=Hamimeha

Blogger Merdeka Ala Aku, Hamimeha!

21 komentar
Konten [Tampil]
Menjadi blogger merdeka
"Setting your goals as blogger!" Adalah salah satu insight yang pernah aku tuliskan dari mengikuti semarak blogger day yang diselenggarakan Bloggercrony 2022 lalu. Cuplikan yang tak kalah penting dan menancap di ingatanku adalah pernyataan pemateri kala itu, "Mau dibawa kemana blogmu? Mau jadi blogger yang seperti apa?"

Jleb!

Aku mencoba meraba ingatanku ketika pertama kali memutuskan terjun ke dunia blogging setelah menelurkan beberapa karya buku antologi. Selama ini, menulis adalah sebentuk luapan rasa yang membebaskan pikiranku menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Yups! Sebebas itu! Apalagi ketika aku menyentuh karya fiksi. Rangkaian kata dan alur cerita melukiskan imajinasiku merangkai kisah. Lalu, bagaimana ketika tulisan itu berwujud artikel postingan dalam blog?

Apalagi jika artikelnya merupakan "artikel pesanan". Akankah aku bisa menulis seleluasa sebelumnya? Yuks simak cerita menulis dengan merdeka versi aku dalam tulisan ketika blogger merdeka ala aku ini ya!

Semoga pengalaman singkatku menjadi wawasan baru khususnya buat Sobat Hamim yang ingin menekuni dunia para blogger.

Merdeka Bukan Berarti Semau Gue!

Arti merdeka menurut KBBI
Menarik sekali ya Sobat Hamim, jika mengadopsi makna merdeka menurut KBBI memang memiliki kesan bebas, berdikari, mandiri. Namun, apakah merdeka memang sedemikian mutlak?

Aku pribadi lebih senang memaknai merdeka dengan arti bersikap bebas dengan bijak. Dengan kata lain, bebas yang tidak egois atau bebas yang bertanggung jawab.

Di era digital saat ini, aku seringkali melihat kebebasan yang kebablasan. Alih-alih menyebutnya merdeka dengan dalih bebas mengekspresikan aspirasi. Aku kerap berpikir bahwa mereka yang tidak bijak itu adalah orang-orang yang haus perhatian.

Ops!

Agak subyektif ya Sobat Hamim. Tapi fakta menyebutkan banyak sekali hal-hal viral di media sosial memang banyak mencuri perhatian. Sayangnya, kasus viralnya berdalih bahwa mereka adalah jiwa yang merdeka.

Ah, merdeka yang merugikan orang lain itu namanya egois. Pun, ketika kita menulis. Jika kita menulis suatu hal yang isinya negatif dan tidak berpikir pada dampaknya maka itu bukanlah kebebasan. Itu adalah keegoisan dan cari perhatian.
Seorang mentor di dunia blog pernah berkata, "Tulisanmu bisa mengalirkan energi. Jika energinya positif maka yang membaca akan tertular. Pun ketika yang kamu tuliskan tersebut berisi energi negatif maka kamu sedang membuang sampah."
Maaf, jika agak kasar. Tapi penting untuk diperhatikan khususnya seorang blogger. Meski blog merupakan diary digital milik personal. Namun akan alangkah bijak jika tidak mengatasnamakan kata merdeka jika masih semau guwa.

Eist..

Kalau merdeka tidak bisa bebas semau gue. Artinya gak merdeka donk! Nah, coba baca deh ulasan selanjutnya!

Bersikaplah Bebas Namun Bertanggung Jawab

Merdeka bukan berarti kita tidak terikat dengan apapun. Sebagai makhluk sosial, manusia yang memiliki perasaaan maka kita perlu menjadikan kelebihan ini untuk menjadi bijak.

Kita boleh menjadi jiwa merdeka pada hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip baik yang kita anut. Kita bebas menjadi orang yang merdeka atas pilihan-pilihan baik dalam hidup kita. Namun, kita perlu memperhatikan dalam lingkungan beragama dan sosial, kita adalah jiwa yang terikat dengan nilai-nilai agama dan norma dalam masyarakat.

Eits, jangan salah paham. Nilai agama dan norma norma dalam masyarakat ini sejatinya bukanlah suatu hal yang mengekang namun rambu-rambu untuk kita dalam menjalani sejauh apa memaknai kemerdekaan kita sehingga bisa bersikap merdeka dengan tanggung jawab.

Yups!

