada kaitannya dg disiplin ilmu seorang arsitek

      Hapus

Posting Komentar