Hal ini pun berlaku pada diriku ketika menulis. Menulis dalam bentuk dan platform apapun, aku memposisikan diri sebagai pembaca. Dengan begitu, aku bisa merasakan apa kemerdekaanku ketika menulis akan merugikan pembacanya nanti?

Kebebasanku dalam menulis tidak akan berkurang ketika aku memposisikan diri sebagai pembaca selama karakter tulisan itu masih sesuai dengan cerminan diriku.

Apakah hal ini artinya aku tidak menunjukkan sifat asliku? Allah sudah menutup aib kita, jadi perlukah kita mengumbarnya? Tulislah yang baik atau diam.

Blogger Merdeka Versi Aku, Hamimeha Banget!

Bagaimana dengan tulisan "pesanan"?

Aku pernah mendapat pertanyaan serupa di atas.Bagaimana bisa menulis yang "kita" banget sedangkan kita dibatasi oleh aturan menulis dari "pesanan" untuk blog kita. Aku biasanya menyebut dengan blog post.

Blog post bisa berupa review produk, campaign event, bahkan sosialisasi edukasi, dan lain sebagainya. Sebuah artikel yang kita tulis di blog milik pribadi namun mengikuti brief atau ketentuan-ketentuan tertentu.
Sejujurnya, sependek pengalamanku mendapat "job" sebagai blogger aku menerapkan beberapa hal. Beberapa hal tersebut adalah bentuk kemerdekaanku sebagai blogger ketika bekerja. Aku tetap menulis sesuai brief namun tetap bebas menuangkan ide dalam tulisan tersebut.

Dan perlu Sobat Hamim ketahui, brief bukanlah hal yang membatasiku dalam merdeka berpikir dan menuangkan ide sebagai blogger. Tapi, brief adalah panduan agar aku berjalan sesuai koridor. Namun ketika menuangkan ide, aku bebas menuangkan aspirasi untuk menginspirasi.
 

Merdeka Sebagai Blogger Versi Hamimeha

Mengapa aku merasa tetap merdeka sebagai blogger meski menerima "tulisan pesanan"? Jawabannya, ada kriteria yang perlu kita rumuskan untuk mencerminkan kepribadian kita dalam tulisan.

Pertama, bekerja sesuai prinsip baik yang kita yakini

Yups!

Sebagaimana aku sampaikan di atas. Kita boleh menjadi jiwa merdeka pada hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip baik yang kita anut. Artinya, ketika menulis baik itu tulisan organik maupun "blog post" pastikan bahwa tulisanmu berisi tema-tema yang sesuai.

Seringkali, ketika mendapat tawaran job. Aku menyodorkan beberapa tema yang selama ini tidak pernah ada di dalam blogku. Contoh tentang rokok, miras, perjudian, produk simpan pinjam, dan sejenisnya. Meski sebenarnya cuannya cukup besar hahahaa.

Tapi sekali lagi, kita adalah jiwa merdeka atas prinsip baik yang kita yakini. Poin pertama sebagai blogger merdeka versi hamimeha.

Kedua, bebaskan idemu

Yoi, salah satu alasanku memilih platform blog adalah aku bebas berkarya. Ibarat rumah, blog adalah rumah yang bebas aku dekor sesukaku.

Bebaskan idemu
Aku bebas menuangkan karyaku, ideku, bahkan inspirasi visual dengan mendesain template blog sesuai keinginanku. Blogger merdeka versi hamimeha, merdeka mengekspresikan ide.

Bagaimana jika artikelnya pesanan? Oke, mari kita bahas di poin ketiga.

Ketiga, libatkan dirimu melalui pengalaman pribadi

Jika mendapat artikel blog post, hal yang tidak boleh hilang adalah pengalaman. Bagiku, menyisipkan pengalaman pribadi yang pernah kita lalui sendiri merupakan sebentuk kemerdekaan seorang blogger.

Poin ketiga ini mungkin terkesan subyektif, tapi bagiku merdekanya seorang blogger adalah ketika ia terlibat dalam tulisannya. Aku menyebutnya karakter tulisan. Tidak harus benar-benar yang kita alami sendiri, mungkin bisa teman terdekat, atau cerita yang memang didengar oleh kita sendiri.

Keterlibatan kita dalam tulisan, membuat kita lebih akrab dengan pembaca. Tapi catatan dari aku, jangan lebay ya kalo cerita tentang pengalaman pribadi hehehe. Gak semua orang suka disuguhi pengalaman pribadi kita yang terlalu panjang.

Keempat, perkuat karakter tulisanmu

Menyoal karakter tulisan. Hasil pengamatanku selama ini menyimpulkan bahwa karakter tulisan yang kuat menunjukkan kemerdekaan blogger tersebut. Ia bisa mempertahankan dirinya dalam menuangkan ide versi dirinya secara khas.

Salah satu ke-khasan tersebut bisa berupa sapaan akrab. Pembahasan dengan topik yang lebih fokus dan tentunya narasi yang kuat dari si penulis dalam tulisannya. Aku senang sekali jika blogwalking ke beberapa blog langganan jadi juara lomba blog, tokoh, atau blogger yang berkarakter menurutku.

Dari mereka aku belajar, Sobat Hamim. Lalu aku mencoba memperkuat karakter sendiri sebagai blogger dalam setiap postinganku. Meski belum sekece mereka sih hehehe. Catatanku, jangan latah mengikuti trend, sebab sesuatu yang instan itu gak akan bertahan lama.

Ciptakan value-mu sendiri!

Kelima, tegas dalam memilih dan memutuskan

Yups!

Sikap kita sebagai blogger adalah bentuk nyata kita sebagai blogger merdeka. Tak hanya ketika mendapati tawaran job yang tak sesuai prinsip. Namun, hal-hal lain yang bersifat teknis lainnya.

Dan hal teknis tersebut bisa mencederai proses kita ketika menjadi seorang blogger level selanjutnya. Perlu Sobat Hamim ketahui, bahwa dunia blogging juga ada putih, hitam, dan abu-abunya.

Maka, menjauhi hal-hal yang membuat kita buruk sebagai seorang blogger adalah bentuk menjadi blogger merdeka. Termasuk ketika memilih kelas, ikut workshop, mendalami materi tanpa FOMO.

Kita tahu apa yang kita butuhkan dan menjadi prioritas kita sebagai blogger saat ini. Start masing-masing dari kita sebagai blogger tidak sama. Maka, pahami dirimu sebagai blogger tanpa membandingkan dirimu dengan pencapaian blogger lain. Inilah kemerdekaan seorang blogger versi hamimeha.

Nah, dari kelima poin di atas menjadi bloger merdeka ala hamimeha itu apakah ada yang sama dengan Sobat Hamim? Jika iya poin yang manakah?
 

Merdeka Itu Tanggung Jawab

“Dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” Nasihat Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad.

Menyimak nasihat di atas, menyadarkan kita bahwa kebebasan adalah sebentuk tanggung jawab pada akhirnya. Jadi, merdeka itu adalah tanggung jawab.

Pun menjadi blogger merdeka, sudut pandangnya bisa jadi berbeda-beda. Bagiku, menjawab pertanyaan di awal paragraf tulisan ini. Aku ingin menjadi blogger profesional dengan value yang aku tanam. Sebab apa yang aku pilih lakukan saat ini akan ada pertanggungjawabannya kelak.

Nah, itulah catatan kecilku menjadi blogger merdeka ala hamimeha. Semoga ada insight yang bisa Sobat Hamim ambil. Semangat Merdeka!
Hamimeha
Bismillah, lahir di Pulau Garam, tumbuh di kota Santri, menetap di kota Pahlawan., Saat ini suka berbagi tentang kepenulisan-keseharian-dan parenting., ● Pendidik, ● Penulis 11 buku antologi sejak 2018, ● Kontributor di beberapa media online lokal dan nasional sejak 2019, ● Praktisi read a loud dan berkisah, ● Memenangkan beberapa kompetisi menulis dan berkisah, ● Narasumber di beberapa komunitas tentang parenting dan literasi. ●

Related Posts

21 komentar

  1. Sebagai blogger pastinya banyak pilihan yang harus diambil. Salah satunya adalah mengambil pekerjaan blog post atau tidak, kadang di bagian itu kemerdekaan menulis seakaan dirampas, padahal ada kompromi yang bisa diambil dalam melaksanakannya. Ketika job sudah diambil otomatis muncul kewajiban. Tetap semangat menulis ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul..jiwa merdeka tapi bukan berarti tidak terikat dg hal2 baik yg mengatur kita

      Hapus
  2. Setuju kak. Sekarang tawaran job blog macam2 dan kita sebagai blogger wajib selektif serta menolak tawaran backlink yg kategori seram (seperti dari web j*di dll).

    Makasih inspirasinya ya. Aku lagi berusaha membranding ulang sebagai parenting blogger dan bikin ciri khas tulisan.

    BalasHapus
  3. Di dunia ini gak ada yang bener-bener bebas merdeka sih ya..
    Semua diikuti aturan dan konsekuensi.
    Aku setuju bahwa merdeka tetap dengan aturan yang ada, baik tertulis maupun gak tertulis.

    BalasHapus
  4. Setuju dan yang terpenting kita menulis tidak merasa tertekan saja, selama apa yang ingin kita tulis sesuai dengan jalan pikiran kita itu saya rasa menulis akan sangat terasa menyenangkan sekali. Jadi kalaupun ada job ataupun tidak itu tidak akan menjadi tekanan, karena memang kita suka dengan itu.

    BalasHapus
  5. setuju banget sama tulisan di atas. meski kita bebas menulis apa saja di blog namun kita tetap harus ingat kalau kita akan mempertanggungjawabkan tulisan kita tersebut nantinya karena itu memang kalau menulis di blog juga tetap ada aturannya

    BalasHapus
  6. Sebuah etika tak tertulis bagi blogger ya mbak
    Noted banget sih ini
    Emang walau dikatakan merdeka tapi kita punya tanggung jawab dalam kemerdekaan tersebut dengan menyikapi secara bijak
    Beberapa poin di atas aku juga terapi mbak selama ini, namun ada yang belum dan bisa jadi insight buat aku ngeblog sih ini

    BalasHapus
  7. Menarik banget ulasan blogger merdeka ini. Bener banget untuk menulis sesuai yang diyakini. Kalau saya milih nggak ikut lomba paylater atau placement tentang fintech karena ngga cocok sama prinsip walau misal fee/hadiah menggiurkan.

    BalasHapus
  8. Jadi blogger itu memang harus memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri lewat tulisannya ya

    BalasHapus
  9. Aku highligh satu yang bikin tepuk tangan, tidak mengambil produk simpan pinjam!! Keren deh, padahal fee nya gila-gilaan yaa (fee versi brand yaa, buka versi MG haha). tetap konsisten untuk say no itu nggak mudah. Banyak perdebatan, tapi tetap pada pendirian itu nggak gampang.
    Tetaplah pada prinsip blogger merdeka yang tak goyah dengan rupiah ya Bundaa. Aku padamu pokonyaa kalau bicara blogger merdeka.

    BalasHapus
  10. Sepakat, Mbak Hamim. Yang paling nancep itu poin satu. Kita merdeka bekerja sesuai prinsip. Saya juga pernah nolak job yang tidak sesuai prinsip. Ada perasaan nggak enak waktu nolaknya, tetapi akhirnya memberanikan diri untuk menolak.

    BalasHapus
  11. Setuju mbak, merdeka itu bukan bebas semau gue tapi yang bertanggungjawab dan tetap ada etikanya. Mak jleb banget yaa, semoga kita bisa menjadi blogger merdeka yang bertanggungjawab meluapkan segala rasa.

    BalasHapus
  12. setuju banget nih mbak, bebas dan bertanggung jawab, walau kita bisa menulis apa saja di blog tetapi tetap harus menjaga tulisan agar bisa dipertanggung jawabkan isinya dan pastinya berguna untuk orang lain.

    BalasHapus
  13. sangat sepakat sekali, merdeka itu adalah tanggung jawab, kita bisa bebas memilih tapi kita juga harus bertanggung jawab dengan pilihan dan tindakan yang diambil, selamat merayakan kemerdekaannn dan merdeka selaluuuu

    BalasHapus
  14. Setuju dengan kalimat mbak hamim, merdeka itu bukan berarti semau gue tapi harus bertanggung jawab. Suka banget sama infografisnya, bikin mata ga bisa kedip

    BalasHapus
  15. Wah bener banget mbak, harus musti dan banyak belajar lagi aku. Untuk dapat mengimplementasikan sebagai blogger yang merdeka tetapi juga harus bertanggung jawab.

    BalasHapus
  16. Sepakat mbak. blogger merdeka, bebas menuliskan apa isi pikiran dan hati dari peristiwa atau hal yang kita pelajari, tetapi tetap bertanggungjawab, enggak sekedar nulis

    BalasHapus
  17. Merdeka dalam berpikir kritis tapi saat menulis dituangkan dengan bahasa yang ringan dan terkesan nggak nge-judge pihak manapun
    Dan yang pasti menulis sesuai niat awal kita ngeblog, nggak ikut-ikutan trends yang nggak sesuai sama jati diri

    BalasHapus
  18. Bebas bertanggung jawab, meskipun bebas tapi tetap bertanggung jawab atas kebebasannya. Semoga saya bisa bebas bertanggung jawab juga

    BalasHapus
  19. Sangat setuju sekali mba, Bebas dan bertanggung jawab.

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular